Di suatu malam yang gelap saat kota besar itu sedang ter tidur, seorang lelaki bernama Lee Sehwan sedang duduk menghadap komputernya. Bunyi klik lembut terdengar dari keyboardnya saat ia sedang mengerjakan suatu projek penting yang berkaitan dengan hobinya. Anak itu terlihat sangat serius menghadap layar komputernya sebelum perhatiannya teralihkan oleh jam analog yang menunjukkan sudah lewat pukul 12 malam.
Bukannya semakin mengantuk Lee Sehwan malah semakin semangat untuk mengembangkan gamenya, ia bahkan terlihat sangat berseri-seri saat mengembangkan projek gamenya itu. Berjam-jam pun berlalu, hingga akhirnya sang cakrawala menampakkan dirinya.
Di dalam ruangan yang dia sebut megah itu, tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah istana seorang introvert, dia sedang meregangkan tubuhnya untuk melepas letih dari aktivitas yang ia lakukan semalaman. Tiba-tiba terdengar suara sang ibu yang memanggilnya untuk pergi mandi dan sarapan “Sehwan, ayo mandi nak, selepas itu kita sarapan bersama.” kata sang ibu sambil mengetuk pintu kamarnya dengan pelan.
Sehwan yang sedang duduk di kursi gamingnya menjawab dengan nada malas “iya, sebentar lagi aku keluar kamar Bu” katanya sambil kembali bersandar di kursinya “malasnyooo~” gumamnya sambil menguap. Tak menunggu 5 menit, ia keluar kamar dengan lazy eyes nya yang semakin terlihat mengantuk karena tidak tidur semalaman. Ia berjalan menuju kamar mandi dengan terkantuk-kantuk.
Ia masuk ke kamar mandi sebelum menutup pintu dan mulai menanggalkan pakaiannya, ia melangkah ke bawah shower, ia menyalakan jet shower dan air segera membasahi seluruh tubuhnya. Tubuhnya terasa sangat rileks disaat air hangat membasahi kulit putihnya. Sembari mandi, ia termenung akan satu hal; program game yang ia buat.
Ia memikirkan tema dari game yang ia kembangkan. “Apa yang harus aku terapkan kedalam game ini, ya? Hmm” gumamnya sembari mengoleskan sabun di sekujur tubuhnya, “Oh aku tahu, tema kerajaan yang diserang oleh para iblis. Mungkin itu akan sangat menarik?” ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Lalu tak lama kemudian, ia akhirnya selesai mandi.
"Huh... segarnya” gumamnya sembari melilitkan handuk di pinggulnya, ia keluar kamar mandi dan menuju ke lantai 2, tempat kamarnya berada. Ia berganti baju menjadi seragam sekolahnya, setelah berganti pakaian menjadi seragam, ia keluar kamar dan menuju lantai 1 untuk melakukan sarapan bersama kedua orang tuanya di ruang makan. Semua sarapan sudah disiapkan ibunya. Sang ayah datang dari lantai 2, mengenakan kemeja putih dengan dasi hitam formal, bersiap untuk kerja, namun sebelum berangkat, beliau meluangkan waktu untuk sarapan bersama keluarga kecilnya.
Mereka semua sarapan, sang ayah memuji masakan istrinya “Istriku selain cantik, pintar memasak juga yaa. Sangat enak” ujar sang ayah sambil mengecup kening sang ibu. Sehwan yang mendengar dan menyaksikan keromantisan kedua pria dan wanita paruh baya itu diam-diam bergidik geli, ia tak kuasa menahan rasa geli sekaligus ngeri melihat ayahnya yang bertindak seperti itu di depan putranya.
“Bagaimana rasanya nak? Bukankah ini makanan favorit mu?” tanya sang ibu pada remaja berusia 18 tahun itu dengan nada yang sangat lembut “enak, bu. Aku sangat menyukainya” ucap Sehwan dengan nada datar, ayah dan ibunya yang mendengar itu hanya tersenyum lembut. Setelah beberapa saat berbincang kecil, Sehwan akhirnya selesai dengan makanannya, ia berpamitan pada kedua orang tuanya untuk pergi ke sekolah.
