Penulis: Tirtania Afrina Dhia Nuramalina

Rumah yang Selalu Menatap


   Di desa kecil bernama Lembah Senja, ada sebuah rumah yang selalu dianggap aneh oleh penduduknya. Letaknya terpisah dari pemukiman lain, berdiri sendirian di tepi hutan berkabut yang dipenuhi pepohonan tua. Orang-orang desa sering berkata bahwa rumah itu “menatap” siapa saja yang lewat, seolah memiliki mata yang selalu terjaga.

  Tak banyak yang berani mendekat, kecuali satu orang—gadis yang tinggal di dalamnya. Ia jarang terlihat di jalanan, jarang berbicara pada siapa pun, dan lebih sering muncul hanya saat pagi buta untuk mengambil air di sumur sebelum desa benar-benar terbangun. Bagi penduduk, ia adalah misteri yang berjalan dalam wujud manusia.

  Sebagian orang menyebutnya pembawa sial. Katanya, sejak gadis itu tinggal di rumah itu, ternak beberapa warga mati mendadak, anak-anak sering mimpi buruk, dan setiap malam tertentu terdengar suara seperti dentingan kaca bercampur bisikan dari arah hutan. Tidak ada yang tahu apakah semua itu kebetulan, atau benar-benar karena gadis itu.

  Namun tidak semua orang membencinya—sebagian hanya takut dan memilih pura-pura tidak tahu. Mereka seperti menutup mata agar tidak perlu mencari jawaban. Sebab dalam benak banyak orang, lebih mudah mempercayai ketakutan daripada kebenaran.

  Gadis itu bernama Loona, meski hanya sedikit yang tahu. Suaranya lembut, tatapannya kosong namun tenang, dan langkahnya selalu seperti bayangan—ada, namun tidak pernah benar-benar terasa. Ia tak pernah meminta apa pun pada siapa pun, hidup dengan caranya sendiri, seolah seluruh dunia di luar hutan bukan miliknya.

  Pada suatu pagi, ketika kabut belum benar-benar terangkat, seorang pemuda pendatang baru memasuki desa. Ia tidak tahu tentang larangan tak tertulis mengenai rumah di tepi hutan. Pemuda itu berdiri di ujung jalan desa sambil memandangi rumah tua yang setengah tertutup embun, tanpa rasa takut sedikit pun, seolah justru tertarik untuk mendekat.

  Penduduk yang melihatnya hanya bisa saling pandang. Mereka berbisik pelan, berusaha menahan keingintahuan mereka sendiri. Sebab semua orang tahu... siapa pun yang penasaran dengan rumah itu, lambat laun akan terseret ke dalam misterinya.

  Dan pagi itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dari jendela lantai dua rumah tua itu, sepasang mata mengamati sang pendatang balik. Tenang, sunyi, dan seolah sedang menimbang. "apakah ia datang sebagai tamu… atau sebagai ancaman?"