Di sebuah sekolah menengah pertama, hiduplah seorang siswa bernama Rizky. Rizky adalah anak yang baik hati dan tidak nakal, namun akhir-akhir ini ia sering terlihat murung, sering mendesah, dan wajahnya selalu cemberut. Setiap kali pulang sekolah, tasnya ia lempar sembarangan, lalu ia akan merebahkan tubuhnya di kasur dengan perasaan kesal.
"Ah, hidup ini membosankan sekali!" gerutunya suatu sore di kamarnya sendirian. "Tugas numpuk seperti gunung, pelajaran makin susah dimengerti, harus bangun pagi buta, dan banyak sekali aturan yang mengikat. Lihat deh yang lain, hidupnya enak-enak saja, main terus, bebas melakukan apa saja, punya barang-barang mahal. Kenapa nasib aku begini sih? Rasanya tidak adil!"
Rizky merasa hidupnya sangat berat dan penuh tekanan. Ia sering membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Ia iri melihat teman yang punya gadget canggih, iri melihat yang bisa jalan-jalan ke luar kota, dan merasa tertekan dengan tuntutan belajar yang semakin berat. Ia lupa bahwa dirinya sedang berada di fase penting dalam kehidupan, yaitu masa remaja awal atau masa SMP. Ia tidak mengerti posisi dan keadaan dirinya saat ini.
Suatu hari, saat suasana hati Rizky sedang sangat buruk dan ia sedang mengeluh panjang lebar kepada orang tuanya, Kakeknya yang sedang berkunjung mendengarnya. Kakek tersenyum tipis, lalu mendekati Rizky dan duduk di samping cucunya itu.
"Kenapa wajahmu murung sekali, Nak? Seolah-olah dunia ini sudah mau kiamat saja," tanya Kakek dengan suara lembut dan tenang.
Rizky yang merasa ada tempat untuk curhat, akhirnya meluapkan semua kekesalannya. "Kek, aku capek. Rasanya pengen cepat besar saja, pengen jadi orang dewasa yang punya uang sendiri, bisa beli apa saja yang aku mau, dan tidak ada yang menyuruh-nyuruh atau melarang-larang ini itu. Rasanya jadi anak SMP itu susah sekali, Kek. Banyak aturan, banyak tugas, banyak tuntutan. Aku tidak suka keadaan aku yang sekarang."
Kakek mendengarkan dengan sabar, sesekali menganggukkan kepala tanpa memotong pembicaraan. Setelah Rizky selesai bicara dan merasa lega, Kakek tidak langsung memarahi atau menasihatinya dengan kata-kata keras. Sebaliknya, Kakek berdiri lalu mengambil sebuah nampan berisi tiga buah mangga dengan tingkat kematangan yang berbeda-beda: satu masih hijau dan keras, satu setengah matang, dan satu lagi sudah kuning ranum.
"Coba kamu ambil yang ini, Nak. Coba gigit sedikit," kata Kakek sambil menyodorkan mangga yang masih hijau.
Rizky penasaran, lalu menggigitnya sedikit. Baru saja masuk ke mulut, wajahnya langsung berkerut dan ia langsung meludahkannya. "Waduh, asem banget Kek! Masih mentah dan keras ini. Rasanya tidak enak sama sekali."
"Nah, kalau yang ini bagaimana?" Kakek menawarkan yang setengah matang.
Rizky mencobanya. "Hmm, agak manis sih Kek, tapi masih ada rasanya asem, dan dagingnya masih keras. Belum enak dimakan banyak-banyak."
Terakhir, Kakek menyodorkan mangga yang sudah berwarna kuning cerah dan terlihat empuk. Rizky menggigitnya, dan seketika matanya berbinar-binar. "Wah, ini enak banget Kek! Manis, lembut, dan segar. Enak sekali!"
Kakek tersenyum bijak melihat ekspresi cucunya. "Kamu tahu kan bedanya, Nak? Buah itu punya masanya sendiri-sendiri. Kalau dipetik saat masih hijau, rasanya pasti pahit atau masam. Tidak ada yang mau membelinya dan tidak ada yang mau memakannya. Tapi kalau dibiarkan tumbuh dengan sabar, menyerap sinar matahari, menyerap air hujan, dan menunggu waktunya tiba, dia akan berubah menjadi manis, lezat, dan sangat berguna."
Kakek meletakkan buah-buahan itu, lalu menatap mata Rizky dalam-dalam. "Begitu juga dengan usiamu sekarang, Nak. Kamu sedang berada di fase 'mangga setengah matang'. Kamu bukan lagi anak kecil kecil yang bisa bermain seharian tanpa memikirkan apa-apa, tapi kamu juga belum menjadi orang dewasa yang bisa mengambil keputusan sendiri, bekerja mencari nafkah, dan hidup mandiri sepenuhnya."
