Persahabatan Abadi
Pada pagi yang cerah, Zara dan Lusi duduk dibawah pohon mangga di halaman bawah pohon mangga di halaman sekolah. Mereka tertawa bersama sambil bercerita tentang cita-cita masing-masing.
“Kalau aku besar nanti, aku ingin jadi dokter supaya bisa menolong orang,” kata Zara penuh semangat.
Sinta tersenyum dan menjawab, “Kalau aku ingin jadi guru, supaya bisa mengajarkan banyak anak seperti kita.”
Hari demi hari mereka selalu bersama, belajar, bermain, dan saling membantu. Ketika Zara sakit dan tidak bisa masuk sekolah selama seminggu, Lusi datang setiap sore membawa buku catatan pelajaran. Ia bahkan menulis pesan kecil di ujung buku Zara:
“Cepat sembuh ya, sahabatku. Aku tunggu di bangku depan.”
Itulah bentuk kasih sayang sederhana yang membuat persahabatan mereka semakin kuat.
Tahun berganti, mereka tumbuh dewasa dan mengejar impian masing-masing. Walau kini jarak memisahkan, mereka tak pernah lupa untuk saling mengirim kabar. Setiap kali bertemu, kenangan masa kecil selalu menjadi bahan tawa. Mereka sadar, waktu mungkin berubah, tetapi persahabatan sejati tak akan pernah pudar, karena hati yang tulus akan selalu menemukan jalan untuk tetap bersama.