Penulis: maylinda cinta aficha

bab 1-asal usul desa Wonoayu


Di sebuah desa kecil di pinggir hutan Wonoayu, hidup seorang anak laki-laki bernama Banyu. Banyu dikenal sebagai anak yang pemberani dan sangat menyukai cerita tentang hutan di dekat desanya.

​Orang tua Banyu sering mengingatkan agar tidak masuk terlalu jauh ke dalam hutan Wonoayu. Kata mereka, hutan itu dijaga oleh sosok gaib yang bijaksana bernama Mbah Wono, penjaga pepohonan tua dan aliran sungai. Namun, rasa penasaran Banyu terlalu besar. Suatu sore saat mencari kayu bakar, ia melihat seekor burung kepodang berbulu emas tersangkut di semak-semak duri. Tanpa ragu, Banyu melangkah makin dalam ke tengah hutan untuk menolong burung tersebut.

​Setelah Banyu berhasil melepaskan sayap burung itu dari ikatan duri, kejadian ajaib pun terjadi. Burung itu terbang ke atas dahan pohon beringin raksasa, lalu berubah menjadi cahaya keemasan yang silau. Dari balik cahaya, muncul seorang kakek berjanggut putih panjang dengan pakaian serba putih dan tongkat kayu ukir. Dialah Mbah Wono.

​"Anak muda," ucap Mbah Wono dengan suara berat namun lembut, "engkau memiliki hati yang tulus. Jarang ada manusia yang mau menolong makhluk lain di dalam hutanku tanpa rasa takut atau niat jahat."

​Mbah Wono kemudian memberikan Banyu sebuah kantung kain kecil berisi benih-benih tanaman berwarna hijau berkilau. Kakek itu berpesan agar benih tersebut ditanam di sekitar pemukiman desa dan dirawat dengan kasih sayang.

​Banyu berterima kasih lalu berpamitan pulang. Sesampainya di desa, ia menceritakan pertemuannya kepada warga. Bersama-sama, mereka menanam benih dari Mbah Wono di sekeliling desa. Hanya dalam hitungan hari, benih itu tumbuh menjadi tanaman obat dan pepohonan buah yang sangat lebat. Sejak saat itu, Desa Wonoayu selalu terhindar dari kekeringan dan kemelaratan, serta warganya hidup rukun menjaga kelestarian hutan di sekitar mereka.