Bel pulang berbunyi kencang di SMP Astrala Cita. Semua siswa berlarian keluar dari kelas. Elyra mengemas barang barang dan menyusul keluar kelas. Kali ini ia tidak pulang, melainkan pergi ke perpustakaan. Ia dengan sukarela mengajukan diri membantu membersihkan perpustakaan yang baru selesai direnovasi.
"Permisi..." ucap Elyra sambil mengetuk daun pintu.
"Masuk saja, Nak." Bu Lastri, usianya sekitar 50-60 tahun dan sudah lama berkerja menjaga perpustakaan sekolah. Ia mengangkat sebuah kardus—yang sepertinya berisi buku—kemudian ditumpuk dengan kardus-kardus lain.
Leyra mendekat ke Bu Lastri, "Saya mau membantu bersih-bersih perpustakaan, Bu," ucap Elyra sopan.
Bu Lastri mengangguk, kemudian menunjuk pintu gudang. "Kamu bisa bantu ambilkan sisa kardus di gudang?" tanyanya sambil tersenyum.
"Bisa, Bu." Elyra melangkah memasuki gudang dengan pencahayaan remang.
Terlihat ada 4 kardus yang belum diangkat ke depan. Ia mulai mengangkat satu-persatu kardus dari yang paling atas hingga kini tersisa satu kardus yang paling bawah.
Aduh yang ini berat sekali. Lebih berat dari tiga kardus tadi. Gerutu Elyra.
Elyra berhasil mengangkatnya, tetapi ia menemukan sesuatu yang tertimpa oleh kardus terakhir. Sebuah buku harian yang telah usang. Elyra mengambilnya. Ia mengibaskan debu yang menempel pada sampul, terlihat sebuah nama. Hilmi Hamezartx.
ZRRTT!!
Kepalanya pusing, semua menjadi berputar kemudian Elyra hanya melihat gelap. Tubuhnya serasa diguncang oleh seseorang, hingga ia terbangun berada di ruang kelas dengan teman sebangkunya yang masih mengguncang lengan, mencoba membangunkannya.
Dimana ini? Siapa anak laki-laki ini?
ZRRTT!!.. Kepalanya pusing sejenak dan beberapa saat kemudian seperti orang yang baru sadar dari linglung.
oh ini ruang kelas. Dan anak laki-laki ini adalah sahabatku.
"Akhirnya bangun juga. Tidur mulu kamu, Ra. Katanya pulang sekolah mau ke perpus? Ini sekarang udah bel pulang, lho!" ucap anak laki-laki itu dengan nada sedikit kesal.
Elyra bingung, "Bukannya aku tadi udah ke perpus?"
"Dih, kapan? Daritadi kamu cuma tidur. Mimpi kali!" Anak laki-laki itu mulai sebal dan menarik tangan Elyra.
"Eh, mau kemana?"
"Ke Perpustakaan, Elyra!"
Berarti tadi cuma mimpi? Eh, mamangnya tadi aku mimpi apa? Sudahlah, aku tidak ingat.
Tak sadar sedari tadi anak laki-laki itu menggenggam dan menarik tangan Elyra erat. Seketika ia menghentikan langkah. Menepis genggaman tangan. Ia tidak suka dengan hal semacam ini. Sementara yang ditepis menoleh dengan raut muka bingung.
"Kamu kenapa, Ra?"
"Jangan pegang-pegang aku." Elyra mengatakan dengan wajah marah dan ketidaksukaan.
"Tapi kenapa?..." Anak laki-laki kaget dan bertanya sendu.
"Kamu ini siapa? Enak saja menggenggam tanganku sembarangan!" galak Elyra.
"Aku ini sahabatmu. Kamu ini kenapa? Apa kamu tidak mengenal sahabatmu sendiri? Aku Hilmi Hamezartx."
ZRRTT!!
Kilatan memori kembali berputar seperti radio rusak di kepala Elyra. Kali ini lebih menyakitkan. Kepalanya seolah akan meledak. Elyra memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Ia berjongkok. Menjerit dan meraung kesakitan. Perlahan air matanya jatuh meluruh melewati pipi.
"Elyra! Elyra!" Anak laki-laki itu terus meneriakkan nama Elyra. Tubuhnya bergetar penuh khawatir.
ZRRTT!!
Dunia terasa berputar. Putih. Semuanya berwarna putih. Terang sekali, sampai-sampai Elyra memicingkan matanya.
Rambut kepalanya serasa dibelai oleh seseorang. Lembut sekali belaian itu. Ia merasa nyaman. Terdengar suara perempuan bersenandung elok nan merdu. Kemudian perempuan itu samar-samar bergumam membangunkannya.
Elyra mengerjapkan mata, menyesuaikan cahaya di dalam ruangan. Dimana ini? Perpustakaan? Bukan aku tadi berada... berada... Entahlah dia tidak ingat sama sekali.
"Kamu sepertinya kelelahan, nak. Pulanglah dan istirahat yang cukup," Bu Lastri berkata dan tersenyum. Ternyata senandung dan gumaman tadi berasal dari Bu Lastri. Elyra tertidur dengan posisi duduk di meja kursi perpustakaan. Bu Lastri duduk di sampingnya.
Elyra mengangguk, "Maaf ya, Bu. Elyra ketiduran, mungkin lain kali Elyra bantu ibu lebih baik lagi. Saya permisi," ucap Elyra sopan.
"Maaf ya, mungkin kedepannya kamu akan jauh lebih lelah. Tapi kamu akan mengerti suatu hari nanti. Sebuah buku itu akan menuntunmu," Bu Lastri berkata, tapi Elyra hanya mengernyit tidak paham, mengedikkan bahu, kemudian berjalan pulang.
Tanpa Elyra sadari, sebuah benda ikut terbawa pulang olehnya. Benda yang entah bagaimana bisa berada dalam tas ranselnya. Benda itu adalah Buku Harian Usang milik seseorang yang ditemukannya di gudang perpustakaan sekolah. Ada apa dengan buku itu? Apa yang sebenarnya terjadi?
~ Bersambung ~
Nantikanlah Bab Selanjutnya..
• From writer to reader
Gimana? Gimana? Sejauh ini seru nggak ceritanya? Bingung ya. Wkwkwk. Aku yang nulis aja juga bingung huhu.. ( T - T) kalau sejauh ini kalian bacanya gak nyambung atau gak cocok, berarti ini bukan genre kalian. Dan jangan dipaksain juga ya. Kalau yang biasanya baca fantasi, yuk nantikan bab bab seru selanjutnya. Ini masih awal ya, jadi belum jelas alurnya😌🙏🏻
Buat yang masih gapaham tapi pengen paham, yaudah aku jelasin aja lah ya, intinya karakter utama itu berada dalam dua dimensi. Setiap perpindahan dimensi dia akan jadi linglung atau gak ingat apa yang terjadi sebelumnya. Perpindahan dimensi akan selalu ditandai dengan "ZRRTT!!" Ya guyss!
Terus apa korelasi antara judul dengan cerita ini yah? HEH MULUT SIAPA ITU? INI MASIH BAB 1 LOH! intinya nantikan aja kelanjutannya sesuai mood writer ini🙃. Oh iya satu lagi, mungkin setiap bab itu pendek" Karena.. Karena apa ya? Adalah pokonya. Gak semua hal lo harus tau. Begitulah pokoknya.
~ Thanks for Reading ~