Penulis: 9HEROIC

CAHAYA DI TENGAH KEGELAPAN


 

 

 

 

 

 

Angin malam berembus pelan ketika Lani berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah. Lampu jalan yang biasanya menyala kini padam, menyisakan kegelapan yang membuat langkahnya ragu. Di tangannya, tergenggam erat sebuah tas kecil berisi buku-buku sekolah yang tadi dipinjamnya dari perpustakaan.

 

Di tengah gelap itu, hanya suara gesekan daun dan detak jantungnya sendiri yang menemani. Lani menelan ludah. Ia tahu jalan ini aman, tetapi tanpa cahaya, semuanya terasa berbeda.

 

Ketika ia membelok di tikungan, seberkas cahaya kecil tiba-tiba tampak dari kejauhan. Semakin ia mendekat, cahaya itu semakin terang, seperti kunang-kunang yang tak pernah lelah berkedip. Lani mempercepat langkah, penasaran sekaligus waspada.

 

Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah lampion kertas kecil berwarna merah—sendirian, menggantung pada dahan pohon rambutan di tepi jalan. Lampion itu bergoyang perlahan, memancarkan cahaya lembut yang menenangkan hati.

 

Lani mengernyit. Siapa yang menaruh lampion di sini? pikirnya.

 

 

Saat ia mendekati lampion itu, seseorang tiba-tiba muncul dari balik batang pohon besar. Seorang anak laki-laki sebaya, wajahnya lembut dan ramah. Ia tersenyum sambil memegang korek kecil.

 

 

“Kamu juga lewat sini?” tanyanya.

 

 

Lani mengangguk ragu. “Iya. Lampunya mati semua. 

Aku jadi takut.”

 

 

Anak itu menunjuk lampion. “Aku bawa lampion dari rumah. Ibu bilang, kalau kita takut dengan kegelapan, jadilah orang yang menyalakan cahaya. Jadi aku gantung lampion ini, siapa tahu ada yang butuh.”

 

 

Lani terdiam. Kalimat itu begitu sederhana, tapi rasanya menenangkan—seperti lampion itu sendiri.

 

 

“Namamu siapa?” tanya Lani.

 

“Bima,” jawabnya. “Kalau mau, aku antar sampai depan rumahmu. Aku memang lagi menyalakan lampion di sepanjang jalan ini.”

 

 

 

Mereka berjalan bersama. Di sepanjang perjalanan, Lani melihat beberapa lampion lain tergantung di 

pohon-pohon, menerangi jalan setapak yang tadinya kelam. Jalan itu kini tampak seperti lorong cahaya kecil yang hangat.

 

Saat mereka hampir sampai di rumah Lani, ia menghentikan langkahnya.

 

 

“Terima kasih, Bima. Lampion-lampionmu… sudah membuatku berani.”

 

 

Bima tersenyum, memegang lampion terakhir di tangannya. “Kadang, kita cuma butuh sedikit cahaya untuk menemukan arah.”

 

Lani mengangguk pelan. Kata-kata itu terpatri dalam hati.

 

Ketika Bima melanjutkan perjalanan, Lani menatap lampion-lampion yang bergantung di sepanjang jalan. Meski kecil, mereka mampu mengusir kegelapan. Dan ia yakin, mulai malam ini, ia pun ingin menjadi seseorang yang menyala

kan cahaya bagi dirinya sendiri, dan bagi orang lain