Gerbang Ilmu di Era Digital
(Michael Hardy, S.Pd.)
Di gerbang sekolah, senyap membayang,
Bukan buku usang, tapi layar yang terang.
Gedung tinggi menjulang, kurikulum berpacu,
Menjelajah dunia maya, ilmu tak lagi kaku.
Papan tulis berganti proyektor dan gawai,
Menggenggam dunia, pengetahuan mengalir landai.
Data dan informasi, deras tak terbendung,
Mencari makna di antara scroll yang tak berujung.
Guru berdiri tegak, di antara algoritma yang sigap,
Menyulam kearifan, agar budi tak terserap.
Bukan hanya rumus dan hafalan yang dikejar,
Tapi kritis berpikir, nalar yang harus diajar.
Anak-anak bangsa, dengan jari lincah menari,
Menyentuh tombol akses, membuka cakrawala hari.
Tantangan zaman hadir, cepat dan tak terduga,
Perlu bekal mental, jiwa yang tak mudah menduga.
Pendidikan hari ini, jembatan yang terbentang,
Antara tradisi luhur dan masa depan yang menantang.
Semoga bukan hanya nilai dan angka yang terpatri,
Namun karakter kuat, suluh hati yang takkan mati.
BERCENGKRAMA DENGAN ANAK-ANAK
(M. Yusuf Shobahi)
aku ingin kesana,
ke tanah yang dijalari akar2 besar,
dipayungi dedaunan rindang.
dan bercengkrama dengan anak2
aku ingin disana,
berada diantara reruntuhan zaman,
mendengar desing2 peluru
dan bercengkrama dengan anak2
aku ingin kesana,
melihat ombak bergulung2,
merasakan deru angin dan panas zaman,
dan bercengkrama dengan anak2
aku ingin disana,
di ketinggian yang membuat pandangan lebih luas,
di kedinginan yang membuat tekad lebih keras.
di antara hamparan harap yang membuat jiwa semakin lugas.
di jajaran api-api hangat jiwa suci mereka.
aku ingin kesana, disana, bersamamu dan bercengkrama dgn anak2...
Jendela Tanpa Kusen
(Ahmad Adam Adhitama, S.Pd)
Di lorong sepi, otak adalah cangkir tua, Menanti hujan emas ilmu turun perlahan. Buku-buku tebal, kapal kertas tak berlayar, Tersimpan rapi, menunggu jemari jadi nahkoda.
Pena adalah pedang yang matanya tak setajam besi, Menusuk gelap, merobek selimut kebodohan pekat. Sekolah adalah kebun, ditanami benih janji, Tumbuh harapan, akarnya merangkul cakrawala terdekat.
Setiap angka adalah tangga menuju puncak sunyi, Setiap rumus, peta harta di lipatan peta lusuh. Bukan sekadar hafal nama-nama di ujung jari, Namun menari dengan ide, di lantai pikiran yang teduh.
Kini cangkir itu penuh, ia tumpah ruah bagai sungai, Mengalirkan makna, membasahi tanah yang sempat gersang. Jendela tanpa kusen, di balik dahi telah tergapai, Melihat dunia, bukan dari bingkai, tapi dari sayap yang dikembangkan.
Pesta Ilmu Bermoral
Oleh: Gosita Ifantias Meisawitri
Dalam bilik kelas,
Terdengar raungan samudra ilmu,
Festival kembang api tumbuh di jiwa,
Ledakan tawa pelajar menggema bak simfoni,
Kita dianggapnya mahaguru sakti,
Pencetak sejarah kesatria perkasa,
Pena bak pedang cahaya,
Literasi mantra tuk berbicara,
Janji aksara berbisik masa depan baru,
Sambut tantangan dengan hati bernyanyi.
Ayo !
Majulah ke depan !
Wahai tunas bangsa bermekar,
Nyalahkan bara moralmu yang beku!
Mimpi harus setinggi langit sedalam lautan,
Kunci emas dunia akhirat adalah ilmu bermoral.
Harapan Abadi
Yureta Restu Cania, S.Pd.
Dibangku usang kumenetap
Wajah polos, tingkah membangkang
Moral pudar, hari resah, santun hilang dan canda kasar
Aku menatap dengan penuh harap
Dari balik meja kayu aku merenung,
“akankah mereka berubah?”
Napas Panjang terhela berat
Menembus relung penuh harap
Perasaanku disini
Berharap mampu menggapaimu dari jurang
Menuju Cahaya
Dari gelap menuju terang
Aku akan terus menyinari walau hanya setitik
Berharap kau akan mengerti walau hanya sebesar buih
Aku tak berharap kau mengingat namaku
Namun ingatlah, aku disini berharap kau berubah
Dan menjadi pelita bagi dunia
PUSPA WIDYA
Dening: Dyah Yunita Rohmah, S.Pd.
