Langit pagi itu tampak seperti lembar putih besar—tempat mimpi-mimpi baru akan dituliskan. Kelas 9K berisi 36 siswa, masing-masing dengan sifat, ambisi, dan cerita hidup yang berbeda. Namun tidak ada yang menyangka bahwa tahun terakhir mereka di SMP akan menjadi tahun paling penting.
Alya melangkah masuk ke kelas dengan napas yang sedikit gemetar. Ia selalu bermimpi menjadi arsitek, tetapi ayahnya bersikeras bahwa ia harus mengambil jurusan keperawatan. “Lebih pasti,” kata ayahnya. Namun baginya, arsitektur adalah dunia yang membuatnya hidup.
Hari itu, wali kelas mereka, Bu Ratri, datang dengan sebuah pengumuman besar:
“Anak-anak, tahun ini sekolah akan mengadakan Proyek Besar Kelulusan. Kalian diminta membuat sebuah karya kolaboratif yang mencerminkan impian kalian.”
Kelas mendadak gaduh.
Proyek seperti apa? Siapa yang memimpin? Bagaimana 36 siswa dengan sifat berbeda ini bisa bekerja sama?
Bu Ratri tersenyum. “Kalian akan menemukan jawabannya. Tahun ini, kalian semua akan belajar bahwa mimpi butuh perjuangan—dan juga persatuan.”
Alya menatap papan tulis, dan hatinya berdebar.
Mungkin ini akan menjadi tahun yang mengubah hidupnya.