Harmoni di Sudut Desa
Di sebuah desa kecil bernama Tegalwangi, ada sebuah sudut yang selalu membuat siapa pun yang lewat merasa damai. Sudut itu berupa jalan kecil yang diapit pepohonan besar, rerumputan hijau, dan sebuah sungai jernih mengalir perlahan seperti sedang bersenandung. Warga desa menyebutnya Lorong Harmoni.
Setiap pagi, Aira—anak kelas 8 yang tinggal di dekat sungai—selalu melewati lorong itu untuk berangkat sekolah. Baginya, Lorong Harmoni bukan sekadar jalan pintas, tapi tempat untuk menenangkan diri. Ia sering berhenti sejenak hanya untuk mendengarkan kicau burung atau melihat cahaya matahari menembus sela daun, membentuk pola yang indah di tanah.
Namun suatu hari, suasana damai itu berubah. Ketika Aira lewat, ia melihat plastik berserakan di antara rumput. Ada bekas bungkus minuman, plastik keripik, bahkan botol air mengambang di sungai jernih yang dulu selalu bersih. Aira mengernyit, hatinya sedikit perih.
“Siapa sih yang buang sampah sembarangan di sini?” gumamnya kesal.
Saat pulang sekolah, ia menemukan jawabannya. Ternyata beberapa anak dari kampung sebelah nongkrong di tepi sungai sambil makan jajanan. Setelah selesai, mereka melempar sampah begitu saja. Aira mendekat, memberanikan diri.
“Eh, kak… itu sampahnya jangan dibuang sembarangan dong. Ini kan tempat umum,” ujarnya sopan tapi tegas.
Salah satu anak menjawab ketus, “Lah, emang kenapa? Udah dari dulu juga begini.”
Aira menghela napas. Kalau ia marah, tidak akan menyelesaikan apa pun. Jadi ia memilih cara lain.
Keesokan harinya, Aira mengajak teman-teman sekolahnya: Bina, Rafi, dan Della. Bersama, mereka membawa karung dan sarung tangan. Mereka memunguti sampah di sepanjang Lorong Harmoni, membersihkan sungai, dan menata kembali tempat itu. Tak lupa, mereka memasang papan kayu bertuliskan:
“JAGA LORONG HARMONI. LINGKUNGAN ASRI MILIK KITA SEMUA.”
Warga desa mulai memperhatikan. Beberapa ibu-ibu ikut membawa sapu, bapak-bapak ikut memperbaiki jembatan kecil. Bahkan anak-anak dari kampung sebelah akhirnya meminta maaf dan ikut membantu saat melihat perubahan itu.
Dalam seminggu, Lorong Harmoni kembali seperti dulu—bahkan lebih cantik. Udara terasa lebih sejuk, sungai bening kembali, dan burung-burung yang sempat pergi mulai kembali bernyanyi.
Aira tersenyum. Ia sadar, menjaga lingkungan bukan hanya tugas orang dewasa atau pemerintah. Kadang, perubahan besar bisa dimulai dari satu langkah kecil, bahkan dari seorang anak.
Dan sejak hari itu, Lorong Harmoni benar-benar hidup sesuai namanya—tempat di mana alam, manusia, dan ketenangan hidup berdampingan dalam harmoni.