Nama Cristhiana Francesca kini terpampang besar di dinding kaca ruang rapat lantai dua puluh tiga. Di bawahnya tertera nama perusahaan yang telah membesarkan keluarganya selama puluhan tahun.
Francesca Corporation
Perusahaan multinasional yang bergerak di bidang properti dan investasi itu kini resmi berada di tangannya. Setelah kepergian sang ayah, Cristhiana yang dulu dikenal tenang dan lembut dipaksa berdiri sebagai penerus, memikul beban yang bahkan orang dewasa pun seringkali tak sanggup menahannya.
Tepuk tangan para direksi menggema, namun telinga Cristhiana terasa berdengung. Matanya kosong, pikirannya jauh melayang pada satu nama yang tak pernah benar-benar pergi dari hatinya.
Levin Argantara. Kekasihnya sejak SMP. Orang yang menghilang tanpa pesan. Orang yang tak pernah berhenti ia cari, meski bertahun-tahun berlalu tanpa jejak.
Tak ada perpisahan. Tak ada kata selamat tinggal. Levin seolah lenyap dari dunia meninggalkan pertanyaan yang terus menghantui Cristhiana setiap malam.
Apakah ia pergi karena takut?
Atau karena ada sesuatu yang jauh lebih buruk dari sekadar kepergian?
Cristhiana tidak tahu.
Dan tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang bisa menjawab.
Di apartemennya yang sunyi, Cristhiana berdiri di depan jendela, menatap lampu-lampu kota yang berkilauan. Setiap sudut tempat itu dipenuhi kenangan yang tak bisa ia lepaskan. Ia masih menyimpan nomor lama Levin. Masih membaca ulang pesan-pesan singkat yang kini terasa seperti peninggalan masa lalu.
Ia belum menyerah.
Tidak hari ini. Tidak juga besok.
Diam-diam, ia terus menyelidiki. Nama Levin Argantara masih ia sebut dalam setiap pencarian, setiap koneksi lama, setiap orang yang mungkin pernah mengenalnya. Baginya, cinta tidak semudah itu hilang begitu saja.
Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di Italia sepasang mata mengawasi layar monitor dalam ruangan gelap yang steril dan dingin. Demion Scott.
Dua tahun ia menjauh. Dua tahun pula ia memilih tidak muncul di hadapan Cristhiana. Bukan karena ia berhenti peduli melainkan karena ia tahu, bertemu sekarang hanya akan membuka luka yang belum waktunya sembuh.
Namun jarak tak pernah benar-benar memisahkan pengawas dari yang diawasi.
Setiap langkah Cristhiana tercatat.
Setiap rutinitasnya terpantau.
Bukan untuk menyentuh. Bukan untuk mendekat.
Melainkan untuk memastikan: dunia tak pernah mengambilnya darinya.
Demion bersandar di kursinya, wajahnya tetap datar, tak menunjukkan emosi apa pun. Tak satu pun orang di luar lingkarannya tahu bahwa pria itu bukan sekadar pewaris biasa. Ia adalah kepala organisasi gelap yang kekuasaannya berjalan di balik bayang-bayang warisan ayahnya yang kini ia kendalikan sepenuhnya.
Levin Argantara hanyalah satu dari banyak keputusan yang telah diambilnya demi satu tujuan:
Cristhiana tidak boleh pergi.
Tidak sekarang.
Tidak pernah.
Dan tanpa disadari Cristhiana, pencariannya terhadap Levin justru perlahan mendekatkannya pada kebenaran yang paling berbahaya dalam hidupnya.