Penulis: Ririn Zaskia Fitri

POSSESSION [01]


Semua mata tertuju padanya. Putri Duke Raylend, Serena Raylend, yang belakangan ini dijuluki penyihir jahat yang gila cinta putra mahkota.

Para bangsawan, rakyat, keluarga kerajaan, bahkan tamu-tamu kerajaan yang datang dari jauh, semuanya menatap kearahnya. Sebagian besar tatapan itu berupa amarah dan kebencian, sedangkan sebagian yang lain berupa iba.

Wanita yang disebut jahat, gila, dan tak berperasaan itu berdiri tidak berdaya di belakang tiang gantungan. Maut persis di depan matanya. Manik matanya yang dipenuhi kebencian dan keputusasaan itu dengan sayu menatap Putra Mahkota Kerajaan Isidora, Theron Ashley Isidora.

"Theron, padahal aku mencintaimu. " Rintihnya lirih. Ia sudah menahan sakit lantaran tak diberi makanan sama sekali selama mendekam di penjara istana.

Putra mahkota membalasnya dengan tatapan jijik dan hina.

"Bukan, Itu bukan Cinta, Itu obsesi Serena. Kau tidak mencintaiku, kau terobsesi padaku"

"Serena Raylend pelaku kejahatan meracuni minuman calon putri mahkota dengan sengaja akan dijatuhi hukuman mati. Apakah anda menyesali perbuatan anda Terdakwa Serena?" Ahli hukum raja membacakan dakwaannya.

"Kenapa diam saja? katakan apakah kau menyesal! " Tanya Raja penuh amarah sebelum hukuman dijalankan.

"Aku tidak menyesal yang mulia, aku tidak akan pernah menyesal. Erish, dia mengambil semua yang seharusnya jadi milikku, haha!" Serena menjeda kalimatnya dengan tawa mencela.

"Erish pantas mati" Serena menatap sekilas wajah Putra Mahkota dengan tajam lalu menutup matanya. Ia sudah sangat siap mati.

"Eksekusi dia sekarang!" Kata Sang Raja.

"Baik yang mulia"

"TIDAK! JANGAN! JANGAN! SAYA MOHON JANGAN YANG MULIA! HUKUM SAJA SAYA JANGAN PUTRI SAYA, YANG MULIA SUDAH MENGHUKUM KEDUA PUTRA SAYA, SAYA TIDAK PUNYA APA-APA LAGI SELAIN PUTRI SAYA YANG MULIA, SAYA MOHON! SAYA MOHON!"

Tangisan dan rintihan putus asa dari Sang Duke, laki-laki yang bisa dipastikan sebagai Ayah dari gadis yang sebentar lagi dihukum gantung itu tidak digubris raja sama sekali.

"Kau memang pantas mendapatkannya, Serena." Hukuman dijalankan. Wanita itu mati sambil mengutuk Erish, calon putri mahkota baik hati yang disayangi seluruh rakyat, namun menjadi penyebab kematiannya. 

 

              ⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹

 

Di sisi lain

"Dengarkan aku dulu Erish, aku-

"Cukup Sagan! tidak perlu membela diri lagi. Aku kemari hanya untuk mengucapkan salam perpisahan. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Kamu jahat, kamu orang paling jahat yang pernah aku kenal. Aku kecewa padamu. Aku membencimu. "

Erish Waverly, wanita yang sebentar lagi akan menjadi putri mahkota itu pergi meninggalkan pangeran ke-3 Kerajaan Isidora, Sagan Loyd Isidora yang tengah menjalani masa hukumannya.

"Erish... Erish... E-Erish... E...rish... Eri..sh... ERISH!!!!!"

Malam semakin menggelap karena cahaya bulan mulai tertutupi awan hitam. Salju bertiup sangat kencang. Hawa dingin terasa menusuk bagaikan pedang yang mampu membunuh siapapun, namun Pangeran Sagan sama sekali tidak berniat untuk menyalakan perapian.

Pangeran Sagan tampak frustasi, atau mungkin lebih tepatnya sudah bisa disebut gila. Nafasnya tersengal sengal, bibirnya yang sudah kering dan pecah-pecah membiru. Kulitnya yang sudah seputih salju memucat. Kulit dibawah matanya menghitam. Rambutnya lebih buruk dari sekedar berantakan. Sudah tak ada lagi kata-kata di dunia ini yang mampu menggambarkan kesedihannya. Air matanya telah kering, Ia tak bisa menangis lagi.

Alasan mengapa Ia menjalani masa hukuman tidak lain adalah Lady Erish sendiri. Ia membantai seluruh keluarga yang menentang Erish menjadi putri mahkota demi kebahagiaannya, Sagan mencintainya. Namun inilah bayarannya, kejahatan akan menemukan karmanya. Erish yang hatinya sebaik malaikat menganggapnya pria jahat pembunuh. Erish juga tidak mencintainya. Erish mencintai saudara seayahnya, Sang Putra Mahkota. Perasaan yang tersisa untuk Sagan hanyalah kebencian dan rasa kecewa.

Karena merupakan seorang pangeran, Sagan tidak dihukum mati atas tindakannya. Ia hanya diasingkan di negeri dingin bersalju abadi di ujung utara dan tidak boleh lagi kembali ke istana. Namun, hukuman mati pun rasa rasanya jauh lebih baik daripada hukuman yang Sagan terima sekarang. Hukuman dibenci dan diabaikan oleh wanita yang sangat Ia cintai.

Tangan penuh luka Pangeran Sagan meraba raba mencari sesuatu. "Sekarang apa gunanya aku hidup?"

Tidak ada seorangpun disana ketika Sagan menikamkan pedang ke jantungnya. Ia mati sendirian, kedinginan, dan menanggung beribu-ribu beban penyesalan juga kekecewaan.

