Penulis: Avisa Yasmine Anugrah Pertiwi

CERITA DI BALIK PENCARIAN BAJU WISUDA KAKAK


 

“Tak… tak… tak,” terdengar suara pisau bergerak di atas talenan.

“Adek, makan dulu buahnya sambil ngerjain tugas,” ucap seorang wanita dari arah dapur sambil membawa buah apel yang sudah terpotong.

Sasa segera bergegas ke dapur, pensil terselip di telinga kanannya. Sambil tergesa-gesa, ia mengunyah apel itu dengan lahap. Belum sampai tiga menit, apel tersebut sudah habis tak bersisa.

 

Karena merasa cukup kenyang dengan apel tadi, Sasa kembali melanjutkan tugasnya sambil mendengarkan lagu. Seperti remaja pada umumnya, mengerjakan tugas terasa lebih asik dan chill ketika ditemani musik.

"You’re my ocean, painted blue ~~~" sahut Sasa di kamar dengan lampu hangat menyala. Benar, itu adalah sepenggal lirik dari lagu You! milik LANY. Lagu itu menjadi favorit Sasa sejak ia duduk di kelas 1 SMP. Lagu yang selalu menemaninya, baik saat suka maupun duka.

 

Ia bahkan sering merekomendasikan lagu ini kepada orang-orang terdekatnya. Terlebih lagi, ada seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya dan juga sangat menyukai lagu tersebut. Tak jarang, mendengar lagu itu membuat Sasa kembali teringat pada kenangan lama.

 

 

 

 

Secarik kisah tentang lagu lain milik LANY, yang berjudul Cause you have to adalah di tengah populernya lagu itu, Sasa sempat merekomendasikannya kepada seseorang yang bisa disebut sebagai crush-nya. Saat itu, ia menawarkan dua lagu: Cause You Have To dan You!. Tak disangka, pria itu ternyata menyukainya dan bahkan menambahkannya ke playlist Spotify miliknya.

 

Dengan perasaan gembira, Sasa semakin berani menunjukkan isi hatinya. Namun pada akhirnya, semua berujung pada pintu ketidakberhasilan. Naasnya lagi, lirik lagu dari Cause you have to yang pernah ia rekomendasikan rupanya relate dengan kisah cinta-nya. Dari kisah singkat itu, Sasa menyadari satu hal: tidak apa-apa menaruh seseorang dalam sebuah lagu. Justru, dari sanalah kita bisa tersadar bahwa kenangan boleh saja berlalu, tetapi akan tetap abadi.

 

Tiba-tiba lagu itu berhenti. Sambil mencoba mengganti lagunya, terdengar suara motor yang baru saja terparkir di teras rumah. Dengan rasa penasaran, Sasa mengintip melalui jendela.

 

"MAMAAAAAAAH, AKU PULAAANGGGG!"

 

Suara seorang perempuan yang belum sempat melepas helmnya terdengar begitu kencang memenuhi seisi rumah.

 

"Ya ampun, kok tumben udah pulang sih, Kak?" ucap Mama sambil menghampiri putrinya.

 

Aku menghela napas pelan, sembari mendengarkan percakapan antara ibu dan anak itu. Rupanya, kakakku pulang untuk bersiap mencari baju wisuda bersama keluarga.

 

Dari percakapan itu, aku sontak tertawa gembira. Akhirnya, keluargaku bisa jalan-jalan lagi, meski hanya sekadar mencari baju. Aku merasa sangat senang apabila keluar dengan keluargaku, karena momen indah 

 

  tercipta dari kerhamonisan mereka. Kebetulan sekali jam daring baru saja selesai, jadi aku bisa beristirahat sejenak sambil menonton drama Korea yang sedang booming, yaitu Love Untangled—sebuah film dengan campuran kisah romance dan slice of life yang sukses membuatku salah tingkah. Hahaha!

 

Dari film ini, aku menyimpulkan bahwa mencoba menerima orang yang menyukai kita bukanlah hal yang salah. Itu jauh lebih baik daripada harus menyiksa diri demi seseorang yang bahkan hatinya belum tentu untuk kita. Dari sini pula aku belajar untuk menerima diri sendiri tanpa harus selalu mengikuti kata orang lain.

 

Jujur, film ini sangat bagus. Bukan hanya berisi percikan cinta antar pasangan, tetapi juga menampilkan dukungan tulus dari para sahabat. Aku hanya bisa berharap, semoga suatu hari nanti aku bisa menemukan sosok Yoon-Seok di kehidupan nyata. 

 

Setelah asyik menontin film tersebut, aku bergegas untuk bersiap diri karena keluargaku sudah memanggil ku sejak tadi. Aku sholat dzuhur terlebih dahulu, lalu mandi dan memakai baju.

 

Disini kericuhan antar anggota keluarga pun tak luput dari permasalahan kecil seperti menyiapkan air putih, lalu kaus kaki yang hilang entah kemana. Setelah melewati beberapa episode kericuhan rumah tangga, akhirnya terdengar lantunan suara motor berwarna ungu ke pink-an dan putih serta disusul dengan sang ibunda tercinta yang membukakan pagar rumah.

