Penulis: Fanessyah Arista Viona

Bab 1


 

Agenda terakhir hari ini adalah pembahasan ekspansi proyek di Surabaya.”

Suara salah satu direktur terdengar jelas di ruang rapat Francesca Corporation, namun pikiran Cristhiana Francesca sama sekali tidak berada di sana.

Ia duduk di kursi utama, berbalut setelan hitam elegan tampilan seorang pewaris sempurna. Tapi matanya kosong, menatap layar presentasi tanpa benar-benar melihat angka-angka yang berganti.

 

"Levin Argantara."

 

Nama itu kembali muncul di kepalanya, seperti kebiasaan yang tak pernah bisa ia hentikan. Sudah bertahun-tahun berlalu sejak kehilangannya, namun rasa kehilangan itu tak pernah menua.

 

“Miss Francesca?”

 

Cristhiana tersentak.

“Ah..ya. Maaf,” katanya cepat, menarik napas dan memaksakan senyum tipis. 

 

“Tolong ulangi poin terakhir.”

 

Beberapa orang saling berpandangan, namun tak ada yang berani berkomentar. Mereka tahu, sejak Cristhiana resmi menggantikan ayahnya, ada jarak tak kasat mata yang memisahkannya dari dunia sekitar.

 

Rapat kembali berjalan. Suara-suara formal kembali mengisi ruangan. Namun sekali lagi, Cristhiana tenggelam.

Ia teringat bangku SMP.

Bangku kelas dekat jendela.

Senyum Levin yang selalu muncul pertama kali saat ia datang terlambat.

Kenapa kamu pergi tanpa bilang apa-apa, Levin…

Tangannya mengepal pelan di atas meja.

Rapat berakhir satu jam kemudian.

 

“Kalau begitu, kita cukupkan sampai di sini,” ujar Cristhiana, suaranya tenang dan profesional. 

“Terima kasih.”

 

Para direksi berdiri dan satu per satu meninggalkan ruangan. Saat ruangan mulai kosong, sekretaris pribadinya, Mara, mendekat dengan ragu.

 

“Nona… Anda terlihat lelah. Apakah perlu dijadwalkan ulang pertemuan sore?”

 

Cristhiana menggeleng pelan.

“Tidak. Aku hanya… butuh waktu sebentar.”

 

Mara mengangguk dan pergi, meninggalkan Cristhiana sendirian.

Sunyi.

Di tengah keheningan itu, tiba-tiba muncul nama lain yang lama tak ia sebut.

 

"Demion Scott."

 

Teman masa kecilnya.

Orang yang selalu ada di sisinya sampai suatu hari ia juga menghilang.

Cristhiana menatap jendela besar di ruang rapat. Bayangannya sendiri terpantul samar di kaca.

Sejak Levin hilang… Demion juga berubah.

 

Ia ingat betul hari ketika orang tua Demion datang ke rumahnya, duduk berhadapan dengan orang tuanya dengan wajah serius.

“Demion akan berpindah ke Italia,” kata ayah Demion saat itu.

“Ada urusan keluarga yang harus kami selesaikan.”

Tidak ada penjelasan rinci.

Tidak ada kepastian kapan Demion kembali.

Dan setelah hari itu, Demion benar-benar pergi.

Tanpa pesan. Tanpa pamit langsung padanya.

Sama seperti Levin.

“Kenapa kalian semua pergi…” bisik Cristhiana lirih.

Ia menutup mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Dua orang terpenting dalam hidupnya menghilang di waktu yang hampir bersamaan—meninggalkan ruang kosong yang tak pernah benar-benar terisi.

Cristhiana tidak tahu bahwa kepergian Demion bukanlah pelarian biasa.

Tidak pula tahu bahwa Italia hanyalah jarak, bukan penghalang.

Yang ia tahu hanyalah satu hal:

ia masih menunggu.

masih mencari.

dan masih percaya bahwa suatu hari, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.