Penulis: 9HEROIC

TELOR YANG MENOLAK DITETASIN


Pagi itu, Darto menemukan sebutir telor berdiri tegak di meja makan. Bukan diletakkan—telornya berdiri sendiri seperti sedang protes.

“Aku tidak mau ditetaskan,” kata telor itu dengan suara serak seperti baru bangun tidur lima abad.

Darto mengedip. “Kok bisa ngomong?”

“Aku kursus,” jawab telor itu singkat.

Belum sempat Darto menjawab, lemari es tiba-tiba membuka pintunya sendiri dan berteriak, “JANGAN PERCAYA DIA! DIA SUDAH MENUNGGAK UANG KOS DI DALAM KULKAS!”

Telor itu mendesis, “Itu fitnah. Aku cuma pinjam rak paling atas.”

Tiba-tiba sendok teh melompat dari laci dan memukul lantai sambil menangis, “AKU SUDAH BOSAN DIPUTER DI GELAS TEH PANAS! AKU MAU HIDUP BEBAS!”

Sementara itu, kompor memutuskan untuk mengambil cuti dan menempelkan surat izin di permukaannya:

> “Libur. Capek masak terus. Salam, Kompor.”

Darto benar-benar bingung. Ia memutuskan membawa telor itu ke luar rumah. Namun ketika keluar, langit ternyata diganti wallpaper oleh seseorang: semua awan berbentuk kucing senam aerobic.

“Tempat apa ini…” gumam Darto.

Telor di tangannya tiba-tiba bergetar. “Oke, aku jujur. Sebenarnya aku bukan telor. Aku agen rahasia dari Organisasi Anti Sarapan.”

Belum sempat Darto bereaksi, telor itu memecah… bukan menjadi isi telor, tapi menjadi dua ekor semut yang memakai jas formal.

“Kami harus pergi,” kata salah satu semut sambil menyalami jari Darto. “Terima kasih sudah tidak menggoreng kami.”

Lalu kedua semut itu berjalan menuju sandal jepit Darto, naik ke atasnya, dan menghilang seperti teleportasi murah.

Darto hanya berdiri, bingung.

Di belakangnya, kulkas tiba-tiba muncul di luar rumah dan berteriak,

“OKE, SEKARANG SIAPA YANG MAU BAYAR LISTRIK AKU?!”

Darto menyerah. Ia duduk di teras sambil menatap langit kucing senam dan memutuskan satu hal:

“Aku nggak mau sarapan lagi. Terlalu berbahaya.”