Penulis: Anafi Sensei

CERITA


Perjalanan Sang Pecinta Ilahi

(Shalahuddin Al Ayyubi, S.Pd.I)

 

Di sebuah desa kecil di kaki gunung yang sunyi, hiduplah seorang sufi bernama Khalil. Wajahnya teduh, matanya memancarkan kedamaian yang mendalam, dan hatinya adalah wadah bagi cinta yang tak terhingga kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Sejak muda, Khalil telah menempuh jalan tasawuf, sebuah jalan sunyi menuju kedekatan ilahi.

Bagi Khalil, ibadah bukanlah sebuah transaksi. Ia tidak berpuasa untuk mendapatkan hadiah berupa surga yang mengalir sungai-sungai madu, pun ia tidak salat malam karena gentar akan siksa api neraka yang membara. Motifnya jauh lebih murni, sesederhana embun pagi yang jatuh: CINTA.

"Bagaimana aku bisa berdagang dengan-Nya?" gumamnya suatu malam di mihrabnya yang sederhana, diterangi hanya oleh sebatang lilin. "Jika aku menyembah-Nya karena mengharap surga, maka aku adalah seorang buruh yang menuntut upah. Jika aku menyembah-Nya karena takut neraka, maka aku adalah seorang budak yang ketakutan. Padahal, aku ingin menjadi kekasih yang melayani tanpa syarat, hanya karena keindahan dan keagungan-Nya."

Pandangan inilah yang membentuk seluruh hidup Khalil. Salat baginya adalah pertemuan mesra dengan Kekasihnya, sebuah kesempatan untuk berbisik di hadapan-Nya tanpa perantara. Puasa adalah latihan rindu, mengosongkan diri dari segala hasrat duniawi agar hanya rindu Ilahi yang mengisi ruang hatinya. Zikirnya adalah nyanyian cinta yang tak pernah putus, mengalir dari lisannya hingga ke inti jiwanya.

Suatu hari, seorang murid bertanya, "Guru, mengapa engkau tidak pernah menyebut-nyebut tentang kenikmatan surga dalam ceramahmu?"

Khalil tersenyum lembut. "Nak, surga adalah ciptaan-Nya yang indah, hadiah yang sangat berharga. Tapi, apakah seorang pecinta sejati akan mencintai hadiah lebih dari Sang Pemberi Hadiah? Wajah Kekasihku adalah surga terbesarku. Jika aku diizinkan untuk melihat-Nya tanpa hijab, meskipun setelah itu aku dilempar ke neraka, maka pertemuan itu sudah cukup bagiku."

Perjalanan spiritual Khalil adalah perjalanan pemurnian niat yang tiada henti. Ia hidup dalam kesadaran bahwa segala sesuatu baik kenikmatan maupun penderitaan adalah isyarat dari Allah. Ia menerima takdir dengan sukacita dan kepasrahan total (rida), meyakini bahwa di setiap ketetapan tersembunyi hikmah dari Cinta yang Maha Sempurna.

Cinta tulusnya inilah yang membebaskan Khalil dari ikatan dunia dan dari belenggu harapan serta ketakutan pribadinya. Ibadahnya menjadi murni dan utuh, sebuah persembahan jiwa dari seorang hamba yang telah menemukan arti tertinggi dari eksistensi: kembali kepada Sumber Cinta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TIMBANGAN YANG TERDIAM

(Choiridah Ayu Setya Ningrum, S.Pd)

 

Cahaya keadilan seharusnya bersinar secerah matahari pagi, menjangkau setiap penjuru negara tanpa diskriminasi. Namun, sering kali ia hanya tampak sebagai kunang-kunang ditengah badai, cahayanya lemah dan mudah padam oleh angin kekuasaan. Bagi mereka yang berada di puncak menara, hukum hanyalah sekumpulan kata yang fleksibel, dapat dibentuk sesuai dengan kepentingan yang mendesak. Sementara itu, dalam keheningan lembah, air mata orang-orang miskin mengalir deras, mengikis batu kepasrahan karena suara mereka terbungkam oleh ketidakpedulian yang mendalam.

Timbangan dewi yang semestinya seimbang kini tampak miring, salah satu sisi dipenuhi emas dan janji kosong, membuat bagian yang seharusnya ringan menjadi berat. Kebenaran, yang laksana embun pagi yang bersih, kini terperangkap dalam jaringan birokrasi yang kompleks dan lengket. Mereka yang mengayuh perahu dalam perjalanan hidup dengan jujur sering kali terhalang oleh pusaran air keruh dari fitnah dan intrik, sementara kapal-kapal besar yang menanggung dosa berlayar bebas di lautan yang tenang tanpa terganggu oleh badai.