 

Klakson menyala, matahari terik terbit dari timur, panas kota Sidoarjo ber-radius di atas rata-rata diiringi oleh gemercik keringat para pengendara. Sampailah di toko yang menyediakan baju wisuda atau hanya sebatas lebaran kain yang tertata rapi di rak bermodel vertikal.

 

Memilah serta memilih terjadi di setiap sudut ruangan, lagu khas toko dinyalakan dari setiap sisi. Perbincangan antara keluarga, teman atau bahkan pacar bisa didengar di telinga baik kiri maupun kanan. Aku tersajuk, heran. Bagaimana mereka bisa memilih satu baju dari banyaknya baju-baju cantik? Apa mungkin mereka hanya memilih acak yang ada di depan mata tanpa adanya rasa suka atau sudah mengidam-idamkan dari hari-hari yang lalu?

 

Belum sempat terjawab semua, suara kakak-ku terdengar dari sudut kanan. Ia ingin aku memberikan komentar terhadap baju kebaya dengan model simpel yang cocok dipakai dari masa ke masa. Ya, aku menoleh lalu tersenyum. Melihat kakak-ku mencoba kebayanya dengan gembira.

 

Disitu juga, seorang laki-laki yang usianya hampir setengah abad atau bahkan sudah, tengah tersenyum ke arah kami. Itulah ayahku, seorang laki-laki yang turut serta hadir untuk meriahkan hari spesial yang tak bisa dirasakan setiap hari.

 

Gerakan tangan yang memegang gaun dari ujung kanan hingga kiri masih berlanjut, mamaku memilihkan baju dengan cermat dan teliti. Tak hanya aksesoris gaun saja, dari kain-nya pun diperhatikan, kata beliau sih gapapa mahal, yang penting nyaman dipakai. Mungkin perspektif itu banyak terjadi di kalangan banyak orang, karena bukan hanya tampilannya saja menarik atau bahkan warnanya, melainkan harus dari isi dalamnya.

 

Matahari tengah melewati perjalanan indahnya untuk menyusuri lautan angkasa, manusia hanya menyaksikan tenggelamnya secara perlahan seakan-akan ditelan oleh sebuah kepalsuan, menandakan hari sudah melewati pagi yang panjang. Begitu terlihatnya cuaca yang sudah memasuki sore hari.

 

 

 

Dengan segera kami mengakhiri kegiatan berbelanja, bukan karena apa tetapi tas sudah digenggam dengan isi tumpukan rapi baju berwarna pink itu. Hanya tersirat kata lapar, dasarnya perutku sudah meronta dari berangkat tadi. Usulku berakhir dengan kata setuju yang meminta untuk berbelok ke warung pinggir jalan dengan spanduk makanan favoritku, mie ayam.

 

Pertarungan antara sendok dan garpu bisa terdengar hanya dengan telinga telanjang, serta seduhan es jeruk dengan embun di pinggir-pinggir gelas. Belum sempat selesai makan, ada seorang anak kecil yang berusaha membantu ekonomi keluarga dengan berjualan jajanan di setiap warung. Lelah yang memenuhi benak berujung jajanannya jatuh di lantai, tetapi karena keringat yang jatuh lebih banyak daripada rasa sakit akibat jatuh, akhirnya dia tetap bangkit untuk merapikan semua jajanannya, dibantu oleh keluargaku.

 

Tak perlu diceritakan bagaimana untuk membuat anak itu senyum, entah dengan membeli dagangannya atau memberi beberapa lembar uang. Hal terpenting adalah bagaimana anak ini bisa tersenyum tanpa membawa dirinya lelah karena pekerjaan yang seharusnya tak ia lakukan.

 

Aku sempat marah, dan aku pun setuju statement bahwa seharusnya banyak anak bukan berarti banyak rezeki, boleh memiliki lebih dari dua anak asalkan cukup dalam segi materi maupun batin. Setiap anak berhak mendapatkan hal yang sudah seharusnya ia punyai, tak hanya memiliki waktu bermain yang cukup tetapi juga dalam bentuk kasih sayang yang cukup.

 

Melihat anak itu melangkahkan kaki pergi menjauh dari jangkauan mata, sontak mangkuk yang tersusun rapi pun bersih tak tersisa. Karena sudah dirasa kenyang, perjalanan pun dimulai lagi dengan cuaca yang syahdu disertai kesibukan antar manusia yang tengah melanjutkan aktivitas sehari-harinya.

 

Tingkungan sudah dilewati, hanya tersisa jalan lurus yang pinggirnya sudah dipenuhi rumah warga, sampailah di rumah sekitar pukul 17.00. Semua pikiran tertuju kepada istirahat, aku bereskan semua keperluanku.

Satu... Dua... Tiga, CTAKKKK!

Bunyi lampu dimatikan, sudah selesai perjalananku hari ini, hanya tersisa waktu untuk mengisi energi kembali.

Sampai ketemu di kisahku selanjutnya