Di rumah sakit orang tua Sehwan sedang meratapi kepergian anak satu-satunya. Ibunya menangis kencang didalam peluk suaminya, di depan mereka terbujur tubuh tidak bernyawa milik Sehwan yang tertutup selimut rumah sakit. Dua hari kemudian, keluarganya sedang menaburkan abu milik Sehwan di tepian laut sambil mengenakan pakaian berwarna hitam. Beberapa guru juga turut datang ke acara itu.
Sementara itu, Sehwan berada di suatu tempat, tempat itu gelap lembab dan tidak ada cahaya sama sekali, dia kebingungan, tidak ada jalan keluar, tempat itu terasa hampa.. sangat hampa hingga tidak ada suara sedikitpun, keheningan itu memekakkan telinga. Dia mencoba berteriak tetapi suaranya seperti tidak pernah keluar, dia mencoba lagi, kali ini dia berteriak lebih keras menggunakan seluruh tenaga yang tersisa dalam dirinya, tetapi tetap tidak mendengar apapun, bahkan suaranya sendiri tidak terdengar. Dia mulai merasa takut, takut akan tempat itu, takut karena tidak bisa merasakan apapun di tempat itu, bahkan tubuhnya sendiri. Dia mulai menangis sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya yang tidak bisa ia rasakan. Setelah apa yang terasa seperti selamanya, dia akhirnya berhenti membagis. Setelah ia kembali tenang, dia berpikir untuk berjalan menyusu tempat itu, berharap menemukan jalan keluar.
Dia berjalan menyusuri tempat itu sambil menghitung setiap langkahnya. Seperti apa yang terasa seperti selamanya, dia tetap berjalan tetapi tidak kunjung menemukan apapun.
Dia berpegang teguh pada harapannya untuk bisa keluar dari ruang hampa yang terasa seperti neraka tanpa ujung itu.
Dia berjalan dan terus berjalan tetapi rasanya seperti dia hanya berjalan dan terus berjalan tanpa arah. Seiring berjalannya waktu yang telah dihitungnya Sehwan tersadar bahwa semua ini tidak ada gunanya. Ketika dia terus mencoba dan menggunakan cara apapun, timbulnya rasa putus asa, kesal, dan marah karena dia pikir tidak ada harapan baginya.
Sehwan yang terjebak dengan tidak sengaja di ruang kegelapan bagaikan neraka itu berfikir dan terus berfikir. Seketika cahaya lembut datang dari ekor mata yang putus asa. Tapi, untuk mendekati cahaya yang bagaikan harapan terakhir itu butuh perjuangan yang besar, sama halnya dengan ia berjalan tanpa ujung di ruang kegelapan itu. Seketika Sehwan mulai termotivasi untuk terus mengikuti cahaya tersebut.
Sehwan berdiri dan mulai melangkahkan kakinya itu dengan harapan bisa keluar dari kegelapan tersebut. Ia mulai melihat cahaya itu semakin dekat akan tetapi, Sehwan menyadari bahwa semakin dekat ia dengan cahaya itu, semakin banyak pula bayang-bayangan masa lalu yang menghantuinya.
Seketika bayang-bayangan itu mencoba untuk menariknya untuk tetap kembali di dalam kegelapan. Kegelapan itu mengingatkannya akan semua penyesalan yang pernah ia alami.
Sehwan yang kala itu hampir menyerah untuk mendekati cahaya tersebut, ia mulai teringat apa tujuan utama yang di miliki. Tujuan utama yang belum pernah tercapai olehnya pasti akan tercapai olehnya. Melindungi orang-orang yang ia sayangi ialah tujuan utamanya.
Dengan sekuat tenaga ia harus mewujudkan tujuan itu dengan melawan semua bayang-bayangnya sendiri. Lalu, ia terus melanjutkan perjalanan menuju ke cahaya lembut yang menyinari ekor matanya. Setelah sekian lama ia berusaha, Akhirnya, ia berhasil mencapai cahaya tersebut. Sehwan masuk ke dalam cahaya tersebut dan beberapa saat kemudian dia terbangun di sebuah reruntuhan rumah di tengah padang gurun yang sangat luas.
