“ mama… “
" sakit…. "
“ maaf.. maafin aku.. aku tidak tau apa apa, kenapa aku di pukul.. ? “
“ hiks.. "
Isak seorang gadis berusia 10 tahun. Aku meneteskan air mata, namun tidak berisik dan tidak bersuara, tetapi terdapat perasaan yang terpendam di hatiku, meskipun begitu, aku tetap menahan semuanya sendirian.
“ Aku tidak mengetahui apa permasalahan keluarga, tapi kenapa aku yang menjadi pelampiasan ? “
Kalimat yang sama, serta banyak kata kata menyakitkan yang terus berputar di kepala ku. Kepalanya terasa berisik, banyak hal hal liat yang tidak seharusnya ia pikirkan di usia kecilnya.i
Tak lama setelahnya….
tok tok tok 🚪
“ mia ? "
“ kamu di dalam nak ? "
“ bunda bisa minta tolong… ? "
“ buka pintunya sebentar ? bisa tidak ?.. cantik ? “
Pinta dari sosok wanita yang sering di panggil “ bunda " oleh anak bernama " Mia Eleanor “. wanita dewasa itu mengetuk pintu kamar putri tunggal kesayangan nya beberapa kali dengan lembut, sambil menempelkan telinga dan wajahnya di pintu kamar, dengan wajah yang pucat, dan tubuh yang lemas, namun berusaha kuat untuk menemui gadis kecilnya, mendengar samar putri kecilnya yang sedang menangis tersedu-sedu, namun seolah tertahan oleh keadaan membuat hatinya seperti tertusuk ribuan pisau.
“ bunda ga marah,,sayang… “
" buka pintunya sebentar dong .. “
" bunda mau lihat anak cantiknya bunda.. masa ga boleh ? hmm… ? “
Walaupun tidak mendengar sahutan atau jawaban satupun dari anak tercinta nya, dia bukan seorang ibu yang mudah putus asa, apalagi jika menyangkut kebahagiaan anak satu satunya yang ia miliki. Dia tau, bahwa Mia merupakan gadis kecil yang sedang bertumbuh dewasa, namun di iringi oleh luka dan duka yang di torehkan keluarganya sendiri.
~~ Sore tadi, di taman bermain~~
“ MIA ! PULANG KAMU ! KAMU GA LIHAT MAMA KAMU LAGI SAKIT DI RUMAH ?! HAH ?!! “
" KAMU URUS TUH MAMA KAMU !! “
" PAS KAMU SAKIT, KAMU DI RAWAT, DI SAYANG SAYANG LOH !! BALES BUDI SEDIKIT KEK !! JADI TUNG ANAK GA TAU DI UNTUNG !!! “
Seorang paruh baya yang menghampiri ku dengan wajah yang merah padam, seolah menandakan dia sedang marah besar. dengan menggenggam kantong plastik di tangan kanan dan tangan lainnya membawa botol air putih. Terdapat keringat yang bercucuran di area wajahnya, nafasnya sedikit tersengal.
Aku menundukkan kepala, tak berani menatap nenekku, dan tak bisa melakukan apa apa, setelah nenekku melangkah meninggalkan tempatku berada, aku mulai mengikutinya perlahan dari belakang dengan memikirkan apa salahku, dan apa kecerobohan ku.
~~ kembali ke dalam cerita ~~
Clek
Aku memberanikan diri untuk menemui bunda, karena aku merasa bersalah, meninggalkan sosok ibu yang sedang sakit sendirian di rumah dan malah bersenang senang bebas di luar tanpa merasa ada sesuatu yang kurang.
“ …., mama ? “
Panggilku dengan suara pelan dan sayu.
grep
Tanpa ada aba aba, bunda memelukku, membuatku mematung sejenak, lalu aku melingkarkan kedua tanganku ke pinggang bunda, ikut memeluk bunda, merasakan hangatnya suasana, dan merasakan luapan cinta yang sangat banyak.
Pelukan itu berlangsung lama, seakan bunda enggan melepaskanku. Aku juga bisa merasakan tubuhnya yang lemah, napasnya yang tidak teratur, namun tangannya tetap mengusap punggungku dengan penuh kasih.
“Mulai sekarang… kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendiri, ya, nak. Bunda ada di sini, buat kamu.”
