Penulis: 9HEROIC

HARTA KARUN


 

 

Perahu kecil Mila dan Bimo terombang-ambing di antara ombak biru yang semakin tinggi. Langit cerah, tapi angin membawa aroma petualangan yang membuat jantung Mila berdegup cepat.

 

“Mila, kamu yakin peta ini beneran?” tanya Bimo sambil memegang kemudi dengan wajah pucat. “Soalnya… garis-garisnya aja udah hampir hilang.”

 

Mila mengangkat gulungan peta tua itu, memperhatikan tinta yang pudar. “Tentu! Lihat, tanda X-nya tepat di dekat Karang Hitam. Kalau bukan harta, apa lagi?”

 

“Masalahnya,” gumam Bimo, “Karang Hitam itu angker. Banyak rumor kapal hilang di sana.”

 

Mila hanya tersenyum lebar. “Kalau semua orang takut, ya nggak ada yang bakal nemuin rahasianya.”

 

Begitu mereka mendekat, air di sekitar berubah warna menjadi biru tua berkilau. Mila mencondongkan tubuh, mencoba melihat ke dasar laut.

 

“Bim! Lihat!” Ia menunjuk ke bawah. Dari balik keruhnya air, terlihat peti kecil tersangkut di celah karang.

 

“Itu dia!” serunya penuh antusias.

 

Bimo menelan ludah. “Kamu duluan atau aku?”

 

“Kita bareng.” Mila menggenggam tangan Bimo erat. “Ayo!”

 

Mereka menyelam bersama. Air dingin menusuk kulit, tapi rasa takut tersapu oleh adrenalin. Dengan usaha keras, mereka menarik peti itu dari karang dan membawanya ke permukaan.

 

Begitu peti terbuka, mereka terkesiap. Tidak ada emas, tidak ada perhiasan—hanya kompas antik dengan casing perunggu yang berkarat.

 

“Serius? Kompas doang?” Bimo mengerutkan dahi.

 

Mila mengamati jarum kompas yang berputar cepat, lalu tiba-tiba berhenti menunjuk lurus ke barat. Diam, tidak bergerak sedikit pun.

 

“Bimo… kompas ini kayak ngajak kita pergi ke tempat lain,” kata Mila pelan.

 

Bimo menatap horizon barat yang diselimuti kabut tipis. “Ke sana? Tapi itu arah Laut Mata Singa. Ombaknya berbahaya, Mi.”

 

Mila menggenggam kompas itu, menatapnya seolah memegang kunci dunia lain. “Setiap harta besar pasti butuh keberanian besar.”

 

Bimo menghela napas panjang. “Aku ikut, tapi kalau kita dimakan gurita raksasa, itu salah kamu.”

 

Mila tertawa. “Deal.”

 

Mereka mengangkat layar perahu, mengikuti arah kompas. Ombak semakin bergelombang, dan suara laut terdengar seperti bisikan.

 

“Kamu denger itu?” tanya Bimo pelan. “Kayak… suara seseorang.”

 

Mila mengangguk, matanya membesar. “Seperti… petunjuk.”

 

Tiba-tiba percikan cahaya muncul jauh di depan, tepat di arah yang ditunjuk kompas. Cahaya itu bergerak pelan, seperti memanggil mereka.

 

“Bimo,” kata Mila dengan suara bergetar antara takut dan takjub, “apa pun itu… kita harus cari tahu.”

 

Bimo menahan napas. “Kayaknya petualangan kita beneran baru mulai sekarang.”

 

Perahu mereka terus melaju ke arah cahaya misterius, sementara laut bergemuruh, seolah menyambut awal perjalanan yang jauh lebih besar daripada sekadar peti di Karang Hitam.

 

Dan untuk pertama kalinya, mereka berdua tak tahu apakah mereka sedang

 mendekati harta… atau sesuatu yang sama sekali berbeda.