Namun, semangat keadilan adalah akar yang tak akan mati dengan waktu, meskipun daunnya layu dan rantingnya patah. Walaupun fajar terasa jauh, selalu ada harapan bahwa suara kebenaran akan lebih nyaring dibandingkan dengan gemuruh kebohongan. Suatu saat, tirai besi yang menutupi wajah keadilan akan dibuka, dan setiap orang akan menemukan perlindungan di bawah pohon hukum yang lebat dan adil, di mana semua dapat menikmati buahnya, bukan hanya mereka yang memiliki kunci untuk membukanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SARANGAN

(Kentuk Wahyuningsih, S.Pd)

Sarangan.....mendengar istilah sarangan, kita akan tertuju pada suatu benda tepatnya peralatan dapur yang dipakai untuk menanak nasi. Tapi sarangan yang dimaksud disini adalah suatu telaga yang terletak di kelurahan sarangan kabupaten magetan Jawatimur.

Telaga sarangan merupakan salah satu destinasi favorit kluarga.untuk perjalanan kesana bisa ditempuh dengan mobil dengan jarak tempuh sekitar 190 km atau sekitar 4 jam perjalanan.

Sarangan merupakan suatu danau kecil dengan luas sekitar 30 hektar.suasana sejuk dengan suhu kisaran 15-20 ⁰c. berjajar disekelilingnya   pohon pohon pinus yang menjulang tinggi

Telaga ini dikelilingi oleh hotel juga tersebar sentra  kuliner,sayur juga buah, kuliner khasnya adalah nasi pecel.

Di area telaga juga tersedia berbagai permainan air diantaranya adalah sepeda bebek, perahu bot dan kuda untuk berkeliling danau.

Ayo...kita habiskan waktu akhir pean disana 🌹🌹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suara dari Langit

(Dra. Luluk Fauziyah)

 

Aku terbangun di tengah malam, terdengar suara yang lembut memanggil namaku. "Luluk... Luluk..." Suara itu terdengar seperti bisikan angin, tapi aku tahu itu bukan angin.

Aku bangun dari tempat tidur, mencari sumber suara itu. Tapi tidak ada siapa-siapa. Aku merasa sedikit menakutkan, tapi kemudian aku mendengar suara itu lagi. "Luluk, jangan takut. Aku adalah malaikatmu."

Aku merasa tenang, dan aku tahu bahwa itu adalah suara dari langit. Malaikat itu melanjutkan, "Luluk, Allah ingin kamu menjadi anak yang sholehah. Kamu harus selalu berdoa dan melakukan kebaikan."

Aku merasa bahagia, aku tahu bahwa aku memiliki malaikat yang selalu menjaga dan membimbingku. Aku berjanji untuk menjadi anak yang sholehah, dan aku merasa damai,kemudian aku langsung mengambil air wudhu lalu sholat malam,dzikir,berdo'a dan mengaji menunggu sholat shubuh.Selesai Sholat aku mengaji lagi,kemudian mandi ambil air wudhu siap-siap sholat dhuha berdo'a lalu persiapan berangkat kerja dengan hati yang penuh dengan kebahagiaan dan ketenangan.Aku tahu bahwa aku tidak sendirian,karena aku memiliki suara dari langit yang selalu membimbingku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjuangan Renggo

(Masyita Agustya Pratiwi, S.Pd.)

Perlombaan tari Ujung atau cambuk Ujung akan digelar dalam rangka sedekah bumi desa Tarik. Setiap langkah warga desa merupakan irama gamelan dengan pukulan pelan namun, mendebarkan. Renggo, anak penari handal tari Ujung tumbuh dengan sentuhan lembut dengan tatapan berapi-api. Seakan jiwa gagah ayahanda serta kelembutan ibunda mengalir seperti sungai dalam arteri dan vena milik Renggo. Setiap waktu, ia berlatih menari sampai cucuran keringatnya mengartikan bahwa tari bukan hanya sekadar tampil depan umum saja. Tetapi, ia resapi dan coba dihidupkan dalam perilakunya.

Renggo sadar bahwa seminggu ini Widodo mengintip di sela-sela pagar rumah. Ia mencatat, mengingat dan menirukan kembali ketika tiba di markas kamarnya. Widodo berpikir dengan melakukan itu semua, ia akan memenangkan perlombaan. Renggo tidak marah dan gusar, karena ia ingat arti nama Renggo adalah ksatria, itu berarti ia harus terampil dalam pertempuran tanpa alasan apapun. Hari terus berganti sampai waktu perlombaan tiba. Gerakan tangan dan kaki bak kincir yang menggerakkan air dengan tepat dan luwes. Sedangkan, Widodo tampil dengan tergesa-gesa dan seakan-akan dikejar oleh ketukan waktu.

