Pagi itu kelas kami riuh seperti biasa. Ada yang sibuk bercanda, ada yang menggambar di buku, ada yang masih menahan kantuk. Tidak ada yang mengira kalau hari itu akan berbeda.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka.
Bu Harini masuk tanpa ekspresi, dan tanpa penjelasan apa pun. Beliau langsung berdiri di depan kelas, membuka buku catatan, lalu berkata dengan suara tenang namun tegas:
“Nak, hari ini ulangan, ya.”
Seketika suasana kelas berubah.
Semua yang tadinya ribut langsung diam.
“Bu..sekarang?”
“Serius, Bu?”
“Kita belum belajar..”
Protes kecil muncul dari berbagai sudut kelas, tapi Bu Harini hanya menatap kami sebentar lalu berkata:
“Baik, Ibu bacakan soalnya.”
Tanpa menunggu lagi, beliau langsung membaca soal nomor satu. Kami pun panik. Ada yang buru-buru mengeluarkan buku, ada yang salah ambil pulpen, bahkan ada yang baru sadar kalau kertas jawabannya habis.
Akhirnya kami mengerjakan sebisanya. Ada yang mengira-ngira, ada yang mengandalkan ingatan samar, ada yang pasrah menulis apa pun yang terpikirkan. Kelas yang tadinya ribut menjadi sangat hening, tetapi heningnya penuh kepanikan.
Dua hari kemudian, Bu Harini kembali masuk kelas sambil membawa lembar nilai.
“Anak-anak, kalian remedial satu kelas, ya. Nilainya kurang bagus semua.”
Tidak ada yang terkejut. Yang terdengar justru tawa kecil yang mirip rasa pasrah.
Saat remedial, Bu Harini menjelaskan ulang materi tersebut. Aneh rasanya, karena pelajaran yang kemarin terasa rumit, hari itu jadi jauh lebih mudah dipahami. Kami mendengarkan dengan lebih serius, mungkin karena tidak mau mengulang kesalahan yang sama.
Ulangan remedial kami kerjakan dengan lebih tenang dan percaya diri.
Beberapa hari kemudian, Bu Harini kembali membawa daftar nilai dengan senyum tipis.
“Bagus. Kalian lulus remedial. Nilainya meningkat semua.”
Satu kelas langsung bersorak kecil. Ada yang lega, ada yang tertawa, ada yang langsung memberi selamat ke temannya.
Ulangan mendadak itu awalnya membuat kami panik luar biasa, namun akhirnya menjadi cerita lucu dan berkesan. Hari ketika satu kelas kompak kaget..dan akhirnya senang karena nilai kami berhasil jauh lebih baik.