Kebahagiaan di halaman rumah
“Dinda, jangan lupa siram bunga di halaman, ya!” teriak Ibu dari dapur.
“Iya, Bu, sebentar lagi!” jawab Dinda sambil menaruh ponselnya.
Ia pun beranjak keluar rumah dengan malas, tapi begitu melihat bunga-bunga yang mulai layu, hatinya jadi iba. Dengan perlahan, ia menyiram satu per satu pot bunga yang ditanam bersama ibunya dulu.
Saat air mengalir dari selang, Dinda mulai tersenyum melihat warna-warna bunga yang kembali segar. Seekor kupu-kupu hinggap di kelopak mawar, membuat suasana pagi semakin indah. Tanpa sadar, ia merasa tenang dan bahagia. Kegiatan sederhana itu ternyata bisa membuat pikirannya lebih jernih setelah seminggu sibuk dengan tugas sekolah.
Ketika Ibu keluar membawa segelas jus, Dinda berkata, “Ternyata nyiram bunga enak juga, Bu.
Rasanya kayak ngobrol sama alam.” Ibunya tertawa bahagia.
Keesokan harinya, Dinda bangun lebih pagi dari biasanya. Ia langsung menuju halaman dengan semangat membawa ember kecil dan sapu lidi.
“Wah, sekarang kamu rajin sekali,” kata Ibu sambil tersenyum dari pintu.
Dinda tertawa, “Soalnya aku nggak mau lihat bunganya layu lagi, Bu.”
Ia pun membersihkan daun-daun kering dan menata pot bunga agar terlihat lebih rapi.
Sambil bekerja, Dinda mulai merasa halaman rumahnya jadi tempat paling nyaman. Udara pagi, suara burung, dan aroma tanah yang basah membuatnya tenang. Ia mulai berpikir untuk menanam bunga baru agar halaman makin indah.
“Bu, nanti sore kita beli bibit bunga lagi, ya!” katanya dengan gembira.
Sore harinya, Dinda dan ibunya pergi ke toko tanaman. Mereka berdua memilih bibit bunga matahari dan melati.
Di perjalanan pulang, Dinda berkata, “Ternyata hal kecil kayak gini bisa bikin aku bahagia, ya, Bu.”
Ibunya tersenyum hangat dan menjawab, “Karena kamu menumbuhkan cinta, bukan cuma bunga.”