Sang juri membacakan hasil dari perlombaan tari Ujung. Tentu saja, Renggo pemenangnya. Perasaan Renggo seperti disambar petir mulai hari itu, bisik-bisik terdengar menyatakan kemenangan yang ia dapatkan adalah kesombongan yang disembunyikan dibalik senyuman manis. Renggo tidak menggubris, ia ingat bahwa laki-laki yang kuat tidak akan membalas apapun. Gelombang rasa ingin membalas pun sangat diruntuhkan, sehingga yang muncul hanyalah senyuman bahagia dan tulus. Sejak hari itu, Renggo tidak menyesal mengikuti tari Ujung karena ia bisa mengetahui sikap dan karakter temannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Antara Kesombongan dan Kerja Keras

(Sulismiarsih, M.Pd.)

Matahari malu-malu mulai menampakkan dirinya. Tepat pukul 06.30 Shella bergegas berangkat ke sekolah karena hari ini adalah hari pertama Ujian Tengah Semester. Shella adalah siswi terkenal di sekolahnya  karena kepintarannya tidak bisa di kalahkan siapapun. Shella merupakan anak yang ambisius dan tidak pernah mau kalah dengan yang lain.

Shella sibuk berkutat dengan smartphone miliknya, seperti dunia miliknya sendiri. Dia berjalan tanpa melihat ke depan, dengan tak sengaja menabrak teman sekelasnya, yaitu Keinan yang tengah sibuk membaca buku catatan Matematika.

"Hufftt?, Keinan?"

"Ngapain bawa buku? belajar? ", tanya Shella.

 "Buat belajar", jawab Keinan tak acuh sambil mengambil buku catatan Matematikanya yang terjatuh.

"Ya ampun! Buat apaan?", tanya remeh Shella.

"Hari ini ujian"

"Emang harus ya yang namanya belajar Kei? Makanya pinter dong kayak aku!", ucap remeh Shella ke Keinan.

"Yah... pergi... malu ya!", lanjut Shella yang kembali meremehkan.

Ujian telah selesai. Setelah ujian usai bel pulang sekolah berbunyi. Saat Shella keluar dari pintu kelas Dia melihat Keinan berjalan dengan tatapan kosong. Shella mempercepat laju jalannya dan menabrak Keinan dengan sengaja.

"Gimanasih jalannya Kei, jalan itu lihat depan jangan sambil bengong!"

"Lain kali hati-hati ya kalau jalan Shell... Lihat depan kalau jalan, jangan lihat kanan kiri!"

"Bilang aja kamu bengong gara-gara mikirin nilai kamu yang ga bakal bagus!"

Keinan mengabaikan Shella yang ada di belakangnya.

Setelah Ujian Tengah Semester berakhir, semua siswa siswi berbondong-bondong menuju ke papan mading sekolah. Keinan terkejut melihat namanya masuk ke peringkat  2 dari 10 anak berprestasi di sekolah mereka. Keinan merasa bangga karena perjuangannya mati-matian untuk belajar tidak sia sia. Sementara ternyata nilai Shella tidak begitu memuaskann. Dia hanya berada pada urutan ke tujuh karena saat mengerjakan ujian Dia ceroboh dan tidak teliti. Shella mengucapkan selamat kepada Keinan dan meminta maaf karena telah meremehkan Keinan selama ini.

 

 

Menyalakan Api di sekolah tercinta, SPENIWA

( Umi Shofiyah, S.Hum)

Mentari baru saja merangkak di ufuk timur, menebarkan kehangatan emasnya ke halaman SMP Negeri 1 Wonoayu yang lebih dikenal dengan sebutan SPENIWA. Di salah satu ruang kelas yang masih lengang, Ma’am Shofi berdiri di depan jendela yang terbuka. Aroma tanah basah sisa hujan semalam masih sangat terasa, berbaur dengan wangi kertas dari buku-buku yang tertata rapi di mejanya. Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, adalah medan pertempuran sunyi bagi Ma’am Shofi, seorang guru Bahasa Inggris yang baru dua tahun menapaki dunia pendidikan di tingkat sekolah menengah pertama.

Tantangannya bukan lagi sekedar mengajarkan tenses atau memperkaya kosakata, namun musuh terbesarnya adalah bagaimana cara mengajar di era digital, dimana lautan informasi sangat mudah didapat. Tetapi ironisnya sering kali membuat para siswanya justru terdampar di pulau kemalasan.