“Ayah, ibu, Sehwan ingin pergi ke sekolah sekarang.” ujarnya sembari mengangkat tasnya dari kursi yang ia duduki. “Iya, nak. Hati-hati saat berangkat, jangan berlari, santai saja. Kamu masih punya banyak waktu.” Jawab sang ayah, sementara ibunya hanya mengangguk dengan wajah tersenyum sambil berkata “Iya, hati-hati nak...”
Sehwan memakai sepatu dan langsung berangkat menuju sekolahnya, sekolahnya tidak begitu jauh, jadi ia bisa berjalan kaki sembari olahraga. Kesempatan emas untuk berolahraga bagi dirinya yang malas. Tak sampai 10 menit, ia sudah sampai didepan gerbang sekolahnya, sekolahnya ialah sekolah elite, hanya dimasuki oleh anak-anak terpilih.
Ia masuk dengan sangat santai, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana nya, membuat beberapa perempuan tertarik untuk melirik, lirikan mereka tersirat sesuatu yang kagum dan bertanya-tanya seperti.. “siapa dia? Aku tak pernah melihatnya, dia sangat tampan.” Kira-kira seperti itu isi hati para perempuan di sekitarnya ketika melihat penampilan nya yang agak berbeda dari biasanya, hari ini ia tak menata rambutnya, jadi ia pergi ke sekolah dengan rambut yang acak-acakan.
Ia menuju lift dan menekan tombol lantai 4, kelasnya ada disana, di lantai paling atas. Ia sampai di depan pintu kelasnya yang tertutup, terdengar suara ricuh dari dalam kelas, seperti biasanya.
Ia masuk dengan wajah acuh tak acuh dan sangat datar, Teman-teman yang biasa membully nya, menghampiri Sehwan dengan senyum menantang. “Oi bocah nolep, kasiin duit lu ke kita sini. Laper nih kita, belom makan.” Ucap salah satu dari mereka, bernama Park Shuyoeng, Shuyeong julukan “Si tampan yoeng” ia juga ketua dari geng pembully ini.
Sehwan yang lagi-lagi diganggu oleh teman kelasnya sendiri terpaksa menuruti apa yang mereka mau. Sehwan memberikan uangnya, memiliki nominal yang cukup besar, namun salah satu perempuan, kekasih dari si ketua geng pembully, bernama Kim Mira membentaknya dengan tidak sabaran “DUH! LU TUH MISKIN YA? Masa ngasi Cuma segini? Inimah uang jajan sehari-hari gue, mana cukup buat kita berlima? Kocak lu.”
Selanjutnya datang Bapak/Ibu guru ke kelas mereka. Hari itu bertepatan dengan mata pelajaran favorit Sehwan yaitu Sejarah. Sehwan yang biasanya terlihat senang dengan mata pelajaran favoritnya sekarang mulai terlihat acuh tak acuh dengan apa yang terjadi padanya waktu dia sampai di kelas.
Sehwan berbicara di dalam hatinya “Ck, kenapa sih dua orang itu (Park Shuyoeng dan Kim Mira) selalu mengganguku? Padahal kalau mereka tenang juga bakal aku kasih duitnya”. Akhirnya, setelah pembelajaran tersebut tibalah bunyi yang di nantikan para siswa dan siswi, tak lain dan tak bukan ialah bel istirahat. Suara dari bel tersebut membuat seluruh siswa dan siswi untuk segera mengisi alarm yang berbunyi di dalam tubuh mereka menuju kantin sekolah.
Sehwan yang mendengar bel tersebut juga sama seperti Akhirnya nsiswa dan siswi yang lain, ia bergegas menuju kantin untuk mengisi perutnya yang lapar. Setelah sampai, Sehwan melihat banyak sekali siswa/siswi yang mengantri. Mereka berbaris dengan rapi dan mengambil makanan dengan lauk sesuka hati, tapi perlu diingat untuk mengambil porsi sewajarnya.
Untungnya Sehwan berada di barisan tengah, jadi ia tidak perlu menunggu terlalu lama. Lalu sa’at tiba gilirannya untuk mengambil makan. Belum sempat ia maju untuk mengambil secarik nasi, tiba-tiba rombongan geng pembuly itu datang menyalip Sehwan.
Mereka menggertak Sehwan “Apa Lo liat-liat? Gasuka?.” Sehwan hanya bisa bergidik diam, tapi di lubuk hatinya paling dalam penuh dengan makian untuk pembuly itu. Setelah pembully itu pergi ke meja kantin, tibalah giliran Sehwan mengambil nasi dan lauk pauk. Saat mengambil nasi Sehwan melihat ada lauk favoritnya.
