Saat istirahat, Alya duduk sendirian sambil menggambar sketsa jembatan kecil. Ia tidak sadar bahwa seseorang memperhatikannya.
“Bagus,” ucap Arga, ketua kelas. “Kamu ikut lomba arsitektur tahun lalu, kan?”
Alya mengangguk pelan. “Tapi menang atau tidak, ayah tetap tidak izinkan aku melanjutkan.”
Arga duduk. “Kamu harus lawan itu. Mimpi kalau dijagain terus, bisa mati.”
Kalimat sederhana itu membuat Alya terdiam. Arga bukan tipe yang suka bicara panjang, tapi kata-katanya selalu tepat. Mereka berbicara sampai bel masuk.
Saat berpisah, Arga berkata, “Kalau nanti ada proyek untuk impian kita, kamu harus jadi bagian dari inti tim.”
Alya tertawa kecil. “Tim apa?”
“Tim yang menyatukan 36 mimpi,” jawab Arga.
Alya tidak tahu bahwa kalimat itu akan menjadi kenyataan.