Di hadapannya, duduklah tiga puluh lima jiwa dengan dunia yang berbeda-beda di genggaman mereka. Ada Memey, yang logatnya sudah fasih berbahasa Inggris berkat ribuan jam menonton youtuber luar negeri, duduk di bangku terdepan dengan mata berbinar. Namun, di sudut belakang ada Galang yang tatapannya sering kali kosong, berjuang keras hanya untuk merangkai satu kalimat sederhana. Bagaimana ia harus merajut benang-benang pemahaman yang sama bagi mereka semua?

Sering kali, Ma’am Shofi merasa seperti melawan raksasa tak kasat mata. Ketika ia melontarkan pertanyaan, ia disambut oleh lautan layar gawai yang berpendar sekejap. Jawaban pun mengalir, lancar dan sempurna secara tata bahasa. Tetapi ketika ia menatap mata siswanya, ia tak menemukan pemahaman di sana. Hanya pantulan kosong dari aplikasi penerjemah, sang jin modern yang berbisik di telinga mereka, memberikan jawaban instan yang sempurna, tetapi tanpa jiwa.

"Mereka membangun istana pasir yang megah di tepi pantai," gumamnya suatu senja saat memeriksa lembar jawaban, "tapi satu hantaman ombak pemahaman saja, istana itu akan runtuh tak bersisa."

Kata menyerah sempat menyelinap di hatinya. Apakah ia telah gagal? Apakah usahanya hanya menjadi setitik air di tengah kemajuan teknologi yang maha dahsyat?

Hingga suatu hari, sebuah percikan ide terlintas. Ia melihat Rere, muridnya yang paling sering mengandalkan 'salin-tempel', dengan begitu antusias mengarahkan kamera ponselnya, merekam teman-temannya yang sedang bercanda di kelas. Ia melihat cara Rere mengatur sudut pengambilan gambar, mencari cahaya terbaik. Anak itu tidak sedang berbahasa Inggris, tetapi ia sedang bercerita melalui gambar.

"Bagaimana jika..." bisik Ma’am Shofi pada dirinya sendiri, sebuah ide mulai terbentuk, bagaikan fajar yang merekah perlahan.

Minggu berikutnya, kelas Bahasa Inggris berubah. Tidak ada lagi latihan soal yang monoton. Ma’am Shofi mengumumkan sebuah proyek besar: "Proyek Film Pendek: My SPENIWA Story." Setiap kelompok ditantang untuk membuat film pendek berdurasi tiga sampai lima menit tentang keunikan kelas mereka lengkap dengan narasi dan dialog dalam Bahasa Inggris.

Awalnya, kelas riuh dengan keraguan. Namun, Ma’am Shofi memantik api itu. Ia tidak lagi menjadi guru yang berdiri di depan, melainkan seorang sutradara yang berjalan di antara para krunya. Ia membantu mereka menulis naskah, bukan dengan memperbaiki tata bahasa, tetapi dengan bertanya, "Apa yang ingin kalian ceritakan? Perasaan apa yang ingin kalian sampaikan?"

Keajaiban pun terjadi. Si fasih Memey, yang biasanya individualistis, kini sabar mengajari Galang cara melafalkan dialognya. Rere, sang 'ahli salin-tempel', ternyata punya mata sinematik yang tajam, ia menjadi penata gambar yang profesional. Mereka berdebat, tertawa, dan berjuang bersama. Bahasa Inggris tak lagi menjadi mata pelajaran yang membebani, namun ia telah menjelma menjadi alat, sebuah kuas untuk melukiskan cerita mereka.

Ma’am Shofi sadar, tugasnya di era ini bukanlah untuk membendung arus teknologi, melainkan membangun sebuah bendungan itu. Tugasnya bukan sekadar mengisi kepala siswa dengan rumus bahasa, tetapi menyalakan percikan api kreativitas di dalam jiwa mereka. Di sebuah ruang kelas sederhana di SPENIWA, ia tidak sekadar mengajar tata bahasa, ia sedang memahat para navigator masa depan, yang siap berlayar di lautan global dengan kompas cerita dan bahasa mereka sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KETIKA LIMA RIBU MENGHALANGI ILMU

(Rossy Surya Novita, S. Pd.)

Pagi itu, seragam putih biru Rian masih tergantung rapi di balik pintu, persis seperti tiga hari yang lalu. Ia duduk di ambang jendela, memperhatikan langkah riang teman-temannya yang melintas menuju gerbang sekolah. Bukan karena malas, melainkan dompet tipis ibunya tak mampu lagi menyediakan uang saku meski sekadar lima ribu rupiah untuk ongkos dan sebungkus nasi. Rian tahu, sekolah adalah gerbang menuju masa depan yang lebih baik, bekal utama untuk melawan kemiskinan yang membelenggu keluarganya, tetapi bagaimana mungkin ia bisa menuntut ilmu jika perutnya harus menahan perih dan pikirannya dipenuhi rasa malu? Ia hanya bisa meremas buku pelajaran yang sudah usang, berharap lembaran-lembaran itu bisa terbuka dan mengalirkan ilmu tanpa harus menginjakkan kaki di kelas.

