Jauh sebelum menjadi sebuah pemukiman yang ramai, wilayah Wonokalang di Sidoarjo merupakan sebuah hutan belantara yang lebat dan sunyi. Tempat ini dikenal dengan sebutan "Wono", yang berarti hutan, dan menjadi wilayah perbatasan atau tempat singgah masyarakat kuno yang disebut "Kalang". Di tengah keheningan rimba raya inilah, sejarah besar mulai diukir. Seorang ulama besar yang memiliki garis keturunan luhur dari keluarga Sunan Kalijaga dan Sunan Ngundung datang melangkah. Beliau adalah Syekh Ja'far, atau yang juga dikenal dengan gelar Pangeran Raden Mas Honggo Kusumo. Dengan keyakinan penuh dan niat menyebarkan syiar Islam, beliau memulai babat alas—membuka keheningan hutan liar itu menjadi sebuah tempat yang baru.
Dengan keteguhan hati, Syekh Ja'far mengubah hutan belantara yang sepi menjadi sebuah pemukiman yang berkah dan tertata. Tempat yang awalnya hanya berupa pembatas hutan tersebut kini lahir kembali dengan nama Desa Wonokalang. Tidak hanya membangun pemukiman fisik, beliau juga menanamkan nilai-nilai keagamaan yang kuat di hati para penduduknya. Waktu pun berlalu, namun jejak perjuangan sang ulama tidak pernah pudar. Hingga hari ini, makam beliau yang berada di Dusun Plombokan berdiri tegak sebagai simbol sejarah, menjadi pusat wisata religi, dan terus dihormati oleh anak cucu sebagai sosok pelindung dan pembuka gerbang peradaban Desa Wonokalang.