Puspa widya Gandha Arum
Saka aruming janma manungsa
Puspa kang didama-dama
Mring endahe bangsa nuswantara
Puspa widya kang bagus lan ayu
Jebul tuwuh padha layu
Puspa kang diantu-antu
Ora ngerti marang ngelmu
Nuswantaraku ketatu
Puspa widya tan bekti marang bapak lan ibu guru
Kabeh kesrakah hawa lan nepsu
Ora kenal buku-buku,
Uga unggah-ungguh satuhu
Puspa widya mekara
Ngangkat derajat nuswantara
Tuwuh kanthi werna-werna
Puspa widya santosa
Bercak Hitam di Hati
Oleh : IMAM UBAIDILLAH NAJIB,S.Pd
Setiap insan yang suci
Terlahir ke dunia yang fana ini
Diuji dengan bekal hawa nafsu manusiawi
Berpedoman kepada kitab yang suci
Setiap langkah kehidupan yang dilewati
Dilalui dengan penuh kesabaran dan ridho dari sang ilahi
Meski banyak godaan melintas di benak ini
Masih ada keimanan yang menguatkan diri
Setiap insan memiliki jati diri
Tapi tidak semua insan memiliki kesadaran diri
Kurenungkan dengan pasti
Bercak hitam di hati karena langkah tak tau diri
“TAAT PADA GURU, CAHAYA HIDUPKU”
(Zaenal Abidin, S.Ag)
Di ruang sunyi penuh tanya,
kau hadir membawa cahaya,
menyibak kabut kebodohan,
menyalakan api pengetahuan.
Langkahmu sederhana namun pasti,
sabdamu menuntun tanpa henti,
dari huruf lahir makna,
dari nasihat tumbuh jiwa.
Engkau tak meminta pujian,
hanya ingin muridmu berjalan di kebenaran,
peluhmu jadi saksi waktu,
bahwa ilmu lahir dari perjuangan yang syahdu.
Wahai guru, lentera ilmu,
cahayamu tak pernah padam di waktu,
dan di akhirat kelak,
Allah balas dengan surga yang indah dan penuh berkat.
Murid sejati tunduk dan hormat,
karena di tangan guru ada berkat,
taat bukan tanda lemah,
tapi bukti hati yang berserah.
Setiap nasihat guru bagaikan mutiara,
yang menuntun jiwa ke jalan yang mulia,
siapa yang hormat pada guru di dunia,
akan dimuliakan Allah di surga sana.
Menggenggam Ilmu di Muara Lumpur
Oleh : Dwi Anggraeni Riswana
Anak-anakku, mata kalian adalah lensa yang paling jernih, mampu melihat segala hal di dunia ini, baik yang dekat maupun yang paling sulit dipahami.
Dalam proses belajar, tak perlu cemas jika membuat kesalahan, anggap saja itu sebagai reaksi kimia yang wajar.
Setelah reaksi itu terjadi, pasti akan dihasilkan pemahaman baru yang lebih baik.
Layaknya siklus air yang terjadi di daerah Sidoarjo ini, air laut menguap lalu turun lagi sebagai hujan; begitulah ilmu, ia selalu berputar dan menanti untuk digali kembali.
Bapak/Ibu Guru, kita diibaratkan sebagai kumpulan atom yang saling bergandengan erat. Jika kita kompak, kita akan membentuk molekul pendidikan yang kuat.
Kita mengabdikan diri di kota yang dikenal dengan aroma petis udang-nya yang khas. Rasa lezat itu baru muncul setelah melalui proses panjang
Sama halnya dengan tugas kita, mengolah potensi siswa yang masih mentah menjadi individu unggul, melalui pendidikan terbaik, yang membutuhkan kesabaran luar biasa.
Mari kita jaga suasana dan ciptakan getaran positif, sesungguhnya energi dan semangat yang kita pancarkan di sinilah yang akan menentukan bagaimana masa depan anak-anak kita akan terbentuk.
NYATANYA
(Abdul manab)
Tak ada kata – kata menyayat
Luka ter-hindari
Penengah yang bijak
Gak nengok kanan kiri
Semua terlewati dengan damai
Walau tak sempurna tapi terasa cukup
Melihat jadi alat meralat
Mendengar jadi hilangkan ungkap memudar
Merasa diri jadi tak biasa
Kenangan jadi kesan terindah
ADA MAKNA DIBALIK SEMUA PERTANDA
KINI SAATNYA MEMBUKA MATA, MEMANJANGKAN LIDA
TATKALA SEMUA MEMBISU TANPA TANDA
INI SEMUA ISYARAT TERINDAH
WAKTUKU ........