Rasa putus asa itu tiba-tiba terpecah saat Bu Rina, guru wali kelasnya, datang berkunjung. Dengan senyum hangat dan mata penuh pengertian, Bu Rina tidak membawa teguran, melainkan sebuah tas berisi bahan makanan dan, yang lebih penting, selembar kartu subsidi dari sekolah khusus untuk biaya transportasi dan makan siang. Bu Rina menjelaskan bahwa pendidikan adalah hak, bukan hak istimewa yang hanya bisa dinikmati orang berpunya. "Uang saku hanyalah pelengkap, Nak," ujar Bu Rina lembut, "yang terpenting adalah semangat belajarmu. Sekolah adalah rumah kedua, dan kami tidak akan membiarkan satu pun anak didik kami menyerah karena masalah biaya." Air mata Rian tumpah, bukan lagi air mata keputusasaan, melainkan haru dan janji.

Keesokan harinya, Rian kembali melangkah riang bersama teman-temannya, seragamnya kini ia kenakan dengan penuh kebanggaan. Ia menyadari, kesulitan finansial memang tantangan, tetapi kepedulian dan uluran tangan dari sesama, terutama dari guru yang tulus, adalah kekuatan yang jauh lebih besar. Pendidikan harus diutamakan di atas segalanya, dan komunitas yang baik akan selalu menemukan jalan untuk memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih ilmu, karena nilai sebuah ilmu jauh lebih berharga daripada jumlah uang saku.

Keesokan harinya, Rian kembali melangkah riang bersama teman-temannya, seragamnya kini ia kenakan dengan penuh kebanggaan. Ia menyadari, kesulitan finansial memang tantangan, tetapi kepedulian dan uluran tangan dari sesama, terutama dari guru yang tulus, adalah kekuatan yang jauh lebih besar. Pendidikan harus diutamakan di atas segalanya, dan komunitas yang baik akan selalu menemukan jalan untuk memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih ilmu, karena nilai sebuah ilmu jauh lebih berharga daripada jumlah uang saku.

 

 

 

                                                                                                                   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ada Pelangi Setelah Hujan

Oleh : Anita Arista, S.Psi

Matahari baru saja mengintip dari ufuk Timur. Dibalik awan kelabu keraguan, ada seberkas cahaya, itulah yang aku rasakan sebagai seorang pengajar peserta didik penyandang disabilitas. Aku memacu sepeda motorku menembus kabut tipis di jalanan pedesaan. Terkadang aku harus bergelut dengan kebisingan dan kemacetan kota industri, jalan berkelok, jembatan mesra yang hanya dapat dilalui dua motor dengan arah yang berlawanan, bukit berangin kencang, dan daerah rawan banjir dikala musin hujan merupakan rute harian yang harus kutempuh demi berjumpa anak-anak istimewa yang penuh harapan.

Pagi ini terasa sedikit berbeda, masih terbayang senyum dan lambaian tangan anakku dalam gendongan sang ayah saat berangkat. Seolah sebagai isyarat atas restunya padaku. Semangatku mulai membara, siap menghadapi tantangan baru hari ini.

Tiba di sekolah, suasana sudah ramai. Anak-anak dengan beragam kebutuhan khusus duduk sambil bergurau di halaman, tawa mereka terngiang di telinga menambah keceriaan pagi itu. Aku disambut hangat oleh seorang peserta didik bernama Qila, penyandang downsyndrome yang cantik dan selalu ceria. Qila mengulurkan tangannya untuk meraih tangan kananku lalu dicium telapak tanganku olehnya. Aku menyapanya dengan candaan yang disukainya. Sungguh renyah tawanya mencairkan susana ketegangan Bapak-Ibu wali murid yang sedang mengantar anaknya ke Sekolah di tengah kesibukan rutinitas pagi hari.

Saat aku masuk ke sekolah, tak sengaja berpapasan dengan rekan guru lainnya. Kami bertukar cerita singkat, berbagi tips, dan saling menyemangati sebelum memulai hari yang panjang. Aku memasuki kelas yang sudah tertata rapi dan bersih. Jadwal mengajarku hari ini adalah mendampingi Ifan, Christiano, dan Egif. Ifan dan Christiano, keduanya adalah penyandang autisme yang cerdas namun kesulitan dalam berinteraksi sosial. Tugas utamaku adalah membantunya fokus, memfasilitasi komunikasinya dengan teman-teman sekelas, dan menenangkannya saat mereka mulai kuwalahan. Sementara itu, Egif adalah penyandang downsyndrome yang ramah dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama.