Hati yang semula kesal, benci, dan penuh makian itu langsung menggebu-gebu ketika melihat kerang hijau yang sudah di masak dengan bumbu khas ala ibu-ibu kantin “AKHIRNYA... lauk ini ada di kantin sekolah, biasanya hanya mama yang memasaknya.”Dia mengambil lauk tersebut dengan gembira sambil melihat-lihat meja yang kosong yang berada di pojokan. Akhirnya dia menemukan meja yang ada di kiri paling pojok, dia berjalan menuju ke meja tersebut untuk menyantap makan siangnya.
Tapi dia tersadar bahwa dia belum mengambil sendok dan garpu yang ada, dia pun pergi menuju ke tempat alat makan tapi naasnyaaa... para geng pembully itu sudah selesai menyantap makanannya, lalu mereka melihat bahwa Lee Sehwan sedang mengambil alat makan yang ada di seberang kanan, mereka mulai menghampiri Lee Sehwan dengan maksud untuk mengganggunya. Saat mereka tiba di belakang, mereka mulai mendorong Lee Sehwan dengan keras sampai alat makan berjatuhan dengan suara yang sangat keras. Namun, Lee Sehwan tak dapat berkutik dan hanya bisa terdiam sambil merutuki nasib, walaupun di dalam hatinya ia sedang mengutuk para pembully itu. Di dalam hati dia berkataka “dasar para bed*bah sial*n, lihat saja akan ku balas perbuatan keji kalian. B*jingan busuk”.
Orang – orang pun menatap Sehwan dengan tatapan kasihan. Sehwan yang sedang berada di kantin sekolahnya pun melihat sekeliling, orang-orang menatap dengan kasihan. Banyak juga yang berbisik “kasihan banget ya?, padahal rupa wajahnya tampan”.
Lee Sehwan hanya bisa terdiam, ia merasa marah serta malu. Ia akhirnya menghiraukan mereka, hanya berkata ‘malasnyooo~’ di dalam hatinya sembari ia berjalan ke kamar mandi sekolah untuk membersihkan diri. Setelah ia mencuci muka dan membasuh rambut, ia kembali ke kantin untuk menghabiskan sisa makanan yang tidak tercecer.
Ia terus di tatap penuh iba oleh orang-orang di kantin, seolah Sehwan adalah seorang yang sangat menyedihkan. Lee Sehwan benar-benar acuh, karena ia sendiri sudah terbiasa ditatap seperti itu oleh orang-orang di sekitarnya. Sehwan hanya bisa diam dan melanjutkan makan, yang tersisa di piringnya hanya 5 buah kerang.
Ia membuka cangkang kerangnya dengan pelan-pelan, lalu mulai makan dengan tenang. ‘Enak banget woila' pikirnya ketika makan. Namun seiring ia menyantap makanan, rasanya semakin aneh, lalu isi dari kerang itu juga lumayan sedikit menghitam.
Ternyata kerang yang dia makan adalah kerang yang sudah busuk, lalu dia tersadar bahwa makanan yang telah ia makan ini, telah mengalami pembusukan secara alami. Itu membuatnya shock, apalagi kerang adalah makanan favoritnya. Tiba-tiba dia merasa sangat pusing, dunia di sekitarnya mulai berputar saat perut nya terasa sangat sakit.
Dia terjatuh bersama kursinya dan mulai terbatuk-batuk dengan hebat. Dia berguling sambil mencengkram tenggorokannya yang terasa seperti terbakar pandangannya berlahan buram saat dunianya masih berputar. Beberapa orang di sekitar hanya menatapnya dengan tatapan jijik, dan prihatin tetapi tidak ada yang berani bergerak untuk membantunya.
Berlahan tapi pasti matanya mulai semakin buram dan akhirnya dia menutup matanya dan tubuhnya tidak bergerak. Para guru baru saja menerima informasi itu dan segera menelepon ambulan. Setibanya ambulan di sana, para medis segera berlari menerobos kerumunan untuk menyelamatkan Sehwan, tapi semuanya sudah terlambat. Tubuhnya terbujur kaku, kulitnya terasa dingin dan hidungnya tidak lagi bernafas.