SAATNYA .........
BERMAIN TUK KEMENANGAN DAN KENANGAN
Penyampai makna tanpa pena...kata
Mengedepankan keteladanan
Mengubur kenangan ...... berbentuk hiburan
Berpengetahuan, pemahaman yang dalam
Berfikir dengan hati dan akal
Pemberian yang terbaik
Maka berkata ia dari suatu yang bisu
Bila kita tidak dapat menjadi jalan tol
Cukuplah menjadi setapak tuk dilewati orang
Bila tak dapat jadi surya
Lentera tak apa, asal ada cahaya
Bila kita tak dapat berbuat baik untuk seseorang maka berdo’alah
untuk kebaikannya
Apa benar ada perpisahan pada suatu ikatan
Atau tetap bersama dalam keadaan yang bedah
Atau satu wadah beda warnah
Penikmat selalu punya sudut pandang
Pemenang itu PENENANG
Tiada perebut yang tidak ribut
Ti.....dak ada keserakahan meeeeeengungkap berkah
Disana disini tiada bedah
Apa dan mengapa tetap penyapa
Penyebab bukan selalu alasan
Akibat itu balasan
Dari upah perjalanan
Kanvas Hati Sang Pelukis
( Kukoh Anggun Prasetia, S.Kom)
Putri kecilku, dengan senyum yang riang,
Dunia adalah buku gambar yang terbentang.
Jari mungilnya menggenggam krayon warna-warni,
Mencipta keajaiban setiap pagi dan hari.
Di atas kertas putih, ia menjadi sutradara,
Menghidupkan mimpi dengan sentuhan segera.
Rumah-rumah jingga, pohon-pohon biru muda,
Matahari tersenyum, bersembunyi di balik jendela.
Ia tahu rahasia setiap warna,
Kuning itu harapan, merah adalah cinta,
Jubah Peri ia warnai dengan ungu keemasan,
Lalu laut ia beri hijau, penuh imajinasi liar.
Mejanya penuh remah penghapus dan serpihan pensil,
Setiap coretan adalah cerita yang takkan habis.
Saat ia membungkuk, serius dan fokus sekali,
Seorang seniman hebat sedang lahir di bumi ini.
Kanvas hatinya seluas cakrawala tak terbatas,
Mewarnai hari-hari kami dengan keindahan yang ikhlas.
Teruslah melukis, Sayang, biarkan jiwamu mengalir,
Engkau adalah warna terbaik yang pernah ku ukir.
DAKHILku, Sang Penakluk Rindu
oleh : Achmad Nizhom, S.Pd.
anakku! dengarkanlah!
kau bukan hanya hadiah,
kau adalah balasan doa ayah ibu
kau adalah sosok yang mengisi pusaran rindu
doa setiap malam adalah penantian
ketika engkau muncul di rahim istriku, kelak itu ibumu
aku merasa ayah telah kau tegakkan kepalaku
yang jatuh dan malu karena merasa gagal
engkau buat ayah mampu menatap dunia
menjawab pertanyaan saudara di hari raya.
ketika tangismu pertama kali memecah sunyi ruangan itu
seluruh alam semesta berhenti bernapas sejenak
seakan semua orang yang menemaniku ikut bersyukur
hingga air mataku pecah saat engkau berada didekapanku
melihat wajahmu yang suci, aku melihat romansa tuhan yang sempurna
kumandangkan doa dan lafad untuk menyambut kedatangan itu
kini hidup kami adalah ritual penyembahan syukur tanpa henti
kami bersumpah pada Illahi, bahwa engkau akan kami jaga.
Agar kelak suaramu mampu memimpin keluargamu
Supaya namamu terukir lebih tinggi dari Himalaya
Tak seperti Ayah yang susah payah meraih semua
Putra Cinta kami, Kau mutlak adalah segalanya.
Terima kasih telah hadir setelah penantian yang menguras seluruh air mata kami
Kini, hati kami adalah istana yang hanya berisi tahta terpahat namamu
ADIB AQIL IMAM AD DAKHIL
Api di Kelas Z
(Elitta Permata Dewy)
Di antara layar yang berpendar biru,
aku menatap mata mereka—
mata yang tak diam, berpindah cepat
seperti kilat menggulir dunia.
Aku bukan lagi guru kapur dan papan,
aku penyala nyala di ruang maya dan nyata.
Suara ini—kadang kalah oleh notifikasi,
namun tak pernah padam oleh sepi.
Generasi Z,
kalian lahir dari gelombang data,
berlari dalam ritme algoritma,
tapi dengarlah…
ada denyut manusia yang tak bisa digantikan mesin.