Dia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum terduduk dengan perasaan kaget dan tidak percaya. Sehwan melihat sekeliling tetapi hanya menemukan hamparan pasir yang luas, ia berdiri berlahan dan berjalan menyusuri padang gurun itu. Setelah 3 jam lamanya berjalan di bawah terik matahari tanpa air minum, sehwan akhirnya pingsan karena dehidrasi yang parah. Setelah beberapa saat ia akhirnya kembali tersadar, di kelilingi beberapa orang yang tidak ia kenal, mereka sedang sibuk berbicara kepada satu sama lain, saat salah satu dari mereka memperhatikannya bangun dan segera mendekatinya “hei, kau.” Kata pria itu dengan nada curiga menarik perhatian beberapa rekannya. Sehwan tidak menjawab dan hanya menatapnya sambil menelan ludah. “kau ini siapa? Kenapa warga sipil seperti mu berada di sini? “ tanya pria itu sambil menyilangkan tangan di depan dada. “aku... aku Sehwan, aku tidak tau..saat terbangun aku sudah berada di sini” kata sehwan pelan pria itu terlihat semakin kesal “cih, bagaimana bis kau tidak tau.” kata pria itu sambil mendengus, Sehwan hanya bisa terdiam “omong-omong kenalkan namaku Elion”
Sehwan mendengarkan nama itu, nama itu seolah tak asing bagi telinganya. “Elion? Kau...?” Sehwan terlihat sangat kebingungan, Elion yang mendengar hal itu pun bertanya-tanya. “ada apa? Kenapa kau terlihat kebingungan seperti itu?” tanya Elion pada Sehwan yang masih menatap kosong ke kakinya. “Aku... seperti pernah mendengar nama itu. Siapa kau sebenarnya? Kenapa juga aku bisa disini?” ucap Sehwan dengan nada yang makin kebingungan. “Huh.. terserah kau saja, entah mengenalku atau tidak, aku tidak peduli” ucap Elion dengan nada yang sangat ketus.
“Daripada kau bingung aku ini siapa, lebih baik kau mengikuti ku.” Ucap Elion dengan mata tajam yang menuju pada Lee Sehwan.
“Dan kenapa aku harus?” tanya Sehwan dengan nada yang tak kalah ketus dengan pria di depannya itu. “Hohoho, mulai marah, ya? Ikuti aku, jika kau ingin selamat dari para demon.”
Lee Sehwan mengikuti Elion dengan perasaan yang belum sepenuhnya percaya kepada pria itu. Ia hanya terus diajak berjalan yang ia kira hanya memutari tempat yang sama tanpa adanya tujuan, setelah 10 menit berjalan, Sehwan mulai merasa sangat kesal pada pria di depannya itu. “Kau sebenarnya niat mengajakku kemana sih? Kita daritadi hanya memutari tempat yang sama tanpa tujuan, apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Sehwan yang makin tak percaya pada pria itu. “Jangan sok tahu, goblok. Kalau kau tidak tahu, mending diam aja bisa tidak?” balas Elion. “Tidak bisakah kau menjelaskan padaku, siapa kau sebenarnya? Kemana kita akan pergi?” Kali ini, sehwan ikut keras kepala dan tak mau kalah. “Apa kau tidak mendengarkan aku? Cukup diam dan ikuti aku?” kata Elion dengan nada ketus. Semakin lama mereka berjalan, pemandangan di depan bukan lagi. Perlahan tapi pasti, langit gelap berwarna biru mulai terlihat, seolah mereka tak bisa menghindari sang biru gelap di malam hari itu. Sehwan mulai diam, ia mulai merasa kagum dengan apa yang ia lihat, tetapi hatinya tak berhenti bertanya, dimana sebenarnya dirinya ini? Sampai akhirnya.. semuanya terlihat. Pemandangan itu sangat indah, walaupun di sana terlihat malam, namun.. masih ada beberapa orang yang berlalu-lalang sambil memegang sebuah tapi yang mengikat leher kuda. Disana, sangat banyak istana indah yang menurutnya semakin lama ia memandang, semakin tak nyata pula kelihatannya.