Penulis: Anafi Sensei

Cahaya Hati yang Murni


Arka dan Anya berjalan perlahan ke tepi bayangan itu. Kegelapan itu mendesis, merasakan niat mereka yang berubah. Sulur-sulur bayangan melesat ke arah mereka, membisikkan kegagalan, kesepian, dan keputusasaan. Kali ini, Arka dan Anya berjalan menembusnya.

Arka berdiri tegak di perbatasan antara rumput hijau dan rumput hitam. Dia memegang tongkatnya yang hangus. "Aku mungkin tidak sekuat dirimu," kata Arka kepada bayangan itu, suaranya mantap. "Aku tidak bisa menghancurkanmu. Tapi aku juga tidak takut padamu."

Dengan segenap kekuatannya, dia menancapkan tongkat kayu hangus itu ke tanah, tepat di tepi kegelapan. Itu adalah sebuah tindakan menantang, bukan tindakan kekerasan. Itu adalah pernyataan bahwa kehidupan akan tetap berdiri. Saat ia mengatakan itu, sebuah keajaiban kecil terjadi. Dari kayu yang hitam dan mati itu, di bagian atasnya, mulai bertunas. Sehelai daun hijau kecil yang rapuh, namun bersinar terang, muncul di kayunya yang mati. Itu adalah tunas kehidupan yang menolak untuk menyerah pada kekosongan.

Bayangan itu mundur selangkah, mendesis kesakitan seolah tersentuh api.

Giliran Anya. Dia melangkah maju, melewati Arka, dan duduk bersila di depan kegelapan itu. Dia tidak membawa apa-apa selain peta kakeknya. Dengan tangan sedikit gemetar, dia mengeluarkannya dan meletakkannya di atas rumput hitam yang mati. Kegelapan itu bergolak, ingin menelannya.

"Kamu tersesat," bisik Anya pada bayangan itu, suaranya penuh kasih, bukan kebencian. "Kamu adalah bagian dari hutan ini juga, tapi kamu lupa caranya. Kamu hanya rasa sakit yang kesepian."

Anya menutup matanya. Dia tidak memikirkan rasa takut. Dia memikirkan rumah, memikirkan ibunya, memikirkan senyum kakeknya, memikirkan keindahan Hutan Ajaib. Dia membiarkan kemurnian hatinya mengalir keluar, bukan sebagai senjata, tetapi sebagai penawar.

Peta kakeknya di tanah mulai bersinar, lebih terang dari sebelumnya. Cahaya spiral di tengah peta itu berputar, melepaskan cahaya putih bersih yang lembut, menyentuh tepi bayangan itu.