Halo, perkenalkan nama saya Nazila Ayattul Husna, tetapi teman-teman biasanya memanggil saya Nazila atau Zila. Saya lahir di Sidoarjo pada tanggal 12 Januari 2011, dan saat ini saya berusia 14 tahun. Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara, dan saya memiliki seorang adik perempuan yang selalu menjadi teman bermain saya. Saya tinggal bersama keluarga saya di Desa Cangkring Turi, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo. Di rumah, saya sering membantu orang tua mengerjakan pekerjaan rumah, sekaligus bercanda dan bermain bersama adik saya.
Sekarang, saya sedang menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Wonoayu dan duduk di kelas 3. Sebagai seorang pelajar, saya selalu berusaha untuk rajin belajar dan berprestasi, karena saya ingin membanggakan kedua orang tua saya. Selain belajar, saya juga senang mengikuti berbagai kegiatan di sekolah, baik akademik maupun non-akademik, agar bisa menambah pengalaman dan melatih kemampuan diri.
Sejak kecil, saya sudah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang Polwan. Alasannya sederhana, karena menurut saya sosok Polwan terlihat sangat keren, tegas, berani, dan berwibawa. Setiap kali melihat Polwan yang sedang bertugas, saya merasa kagum dengan cara mereka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Dari situlah, tumbuh keinginan dalam diri saya untuk bisa menjadi seperti mereka suatu hari nanti.
Namun, ketika saya duduk di kelas 4 SD, cita-cita saya sempat berubah. Saat itu, saya sangat tertarik dengan profesi dokter. Saya ingin menolong orang sakit agar bisa sembuh, karena menurut saya pekerjaan dokter adalah pekerjaan yang sangat mulia. Bahkan, saya sering membayangkan diri saya mengenakan jas putih dan menolong pasien dengan sabar.
Meskipun begitu, seiring berjalannya waktu, keinginan itu mulai memudar. Saya menyadari bahwa sejak awal, hati saya selalu kembali pada cita-cita pertama saya, yaitu menjadi seorang Polwan. Bagi saya, Polwan bukan hanya sekedar pekerjaan, melainkan tugas yang sangat penting untuk melindungi dan membantu masyarakat. Itulah mengapa, hingga sekarang saya tetap bertekad untuk berusaha keras, belajar dengan sungguh-sungguh, serta menjaga kedisiplinan agar suatu saat bisa mewujudkan impian saya menjadi Polwan yang tangguh dan membanggakan orang tua saya.
Saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya di sekolah. Ketika masuk kelas 1 SMP, saya berminat mengikuti ekstrakurikuler paskibra. Lalu saat saya duduk di kelas 2, ada pihak kecamatan yang mengadakan seleksi untuk memilih pasukan pengibar bendera pusaka. Dari sekian banyak siswa, hanya anak-anak yang terbaik dari yang terbaik yang dipilih. Alhamdulillah, saya terpilih menjadi salah satu anggota paskibra kecamatan. Pada saat latihan, saya mendapat banyak bimbingan dari bapak TNI dan bapak Polisi. Dari mereka saya belajar arti kedisiplinan, kerja keras, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas. Saya melihat mereka sangat profesional, tegas, dan penuh rasa tanggung jawab, hal itu membuat saya semakin termotivasi dan kagum.
Salah satu hal yang paling membekas di hati saya adalah nasihat dari bapak pembina, bahwa:
“Ketika kita sudah dipilih, itu artinya kita dipercaya untuk menjalankan tugas. Maka kita harus melaksanakan dengan sungguh-sungguh, tanpa mengeluh, tidak menyia-nyiakan kesempatan, dan selalu bertanggung jawab. Karena banyak orang lain yang berharap mendapat kesempatan tersebut, tapi tidak semuanya bisa terpilih.”
Kata-kata itu menjadi motivasi yang kuat bagi saya untuk selalu menghargai setiap kesempatan yang datang dan menjalaninya dengan penuh tanggung jawab.
Selain itu, saya juga memiliki beberapa alasan lain mengapa saya ingin menjadi seorang Polwan. Saya ingin mengabdi kepada bangsa dan negara dengan cara berkontribusi dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta memberikan perlindungan kepada masyarakat. Menurut saya, menjadi Polwan bukan hanya sekedar profesi, tetapi juga sebuah bentuk panggilan hati untuk melayani dan memberikan rasa aman bagi orang lain. Polwan memiliki peran penting karena bisa lebih dekat dengan masyarakat, terutama dalam menangani kasus-kasus yang melibatkan perempuan dan anak-anak. Dengan hadirnya Polwan, korban dapat merasa lebih nyaman untuk bercerita dan mencari perlindungan. Hal inilah yang semakin memotivasi saya, karena saya ingin membantu, dan melindungi masyarakat yang membutuhkan.
