Penulis: Elvira Putri Hanindita

Akhir Petualangan


Kabut itu bukan kabut biasa. Ia hidup. Ia berbisik. Ia mencuri warna langit dan menggulung seluruh negeri ke dalam kelam. Satu per satu, bintang jatuh dan padam.

Lira berlari ke puncak awan tertinggi. Di sana, kristalnya bergetar hebat, memancarkan cahaya lembut. “Tunjukkan jalanku,” bisiknya.

 

Dari cahaya itu muncul seekor burung transparan, sayapnya terbuat dari pecahan cahaya bulan. Ia menunduk pada Lira dan berkata dengan suara selembut kabut,

“Cahaya tak akan pernah hilang, hanya tertidur di dalam keberanian.”

 

Lira menaiki punggung burung itu. Mereka terbang melintasi kabut yang menggulung, melawan arus kegelapan yang ingin menelan segalanya. Setiap kali ia takut, kristalnya berpendar hangat—dan sedikit demi sedikit, kabut memudar.

 

Ketika akhirnya cahaya kembali, negeri awan bersinar lagi. Lira menatap sekeliling, dan menyadari sesuatu: kristalnya telah hancur, namun sinarnya kini ada di dadanya. Ia tersenyum. Ia tak lagi mencari cahaya di luar dirinya—karena ia telah menjadi cahaya itu.