Suara bunda lirih, tapi tegas.
Aku hanya mengangguk pelan di perutnya, meskipun hatiku masih diliputi rasa takut.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat di lorong rumah. Berat dan cepat, lalu berhenti tepat di depan kamar.
“ Jadi di sini kalian berdua…”
suara nenekku terdengar tajam, penuh kegeraman. Aku langsung menegang, tubuhku bersembunyi lebih dalam di pelukan bunda.
Bunda menoleh, wajahnya menegang, tapi ia tetap mencoba tenang.
“Bu, tolong… jangan marah dulu. Mia hanya butuh waktu—”
“Waktu ?!”
potong nenek dengan suara tinggi.
“Anak itu perlu diberi sedikit pengajaran, bukan dimanja! Kalau dari kecil nggak tahu balas budi, nanti besarnya makin jadi-jadi ! ”
Aku memejamkan mata erat-erat. Hatiku berdegup kencang, seakan semua udara di kamar mendadak hilang.
Namun kali ini, bunda tidak diam. Dengan suara bergetar tapi penuh keberanian, ia berkata,
“Cukup, Bu. Jangan bilang anak saya begitu lagi. Dia masih kecil, dia tidak pantas mendengar kata-kata seperti itu.”
Ruangan seakan hening sesaat. Nenek terdiam, jelas kaget dengan keberanian bunda yang biasanya selalu diam.
Aku menatap wajah bunda. Ada air mata di matanya, tapi juga ada keberanian yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Untuk pertama kalinya, aku merasa… mungkin bunda benar-benar bisa melindungiku.
“ hah….. “
Terdengar suara helaan nafas dari seseorang, yang ternyata adalah nenekku sendiri.
“ kamu ini, setidaknya jangan terlalu lembut kepada anakmu, walau dia darah dagingmu, didiklah dia dan perbaikan sikapnya, buat dia tumbuh menjadi wanita dewasa dengan sikap pribadi yang kuat, tegar, tidak mudah menyerah, jadi apa anak kamu kalau terlalu di manjakan ?, hanya itu nasihat yang bisa ibu sampaikan.. “
" maaf ya, kalau nenek menaruh bekas luka di hati kamu, nenek mau ketika kamu dewasa, kamu menuruni semua sifat dari bunda kamu, baik, pintar, cantik, tegar, kuat… “
" sehat sehat ya kalian berdua… "
grepp
tidak sesuai seperti apa yang aku bayangkan, aku mengira bahwa keluarga bukanlah tempat ternyaman untuk berbagi suka dan duka, namun ternyata salah,
Aku mengira alam semesta tidak mengizinkan ku berbahagia lewat keluarga, ternyata alam semesta ingin aku belajar dari segala hal yang telah berlalu atau bahkan hal yang tak tidak sempat aku saksikan.
Sejak hari itu, semuanya perlahan berubah.
Tidak ada lagi teriakan yang membuatku ingin bersembunyi di balik pintu kamar.
Tidak ada lagi tatapan amarah yang membuatku merasa seperti beban dunia.
Nenekku mulai belajar menyampaikan sayangnya kepadaku tanpa harus meninggikan suara.
Bunda mulai terbuka kepadaku, menceritakan pahit manis di hidupnya.
Dan aku… mulai percaya bahwa rumah bukan lagi tempat yang menakutkan.
Pelukan-pelukan mulai menggantikan bentakan.
Nasihat hangat mulai menggantikan amarah.
Dan aku mulai tumbuh… bukan karena rasa takut,
melainkan karena cinta sebesar samudra yang di berikan, sehingga bisa aku rasakan tanpa ragu.
Dulu, aku selalu berpikir keluarga adalah sumber luka.
Ada masa di mana aku merasa dunia menolakku untuk berbahagia.
Tapi kini aku tahu…
kadang jalan menuju kebahagiaan memang dimulai dari air mata yang paling dalam.
Aku menatap kedua orang yang kini memelukku tanpa syarat itu,
dan sebuah keyakinan kuat baru saja tumbuh dalam diriku
> Aku pantas dicintai.
Aku pantas disayangi.
Aku pantas bahagia.
Jika saat ini aku menangis…
itu bukan lagi karena sakit.
Melainkan karena… akhirnya, aku bisa merasakan kehangatan..