Setiap kalian bertanya,
aku melihat percikan masa depan;
setiap kalian terdiam,
aku tahu api kecil sedang belajar menjadi nyala.
Maka biarlah aku terus berdiri di sini,
meski waktu menua di papan digital,
aku tetap guru—
penyala makna di antara pixel dan cahaya.
Karena mengajar kalian
bukan sekadar memberi tahu,
tapi menyalakan semangat
yang akan menembus zaman.
PUISI
Oleh. Juarliyah, S.Pd
Lain ladang lain belalang
Inilah tempat hidup
Lain orang lain karakter
Itulah hidup,,,,,,
Katanya ,,,,,, orang orang
Susah senang orang yang menilai
Untuk hidup
Lalu,,,,,.,,
Inilah kenyataan
Sosok kehidupan
Tuk meraihnya
Ya Alloh,,,,,
Oh,,,,,,,kehidupan
Walaupun pahit kehidupanpan ini
Aku harus kuat , semangat
Tulus menjalaninya
Inilah cobaan hidup manusia.
Ngangsu Kaweruh
(Esti Trisnaningtyas)
"Ngèlmu iku dudu mung kanggo dhuwur pangkat,
nanging kanggo padhanging ati lan jembaring pikir.
Pawiyatan sing tenanan bakal dadi sangu urip sing ora bakal entèk."
Pasrah di Tangan-Mu, Ya Allah
(Himamul Anshori, M.Pd.)
Ketika langkahku tertatih di jalan sunyi,
dan cahaya harap seakan redup di hati,
kuletakkan segala resah dan perih,
di hadapan-Mu, Yang Maha Mengerti.
Tiada daya dalam diriku,
selain yang Kau titipkan, Ya Rabb.
Segala yang kujalani, yang kutangisi,
hanyalah bagian dari kasih-Mu yang tersembunyi.
Kupasrahkan rencana pada kehendak-Mu,
karena Kau tahu yang tak kupahami.
Setiap luka, setiap doa yang terhenti,
Kau balas dengan hikmah yang suci.
Biarlah aku menjadi hamba yang ridha,
menerima badai dengan jiwa yang tunduk.
Sebab di balik setiap ujian yang Kau beri,
tersimpan rahmat, meski mata ini tak mampu menelusuk.
Maka tenangkanlah hatiku, Ya Allah,
di pelukan takdir-Mu yang sempurna.
Sebab pasrah bukan berarti menyerah,
tapi percaya—sepenuhnya—pada cinta-Mu yang abadi.
SENYUM SESAK GURU
(Moch. Ali Mufti, S.Ag)
Senyum palsu, antara cinta dan keadilan yang membingungkan,
Guru berduka, HAM siswa "nakal" sering disalahgunakan.
Harmoni profesi, ilusi yang menyesakkan dada,
Ketika HAM melindungi, namun perilaku "nakal" merajalela.
Di balik senyum, ada harapan terpendam,
Agar siswa "nakal" sadar, perbuatannya salah dan kelam.
HAM harusnya mendidik, bukan memanjakan kesalahan,
Senyum palsu guru, jadi simbol perjuangan melawan kebandelan.
Namun guru tak menyerah, terus berusaha dan berdoa,
Agar siswa "nakal" berubah, menjadi pribadi yang mulia.
Senyum sejati akan hadir, saat keadilan dan cinta bersatu padu,
Harmoni profesi, terwujud dalam pendidikan yang bermutu.
Elegi Senyap Sang Pembeda
(Lina Safitri, S.Pd., M.Pd.)
Di sudut pagi, papan tulis menunggu kisah,
Kami berdiri, tanpa jubah megah dan kisah berdarah.
Jauh dari derap langkah sang pendekar di medan laga,
Hanya sebatang kapur dan jiwa yang berjanji pada asa.
Bukan pada angka, kasih kami menemukan bahasa,
Tapi pada tatapan mata yang takut dan tak berdaya.
Kami ulurkan sabar, saat aksara enggan terukir,
Bahasa kasih yang tak bersuara, mengalir perlahan, tanpa akhir.
Teguran lembut adalah cambuk yang memahat budi,
Senyum tulus adalah pelita di hati yang sedang sunyi.
Di sana kami menanam benih, bukan untuk pujian,
Agar tunas-tunas ragu, kelak berdiri penuh keberanian.
Kami tidak mencari podium, apalagi tanda jasa emas,
Sebab tanda kehormatan itu telah terpahat di setiap kelas.
Ketika satu murid berhasil, di sanalah nama kami terukir,
Menjadi pahlawan senyap, yang jasanya tak pernah terdengar.