Hari ini pelajaran pertama adalah seni rupa. Ifan terlihat antusias. Dia mengambil kuas dan cat air, dengan hati-hati mulai melukis di kanvasnya. Tapi tak lama kemudian, dia mulai gelisah. Warnanya tercampur, dan dia mulai merengek. Dengan penuh empati aku mendekatinya. “Ifan ayo kita campur warnanya pelan-pelan”, kataku lembut. Aku membimbing tangannya, menunjukkan cara mencampurkan warna primer untuk menghasilkan warna baru. Perlahan, ketegangan di wajahnya mereda, tergantikan oleh senyum bangga saat dia berhasil menciptakan warna ungu kesukaannya.

Keberagaman warna pada cat air itu memberiku inspirasi bahwa di ruang kelas, setiap anak adalah warna yang berbeda. Ada yang sekuat merah, penuh emosi, namun sangat peduli. Ada yang secerah kuning, penuh semangat, namun sulit fokus. Ada yang setenang hijau, namun sulit bersosialisasi. Tugasku adalah membantu mereka menyusun warna-warna ini menjadi sebuah karya seni yang indah, sebuah pelangi yang utuh.

Saat istirahat, aku mengajak Christiano bermain sepak bola di halaman. Awalnya dia enggan, tapi aku terus menyemangatinya. Akhirnya, dia bergabung, berlarian dan tertawa bersama teman-temannya. Momen-momen kecil seperti ini yang membuatku sadar betapa berharganya pekerjaanku. Melihat perkembangan mereka, sekecil apapun itu, memberiku kebahagiaan yang tak terlukiskan. Bahkan ketika hatiku gundah gulana, tak jarang aku melihat perilaku mereka yang sontak mengundang tawa yang menghibur, membuatku kembali merasa bahagia.

Setiap hari bagiku adalah tantangan baru. Kadang-kadang aku merasa seperti seniman yang bingung, bagaimana aku bisa memadukan warna kuning yang cerah dengan hijau yang tenang? Bagaimana aku bisa membuat merah yang kuat berpadu harmonis dengan hijau yang tenang? Aku belajar bahwa tidak ada satu cara yang paling benar. Aku harus beradaptasi, berinovasi, dan terus belajar. Tetapi dibalik tantangan, ada kekuatan yang menginspirasi. Ketika seorang anak yang pendiam akhirnya berbicara. Ketika seorang anak yang kesulitan belajar akhirnya mengerti. Ketika mereka semua bekerja sama, saling mendukung, dan tertawa bersama, itulah pelangi yang indah.

Menjadi pengajar peserta didik penyandang disabilitas adalah pengalaman yang mengubah hidup. Aku tidak hanya mengajar mereka, aku juga belajar dari mereka. Mereka mengajarkanku tentang ketahanan, tentang harapan, dan tentang cinta tanpa syarat. Mereka mengajarkanku bahwa keindahan tidak terletak pada kesempurnaan, tetapi pada keunikan setiap warna.

            Seperti pelangi, setiap penyandang disabilitas adalah unik dan indah dengan cara mereka sendiri. Mereka adalah pengingat bahwa di balik hujan badai, selalu ada cahaya dan pelangi. Dibalik air mata, selalu ada harapan dan keajaiban. Pengalaman ini adalah perjalanan luar biasa, aku sebagai guru mereka merasa terhormat menjadi bagian dari perjalanan mereka. Menjadi guru pendamping disabilitas bukanlah pekerjaan mudah, tapi imbalannya jauh lebih besar dari sekedar materi. Ini adalah panggilan hati, kesempatan untuk membantu anak-anak istimewa mencapai potensi terbaik mereka.

Kita semua terlahir sama, sama-sama karena cinta. Tidak ada di dunia ini yang lebih indah selain diterima apa adanya. Perbedaan bukanlah batas yang membuat kita saling menjauh, melainkan jembatan untuk saling menguatkan. Untuk itu, pandanglah mereka dengan kasihmu. Pandanglah mereka seperti pelangi beraneka warna yang indah dipandang bersama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

My Heroes (Both Parents)

(Anin Naim, S.Pd.)

My father, Abdul Hadi, was born in 1936 in Kalangan Hamlet, Karangandong Village, Driyorejo District, Gresik Regency. He was the second of three children, and both of his parents were farmers. As a child, he attended school in the morning and then gathered grass for his livestock after school. In the afternoon, he studied the Koran in the prayer room (musholla) and rarely slept at home. Due to financial constraints, he only went to the third grade of elementary school. Despite this, he diligently gathered grass and studied the Koran every afternoon in the prayer room.

