Matahari baru saja terbit, memancarkan sinar keemasan yang menembus sela-sela pepohonan di Desa Popoh. Pagi itu, langkah kaki Pak Darmo berhenti tepat di depan gapura jalan masuk menuju makam Mbah Liwon, sosok yang dipercaya masyarakat sebagai salah satu leluhur pembuka wilayah tersebut. Dengan takzim, ia memanjatkan doa, menghormati babad alas yang membuat desa ini tetap damai dan tenteram hingga hari ini.
"Mengapa tempat ini dinamakan Popoh, Kek?" tanya cucunya, Rian, yang sejak tadi mengekor di belakang sambil mengamati bangunan gapura bergaya khas Jawa yang tampak kokoh.
Pak Darmo tersenyum. Sambil mengajak Rian duduk di bawah rindangnya pohon, ia mulai berkisah.