
Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas sungai kecil yang membelah Desa Tirta. Udara terasa lembap dan segar, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Arman, seorang anak yang gemar mengamati alam, sudah duduk di atas batu besar sejak fajar. Kedua kakinya ia ayunkan pelan, sesekali menyentuh butir embun yang menempel di tepi batu.
“Ayo muncul lagi…,” gumamnya lirih,
setengah berharap, setengah menantang misteri kecil yang selama beberapa hari terakhir memenuhi kepalanya.
Sudah hampir seminggu ia menyaksikan bayangan aneh itu,sesuatu yang tampak seperti cahaya yang menari di permukaan air. Setiap kali muncul, cahaya itu hanya bertahan beberapa detik sebelum menghilang begitu saja, membuat Arman semakin penasaran.
Tak lama kemudian, seolah mendengar panggilannya, bayangan itu muncul lagi. Cahaya itu tampak lembut, berkedip-kedip mengikuti arus, lalu memanjang dan memutar seperti hendak membentuk sesuatu. Mata Arman membesar.
“Itu dia!” serunya, meski tetap lirih, takut membuatnya menghilang begitu saja.
Kali ini, rasa takut dalam dirinya tergeser oleh rasa ingin tahu. Ia meraih ranting panjang di sampingnya, lalu perlahan merunduk, mendekat ke permukaan air yang tenang.
“Apa sih kamu sebenarnya?” tanyanya pelan, seolah cahaya itu mampu menjawab.
Begitu ujung ranting menyentuh air, cahaya itu tiba-tiba terpecah,pecah menjadi lingkaran-lingkaran kecil yang menyebar ke segala arah, lalu perlahan bergerak mendekatinya. Arman terkejut dan hampir menjatuhkan ranting itu, namun rasa kagumnya lebih kuat.
Saat lingkaran-lingkaran cahaya itu memudar, barulah ia melihat sumbernya: sekumpulan ikan kecil berwarna perak, sisik mereka memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai muncul dari balik pepohonan. Ikan-ikan itu berenang riang, berputar-putar seolah sengaja membuat pertunjukkan kecil untuknya.
“Oh… kalian toh yang dari tadi bikin aku penasaran,” ucap Arman sambil tersenyum lega.
Ikan-ikan itu tidak pergi. Mereka justru semakin mendekat, mengitari batu tempat Arman duduk. Beberapa di antaranya melompat kecil di permukaan air, membuat riak yang menyebar pelan. Arman tertawa kecil, merasakan hangat yang aneh,hangat yang tidak berasal dari matahari, tetapi dari perasaan bahwa ia tidak sendirian lagi.
“Mulai sekarang, aku bakal datang tiap pagi,” katanya pelan namun mantap. “Kalian temanku, ya?”
Ikan-ikan itu kembali berenang berputar, seperti mengangguk setuju. Arman merasa seolah sungai itu menyambut dirinya, seolah alam sedang membuka pintu kecil untuk berteman dengannya.
Sejak hari itu, pagi Arman tak lagi sunyi. Ia datang bukan lagi untuk mencari bayangan misterius, tetapi untuk menyapa para ikan yang telah mengusir kesendiriannya di tepi sungai. Setiap kedatangannya selalu disambut riak kecil dan kilauan perak yang menari, membuat Arman merasa bahwa sungai itu menyimpan cerita yang jauh lebih indah daripada misteri yang dulu ia kejar.
Dan di tengah kabut pagi Desa Tirta, sebuah persahabatan sederhana pun lahir,persahabatan antara seorang anak dan sekumpulan ikan kecil yang mengajarinya bahwa keajaiban terkadang hadir dalam bentuk yang paling sederhana.