As he grew older, he moved to the city. Having only an elementary school education (and not even a graduation), lacking the skills and experience, he ended up working as a pedicab driver. Armed with strong determination, honesty, and religious knowledge, he carried out his work diligently. Before leaving, he always performed the Dhuha prayer and the five obligatory prayers in congregation. He also took Fridays off. Once, when Friday prayers were about to begin, Bilal wasn't there at all. The preacher, or imam, remarked, "How can there be no one in the entire mosque who can be Bilal?" He finally stepped forward and performed the role. After Friday prayers, he spoke with the imam. Long story short, the imam, a kyai, made him his son-in-law.

My mother, Maisaroh, was born in 1941 in Kedungturi Village, Taman District, Sidoarjo Regency. She is the fourth of eight children. Both of her parents were devout believers, and after marrying my father, they had 11 children.

 

1. Muhajir (Indonesian Navy)

2. Muhaimin (Businessman)

3. Siti Romlah (Quran teacher)

4. Muhammad Irsyad, S.Pd (Public servant Physics teacher)

5. Tsuwaibatul Islamiyah (Quran teacher)

6. Siti Jamilah, S.Pd (Public servant English teacher)

7. Siti Aisyah (Died at age 4)

8. Ali Shodiqin, S.Pd (Public servant Physics teacher)

9. Ahmad Husnan, S.Pd (Physics teacher)

10. Muhammad Ridwan, S.Pd (Private school principal/English teacher and businessman)

11. Anin Naim, S.Pd (PPPK English teacher)

 

My parents strictly taught their children religious knowledge. If they didn't recite the Quran or pray, they would be scolded and even hit with sandals. Every one of my siblings has experienced being hit with sandals, belts, doused with sewage, and even kerosene for neglecting prayer and reciting the Quran. Many people in the village envied my parents. When people asked my father, "How can you raise so many children and become successful?" Even though he was only a rickshaw driver, he simply replied, "Because of their mother's prayers."

In 2010, my father passed away. To accompany my mother and pray for him, we held regular family tahlil (recitations of remembrance) every Friday so we could all gather without waiting for Eid. A few years later, exactly 10 years after my father's death, in 2020, my mother passed away, and tahlil (recitations of remembrance) every Friday continues to this day.

That's why I consider them both as both parents and heroes. It turns out the key to my parents' success is my father's daily observance of the five daily prayers, Dhuha and Tahajud. Meanwhile, my mother always read the Quran daily, reciting Al-Fatihah for them both. Amen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lingkaran Setan Perundungan: Saat Korban Tumbuh Menjadi Pelaku di Masa Depan

(Lina Safitri, S.Pd., M.Pd.)

Kita sering kali terhenti pada satu pertanyaan saat mendengar berita perundungan: "Mengapa seseorang tega melakukan tindakan sekejam itu?" Kita selalu fokus pada kejahatan di depan mata, tanpa melihat latar belakang yang mendasari perilaku si pelaku.

Namun, penelitian di dunia psikologi menunjukkan sebuah kenyataan pahit yang sering terabaikan: ada korelasi yang kuat antara pengalaman menjadi korban perundungan di masa kecil dengan kecenderungan untuk menjadi agresif, atau bahkan pelaku, di masa dewasanya.

Inilah yang kita sebut sebagai Lingkaran Setan Perundungan, sebuah siklus di mana luka yang tidak disembuhkan pada korban berbalik menjadi bibit agresi yang ditumpahkan kepada orang lain. Perundungan bukanlah kasus tunggal; ia adalah warisan trauma yang terus berputar dari generasi ke generasi.

Mekanisme Transformasi: Dari Luka Menjadi Kekuatan Palsu

Untuk memutus rantai ini, kita harus memahami bagaimana seorang anak yang terluka bisa berubah menjadi penindas. Prosesnya terbagi dalam tiga tahap utama:

Bagian 1: Luka yang Tak Tuntas

Saat seseorang menjadi korban perundungan, yang hilang bukan hanya barang atau harga diri, tapi juga kendali diri (control). Mereka merasa tidak berdaya (powerless). Pengalaman ini menciptakan trauma yang mengendap: marah, malu, dan ketakutan bercampur menjadi satu dan terus merusak harga diri dari dalam.

Jika luka ini tidak ditangani, tubuh dan pikiran anak akan otomatis membangun dinding pertahanan (defence mechanism). Mereka mungkin menjadi penyendiri, atau sebaliknya, mereka mulai meniru perilaku yang menyakiti mereka. Dalam benak mereka, ada kesimpulan sederhana: "Jika saya kuat seperti dia, saya tidak akan disakiti lagi."

