Di negeri yang tak tercatat di peta mana pun, langit selalu berwarna ungu muda, dan kabut awan menggantung rendah seolah ingin menyentuh bumi. Di sanalah Lira tinggal—seorang gadis kecil yang memiliki mata seindah cahaya rembulan yang terperangkap di air.
Setiap hari, ia duduk di tepi jurang langit, menatap ke bawah, ke dunia manusia yang tak pernah ia kunjungi. “Mereka bilang, di sana ada cahaya yang bisa membuat mimpi menjadi nyata,” gumamnya sambil menggenggam kristal kecil pemberian ibunya.
Kristal itu berdenyut lembut setiap kali Lira merasa rindu. Ibunya pernah berkata, “Cahaya sejati bukanlah yang bersinar paling terang, tapi yang tetap ada meski dikelilingi gelap.” Namun Lira belum benar-benar mengerti maknanya—hingga hari kabut datang.