Bagi saya, menjadi Polwan juga bukan hanya tentang profesi, tetapi juga tentang pengembangan diri. Seorang Polwan dilatih secara fisik, mental, disiplin, kepemimpinan, serta kemampuan bekerja sama dalam tim. Semua itu akan membentuk karakter yang kuat, tangguh, namun tetap penuh empati. Saya juga berharap dengan menjadi Polwan, saya bisa menjadi contoh dan inspirasi bagi perempuan lain, bahwa wanita juga mampu berkarir di bidang yang penuh tantangan dan bisa membuktikan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Selain belajar, saya memiliki beberapa hobi yang sering saya lakukan di waktu luang untuk mengisi hari-hari agar tetap seimbang. Saya senang membaca buku karena selain menambah pengetahuan, juga dapat memperluas wawasan dan cara berpikir saya. Membaca bagi saya bukan hanya kegiatan biasa, tetapi juga menjadi cara untuk melatih konsentrasi dan memperkaya diri dengan berbagai pengalaman baru melalui tulisan.
Saya juga suka menonton video di YouTube, baik yang berisi hiburan maupun pengetahuan baru. Kegiatan ini terasa menyenangkan karena saya bisa sekaligus belajar hal-hal ringan dengan cara yang lebih santai. Biasanya saya merasa sangat nyaman ketika menonton video di YouTube sambil ngemil, bahkan kadang sambil makan, sehingga waktu luang terasa lebih menyenangkan.
Selain itu, saya juga gemar mendengarkan musik. Bagi saya, musik adalah teman terbaik untuk menemani aktivitas sehari-hari, sekaligus menjadi cara ampuh untuk menenangkan pikiran setelah lelah beraktivitas. Mendengarkan alunan musik membuat suasana hati menjadi lebih baik dan memberikan semangat baru untuk menjalani hari berikutnya.
Saya juga punya beberapa hal yang cukup khas dari diri saya. Misalnya, saya merasa risih ketika sedang fokus pada satu hal tetapi ada orang yang terus-menerus bertanya kepada saya. Saya juga merasa sedih ketika orang tua saya sudah menasehati saya, namun saya belum bisa melakukan apa yang mereka inginkan. Saya sedih karena merasa masih belum bisa membanggakan orang tua saya sepenuhnya, padahal saya sangat ingin melihat mereka bahagia.
Orang tua saya adalah sumber semangat dan inspirasi terbesar dalam hidup saya. Ayah dan ibu selalu mendukung setiap langkah yang saya ambil, mendoakan saya, serta memberikan nasihat yang membimbing saya ke arah yang lebih baik. Keinginan terbesar saya adalah bisa membahagiakan mereka dengan mewujudkan cita-cita saya menjadi Polwan. Saya ingin kelak orang tua saya bangga melihat anaknya sukses, dan bermanfaat bagi orang lain.
Untuk rencana ke depannya, setelah lulus SMP saya berkeinginan melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 1 Krian. Di SMA nanti, saya ingin terus berlatih disiplin, mengasah kemampuan fisik, serta meningkatkan prestasi akademik. Setelah lulus SMA, saya bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke Akademi Kepolisian (Akpol). Agar bisa benar-benar mempersiapkan diri menjadi Polwan. Itu adalah langkah besar yang ingin saya capai demi mewujudkan impian saya.
Itulah sedikit cerita tentang diri saya, pengalaman, serta motivasi saya untuk menjadi seorang Polwan. Saya percaya bahwa dengan kerja keras, doa, dukungan keluarga, serta semangat pantang menyerah, cita-cita saya ini dapat terwujud. Saya yakin bahwa suatu saat nanti saya mampu membanggakan kedua orang tua, membahagiakan keluarga, serta mengabdi kepada bangsa dan negara sebagai seorang Polwan. Menjadi Polwan bukan hanya impian bagi saya, tetapi juga sebuah tekad untuk memberikan yang terbaik demi masyarakat, bangsa, dan negara.
ʚɞ ʚɞ
“𝓙𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓽𝓪𝓴𝓾𝓽 𝓶𝓮𝓷𝓬𝓸𝓫𝓪 𝓭𝓪𝓷 𝓳𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓽𝓪𝓴𝓾𝓽 𝓰𝓪𝓰𝓪𝓵, 𝓴𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓴𝓮𝓰𝓪𝓰𝓪𝓵𝓪𝓷 𝓪𝓭𝓪𝓵𝓪𝓱 𝓵𝓪𝓷𝓰𝓴𝓪𝓱 𝓪𝔀𝓪𝓵 𝓶𝓮𝓷𝓾𝓳𝓾 𝓴𝓮𝓼𝓾𝓴𝓼𝓮𝓼𝓪𝓷. “
𝓝𝓪𝔃𝓲𝓵𝓪
ʚɞ ʚɞ