Bagian 2: Perpindahan Peran, Mencari Kendali

Perubahan dari korban menjadi pelaku adalah upaya untuk mendapatkan kembali kendali yang hilang. Ini terjadi karena tiga alasan psikologis utama:

  1. Pencarian Kekuatan (Reclaiming Control): Korban ingin membuktikan bahwa dirinya kuat. Cara tercepat dan termudah untuk merasakan "kekuatan" adalah dengan menindas orang yang dianggap lebih lemah.
  2. Pemodelan Agresi: Anak adalah peniru ulung. Mereka melihat bahwa agresi adalah cara yang efektif untuk mendapatkan perhatian, mendominasi, atau menghindari sanksi (karena si pelaku lama tidak dihukum secara tuntas).
  3. Transfer Kemarahan: Sering kali, korban tidak bisa membalas dendam pada pelaku aslinya (misalnya, karena pelaku terlalu senior atau kuat). Akhirnya, kemarahan itu dialihkan (ditransfer) ke target lain yang dianggap aman untuk disakiti.

 

 

Bagian 3: Pelaku Generasi Kedua

Pelaku yang dulunya adalah korban memiliki senjata yang lebih berbahaya: mereka tahu betul rasanya disakiti.

  • Target yang Dipilih: Mereka cenderung memilih korban yang sangat mirip dengan diri mereka di masa lalu—anak yang rentan, pemalu, atau kurang percaya diri. Ini adalah cara mereka tanpa sadar "menghukum" kelemahan diri mereka sendiri di masa lalu.
  • Perundungan Terselubung: Perundungan yang mereka lakukan sering kali tidak selalu berupa kontak fisik. Mereka ahli dalam perundungan verbal, silent treatment, atau cyberbullying karena mereka tahu persis di mana titik terlemah emosi target. Mereka menargetkan hati dan pikiran, bukan hanya tubuh.

Memutus Rantai Setan: Solusi yang Berfokus pada Penyembuhan

Siklus ini harus dihentikan, dan itu membutuhkan upaya kolektif, bukan hanya menyalahkan.

A. Peran Sekolah: Bukan Sekadar Sanksi

Sekolah tidak bisa lagi hanya fokus pada hukuman, seperti skorsing atau pemanggilan orang tua. Kita harus beranjak ke pendampingan trauma.

  • Fokus pada Akar Masalah: Setiap pelaku perundungan harus diinvestigasi riwayatnya. Apakah dia juga korban? Hukuman yang diberikan harus disertai konseling yang fokus pada penyembuhan luka batin, bukan sekadar modifikasi perilaku luarnya.
  • Pendekatan Restoratif: Mengganti fokus dari "Siapa yang salah?" menjadi "Bagaimana kita memperbaiki kerusakan yang terjadi?".

 

B. Peran Orang Tua: Mendidik Empati

Penyembuhan dimulai dari rumah. Orang tua memiliki peran krusial dalam memutus rantai ini.

·         Menciptakan Ruang Aman: Izinkan anak mengekspresikan rasa marah, takut, dan tidak berdaya mereka. Jangan pernah menghakimi, melainkan validasi emosi mereka: "Wajar kamu marah. Ibu/Ayah di sini untuk mendengarkan."

  • Model Perilaku Non-Agresif: Tunjukkan bagaimana menyelesaikan konflik di rumah dengan tenang, tanpa kekerasan, dan tanpa dominasi. Anak akan meniru cara Anda mengelola emosi dan konflik.

C. Ajakan Bertindak untuk Masyarakat

Masyarakat harus berhenti melihat perundungan sebagai "kenakalan biasa" atau "dinamika sekolah". Ini adalah masalah kesehatan mental dan sosial yang perlu diperhatikan. Kita perlu berinvestasi pada pelatihan empati sejak dini dan memastikan bahwa setiap anak, baik yang menjadi korban maupun yang menjadi pelaku, mendapatkan akses ke bantuan profesional.

Pada akhirnya, perundungan adalah warisan luka. Korban hari ini bisa menjadi pelaku di masa depan jika luka tersebut dibiarkan membusuk tanpa penanganan.

Lingkaran setan ini hanya bisa diputus jika kita berani melihat melampaui label "korban" dan "pelaku". Kita harus melihat setiap anak sebagai individu yang membutuhkan penyembuhan dan kesempatan kedua.

Mungkin saatnya kita mengubah pertanyaan provokatif di awal. Bukan lagi, "Mengapa seseorang tega menjadi pelaku?" tapi, "Apa yang terjadi pada anak ini sehingga ia merasa perlu menyakiti orang lain?"

Siapa pun yang menyakiti, adalah seseorang yang pernah disakiti. Tugas kita bersama adalah memastikan luka itu menjadi bekas luka, bukan senjata untuk melukai yang lain.