 

              ⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹

 

Sementara itu di dunia Ivy

"LOH! APA BANGET DEH! MASA ENDINGNYA GINIIII!!" Ivy membanting novel fantasy yang belakangan ini sedang Ia baca. Ia kesal. Novel itu Happy Ending, Namun karakter favoritnya semuanya mati. Ivy menjejak jejakkan kakinya di kasur untuk melampiaskan kekesalannya.

Sebenarnya salahnya sendiri yang malah mengidolakan tokoh antagonis dan pemeran pria kedua dibanding mengidolakan para pemeran utama nya.

"Hiks.. hiks.. kakak villain cantik gue.. Second Lead kesayangan gue.. huaaaa" Ia mulai menangis. Bantalnya basah karena Air mata. Tanpa disadari, perlahan Ia sudah terlelap sembari bergumam.

“Kalau aku jadi Kak Serena, aku akan tinggalin Theron bodoh itu dan nggak akan gangguin Erish! mendingan sama Pangeran Sagan yang tulus dan setia daripada sama pria brengsek itu.”

Kasihan Kak Serena...

Padahal dia nggak salah..

Erish yang rebut semuanya dari dia..

Ivy mengigau.

Detik demi detik di malam dingin itu terlewati. Pagi hari sudah tiba dengan matahari menampakkan setengah wujudnya.

Ivy memaksa matanya yang masih berat itu untuk terbuka. Ia mematikan suara dering Alarm, suara yang paling Ia benci selama hidup di dunia ini. Badannya pegal semua karena tertidur dengan posisi tengkurap. Ivy mengikat asal rambutnya yang berantakan sembari berjalan ke kamar mandi.

Tapi belum juga kakinya mencapai kamar mandi, Ponselnya berdering berulangkali membuatnya putar balik ke arah sumber suara. Ternyata Ia mendapat telepon dari bos nya. Bos nya marah marah karena katanya file pembukuan pengeluaran perusahaan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan dan menuduhnya sebagai pencuri uang perusahaan.

Ivy mendecak kesal sambil menendang meja. Namun Ia langsung meringis kesakitan ketika ternyata meja cukup keras untuk membuat ibu jari kakinya terasa ngilu.

Lagi-lagi Ivy yang dituduh bersalah.

Selalu saja Ia yang disalahkan, entah itu kesalahan seniornya, rekannya ataupun bos nya sendiri, selalu Ivy yang dijadikan kambing hitam di kantor. Inilah salah satu alasan mengapa Ivy memilih mengidolakan tokoh figuran dibandingkan pemeran utama di novel yang Ia baca, karena Ia merasa nasib mereka sama. Selalu disalahkan, dan tak pernah mendapatkan ending yang bahagia.

Baru saja Ia ingin melangkah ke kamar mandi lagi, Ia merasakan jarum suntik ditancapkan ke lengannya. Tubuhnya lemas seketika, seakan orang yang lumpuh dan tak berdaya berbuat apa apa. Lalu seorang pria bertubuh jangkung dengan pakaian serba hitam menyeretnya. Bagaimana laki laki sebesar itu bisa menyusup ke apartemennya? bagaimana Ia bisa melewati satpam dan para penjaga?

"kasihan sekali kau, sudah jadi karyawan yang digaji rendah, tapi harus jadi tumbal demi menutupi kebusukan bossmu ck ck ck... Maaf ya aku dibayar bosmu untuk membunuhmu, mau bagaimana lagi, soalnya kalau tidak kulakukan anakku akan mati kelaparan besok pagi. selamat tinggal nona, semoga di kehidupanmu yang selanjutnya kau lahir jadi anak orang kaya ya..

Pria bertubuh jangkung itu melempar Ivy dari atas balkon.

AAAAAA!!!

BRAK!

Habis sudah masa hidup Ivy di dunia. Padahal Ia masih belum mau mati. Ia belum pernah makan cumi asam manis di pinggir pantai sambil menikmati matahari terbenam, atau makan ramyeon hangat sambil menikmati matahari terbit di puncak gunung.

Dipikir pikir lagi, ternyata Ia belum melakukan semua hal seru selama hidupnya. Semua yang Ia lakukan hanya tentang bekerja demi bertahan hidup. 

 

              ⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹

 

"HA!"

'Dimana ini?!'

Jelas jelas Ivy mati sambil mengumpati bosnya, harusnya yang Ia lihat pertama kali adalah pemandangan neraka. Ada apa dengan desain interior mewah dan kasur super empuk ini? apakah di neraka ada fasilitas seperti ini?

"Nona, syukurlah anda sudah bangun!"

Apa apaan pula dengan wanita yang memakai baju pelayan ini? Apakah penjaga neraka berpenampilan seperti ini? Ataukah ini bukan di neraka? Apakah Ia masih hidup lalu mereka sedang cosplay?

"Pangeran Sagan yang menyelamatkan anda, Nona. Anda harus berterima kasih setelah ini, ya?"

"Sst! Lily! Nona Serena bisa memotong lidahmu jika kamu tidak berhenti bicara"

"ah ma-maafkan saya nona, saya hanya terlalu senang karena nona selamat!"

Pangeran Sagan? Lily? Nona Serena? Nama nama itu sungguh tak asing. Apakah mereka sedang syuting film? Ivy beranjak bangun mencari cermin. Ditatapnya pantulan dirinya yang tergambar jelas di cermin itu.

Bukan, bukan Ivy Dahlia yang dilihatnya. Wajah ya

ng sangat cantik ini jelas jelas visual yang digambarkan Author sebagai karakter antagonis novel favorit nya, Serena.

"SERENA?!!!”