Pagi pertama di SMPN 1 Wonoayu dipenuhi langkah-langkah gugup siswa baru yang masih menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali berbeda dari sekolah dasar. Seragam terasa masih kaku, buku-buku masih baru, dan ruangan-ruangan tampak lebih besar dari yang dibayangkan.
Di depan pintu bertuliskan “7C”, beberapa siswa berhenti sejenak untuk memastikan bahwa mereka tidak salah kelas. Cara berdiri yang canggung, pandangan berkeliling, dan senyum tipis yang dipaksakan menunjukkan bahwa semua sama-sama sedang berusaha memulai awal baru.
Saat pintu dibuka, ruang kelas tampak tenang. Bangku-bangku tertata rapi, papan tulis putih bersih tanpa coretan, dan jendela besar di sisi kanan membiarkan cahaya matahari pagi masuk dengan hangat. Banyak yang memilih duduk dekat jendela, sebagian mencari posisi tengah, dan beberapa lainnya lebih nyaman di bagian belakang.
Tak lama kemudian, guru wali kelas masuk dengan senyum ramah.
“Selamat datang di kelas 7C. Hari ini kita sama-sama memulai langkah baru di sekolah ini,” ucapnya hangat.
Suasana yang awalnya tegang mulai sedikit mencair. Guru meminta semua siswa memperkenalkan diri satu per satu. Nama demi nama dipanggil, disusul suara pelan, tegas, ragu-ragu, atau penuh percaya diri dari para siswa yang berdiri. Beberapa memperkenalkan hobi, beberapa hanya menyebut nama, dan ada pula yang membuat kelas tertawa tanpa sengaja.
Meski sederhana, perkenalan itu menjadi awal dari cerita yang kelak membentuk kelas ini. Dari duduk canggung, dari suara-suara pelan, dari senyum kecil yang muncul malu-malu—di sanalah 7C mulai terbentuk sebagai satu kelompok.
Dari jendela, terlihat halaman sekolah yang ramai, seolah ikut menyambut perjalanan baru mereka. Hari pertama itu mungkin penuh kebingungan dan rasa asing, namun perlahan semuanya mulai terasa lebih akrab.
Itulah awal mula perjalanan 7C—kelas yang nantinya akan dipenuhi cerita, tawa, dan kenangan yang tumbuh di balik jendela ruang belajar mereka.