Penulis: Avisa Yasmine Anugrah Pertiwi

KETIKA KESABARAN DIUJI


"Mau nya apa sih?!" ucapku ketika melihat chat dari Ana.

Ana adalah tetanggaku yang sangat dekat denganku, tetapi terkadang sikapnya sering membuatku jengkel.

 

Sore itu, sepulang sekolah, aku sedang mandi sambil memutar musik kesukaanku. Ketika aku sedang asyik bernyanyi, tiba-tiba terdengar dering telepon dari luar kamar mandi.

 

"Kringgg... Kringgg..."

Aku buru-buru menyelesaikan mandi, karena kukira telepon itu dari guruku. Namun ternyata, telepon itu dari Ana.

"Ya ampun... aku kira siapa," ucapku dalam hati sambil sedikit kesal.

 

"HALOO SAA! KAMU LAGI DI MANA SEKARANG???"

Suara Ana dari dalam telepon begitu keras, seolah-olah dia sedang berteriak di telingaku.

"Iya, halo. Aku di rumah, kenapa, Na?"

"Boleh nggak kamu ke rumahku bentar? Aku mau ngomong sama mamaku. Sebentar aja, kok!"

"Iya boleh, bentar ya. Aku baru selesai mandi—"

 

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Ana langsung memotong pembicaraan dan menyuruhku cepat-cepat datang.

 

Dengan rambut yang masih basah dan baju yang belum rapi, aku pun bergegas ke rumahnya. Ana benar-benar membuatku tergesa-gesa!

 

Sesampainya di sana, aku mempersilakannya untuk berbicara dengan ibunya lewat ponselku. Sementara itu, aku memilih menunggu di luar rumah, merasa agak canggung tanpa ponsel di tangan.

Untuk mengisi kebosanan menunggu, aku menatap langit sore yang tampak begitu syahdu. Namun tiba-tiba, suara ibunya memanggilku dari dalam rumah. Aku sempat panik, kukira terjadi sesuatu—ternyata hanya untuk mengembalikan ponselku.

 

Karena sudah menyelesaikan tugasku, aku pun kembali ke rumah. Di sana ternyata telepon dari Ana masih belum dimatikan. Aku hendak meminta izin untuk mematikan ponselnya karena ingin berganti pakaian. Namun, inisiatifku tidak berjalan sesuai harapan. Ana tiba-tiba menutup telepon tanpa mengucapkan terima kasih sedikit pun.

 

Aku heran, mengapa seseorang sering lupa mengucapkan kata dasar seperti “terima kasih” setelah dibantu, atau bahkan saat membantu orang lain. Sambil berganti pakaian dan menyisir rambut, pikiranku masih sibuk memikirkan hal itu.

 

Tiba-tiba, kring... kring...—dering telepon kembali memecah keheningan.

“Kenapa lagi sih?” ucapku sambil menatap layar dan melihat notifikasi dari Ana.

 

“SAA, BOLEH KE RUMAHKU LAGI NGGAK?” masi dengan nada yang begitu keras. 

 

Sebenarnya, aku ingin menolak. Tapi aku tidak punya keberanian untuk menolak orang lain. Pada dasarnya, aku adalah pribadi yang tidak enakan. Akhirnya, aku membalas,

 “Bentar ya, habis ini aku ke rumahmu.”

 

Namun Ana langsung menjawab,

“Aduh, bisa nggak sekarang aja gitu? Ada apa sih kamu?”

 

Saat itu aku hampir terbawa emosi, tapi karena Ana adalah kakak kelasku, aku tetap berusaha sopan.

 

 “Sebentar ya, ini aku otw,” jawabku akhirnya.

 

Sesampainya di rumah Ana, aku menunggu di luar karena merasa tidak sopan jika ikut mendengarkan pembicaraan orang lain. Sekitar sepuluh menit berlalu, sampai akhirnya ibu Ana memanggilku untuk mengambilkan ponsel karena beliau tidak bisa berjalan.

 

Aku pun kembali ke rumah, sambil berharap Ana akan mengucapkan terima kasih padaku. Namun lagi-lagi, dia langsung mematikan teleponnya. Bahkan di chat pun, ia tidak menulis sepatah kata pun.

 

Karena tidak ingin membuang energiku, aku memutuskan untuk menonton drakor. Drakor adalah singkatan dari drama Korea. Judul yang sedang aku tonton adalah Extraordinary You, drama bergenre romantis dan fantasi.

 

Jujur, saat menonton ini aku sering merasa salah tingkah, terutama ketika melihat Ha Ru, pemeran utama yang diperankan oleh Rowoon. Aku menonton sambil menggigit guling dan senyum-senyum sendiri karena terlalu terbawa suasana.

 

Namun, ketika cerita hampir mencapai klimaks, ponselku kembali berdering. Ternyata, notifikasi itu berasal dari Ana. Saat itu aku merasa sangat kesal dan hanya bisa menggerutu dalam hati. Ana kembali mengirim pesan dengan kalimat yang sama, menyuruhku untuk datang ke rumahnya lagi.

 

Dengan wajah cemberut, aku bergegas ke sana, seakan dunia sedang menentangku. Setibanya di rumah Ana, aku kembali menunggu di luar, sama seperti sebelumnya. Kali ini durasinya jauh lebih lama. Sempat terpikir untuk beralasan mengambil ponsel karena keperluan sekolah, tetapi aku masih terlalu takut untuk melakukannya.

 

Mungkin aku menunggu lebih dari lima belas menit sampai akhirnya ibu Ana datang dan meminta maaf karena telah merepotkanku. Setelah itu, aku segera kembali ke rumah sambil memastikan bahwa Ana belum menutup teleponku.

 

Karena masih merasa kesal, aku akhirnya menasihati Ana,

"Ana, kamu bisa tidak kalau sudah dibantu orang, biasakan mengucap terima kasih. Ucapkan terima kasih atas segala bentuk bantuan, itu adalah basic manner."

 

Ana sempat terdengar kaget.

"A-ah iya, Sa. Terima kasih ya, sudah mau aku repotin. Maaf banget kalau perilakuku seperti ini. Aku tidak akan mengulanginya lagi," ujarnya.

 

Aku membalas ucapannya sambil tersenyum,

"Iya, sama-sama. Sampai sini dulu ya."

 

Percakapan kami pun berakhir di situ. Aku merasa lega karena akhirnya bisa menyampaikan hal yang selama ini mengganjal di hati. Kami juga sepakat, jika ada yang salah, sebaiknya langsung ditegur saja agar tidak perlu membicarakannya di belakang.

 

Setelah itu, aku kembali melanjutkan menonton drakor hingga azan magrib berkumandang, lalu meneruskan aktivitas seperti biasanya.