"Masa SMP itu adalah masa pematangan," lanjut Kakek dengan nada yang dalam. "Tugas-tugas sekolah yang menumpuk, disiplin yang ketat, pelajaran yang makin sulit, dan aturan yang harus dipatuhi itu ibarat sinar matahari dan air hujan bagi pohon mangga tadi. Itu semua bukan untuk menyiksamu, tapi itu adalah proses alami untuk membuatmu 'manis', kuat, dan siap nanti saat waktunya tiba untuk terjun ke masyarakat."
"Jangan iri melihat orang lain yang sudah 'ranum' atau sudah sukses, karena mereka juga pernah melalui fase seperti kamu sekarang. Mereka juga pernah belajar, pernah lelah, dan pernah berjuang. Jangan juga ingin cepat-cepat jadi dewasa, karena setiap fase kehidupan punya porsinya masing-masing. Kalau kamu memaksakan diri untuk berbuah sebelum waktunya, hasilnya tidak akan maksimal, bahkan bisa busuk."
"Pahamilah keadaanmu, Nak. Kamu sedang dibentuk, sedang diasah karakter dan ilmunya, dan sedang dipersiapkan untuk masa depan yang besar. Di usia SMP ini, otakmu sedang dalam masa pertumbuhan paling cepat, tenagamu masih sangat kuat, dan ingatanmu masih tajam. Ini adalah waktu emas untuk menimba ilmu."
Rizky terdiam lama sekali, merenungi setiap kata yang keluar dari mulut Kakeknya. Ia mulai sadar bahwa selama ini ia salah besar dalam memahami posisinya. Ia mengeluh dan merasa menderita karena ia tidak mengerti bahwa apa yang ia jalani sekarang adalah sebuah proses yang wajib dilalui. Ia merasa berat karena ia menolak keadaan, bukan menerimanya.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan, Kek?" tanya Rizky pelan, matanya mulai berkaca-kaca menyadari kebodohannya selama ini.
"Pahamilah keadaanmu, Nak," jawab Kakek tegas namun lembut. "Pahami bahwa saat ini tugas utamamu adalah belajar dan berbakti. Jangan menyia-nyiakan waktu dengan mengeluh dan membandingkan nasib dengan orang lain. Terimalah bahwa menjadi siswa SMP itu berarti harus belajar, harus berusaha, dan harus taat aturan. Itu bukan beban, tapi itu adalah bekal paling berharga. Kalau kamu mengerti posisimu sekarang, kamu tidak akan merasa terbebani, tapi justru kamu akan bersemangat karena kamu tahu ke mana arah tujuanmu."
Sejak hari itu, pandangan hidup Rizky berubah total. Ia tidak lagi mengeluh saat diberi tugas yang banyak. Ia tidak lagi iri melihat gaya hidup teman-temannya yang lain. Ia mulai memahami bahwa ia sedang berada di fase transisi yang sangat krusial.
Ia sadar, menjadi anak SMP berarti bertanggung jawab atas masa depannya sendiri. Ia mulai menikmati proses belajar, menghargai waktu, dan bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menuntut ilmu dan dibimbing oleh orang tua serta guru. Rizky mengerti sepenuhnya, bahwa untuk menjadi buah yang manis, berguna, dan dibutuhkan orang banyak kelak, ia harus sabar, ikhlas, dan bersyukur melewati masa pertumbuhannya sekarang.
Puisi
Di usia yang sedang melangkah dewasa,
Di masa transisi, di bangku SMP,
Ada hati yang sering merasa resah,
Mengeluh beban, merasa lelah dan lemas.
Sering kali kau bertanya dalam dada,
Kenapa harus belajar, kenapa harus berjuang?
Melihat orang lain hidupnya terasa enak,
Sedang dirimu serasa terikat dan terikat.
Wahai anak muda, tenangkanlah pikiran,
Pahamilah posisi, mengertilah keadaan,
Kau bukan lagi bocah yang bebas bermain,
Namun belum juga dewasa yang mandiri sepenuhnya.
Masa SMP ini adalah masa pembentukan,
Seperti pohon yang sedang menebalkan batang,
Otakmu tajam, tenagamu masih membara,
Ini waktu emas yang takkan terulang kembali.
Jangan iri melihat yang sudah berbuah manis,
Mereka pun dulu pernah menahan pahit dan perih,
Jangan ingin cepat-cepat menua dan besar,
Sebab setiap fase punya takdir dan waktunya sendiri.
Tugas yang menumpuk, pelajaran yang berat,
Itu bukan siksaan, itu adalah pengasah,
Menyiapkan akal agar kelak tak bingung,
Membentuk karakter agar kuat menghadapi tantangan.
Pahamilah keadaanmu saat ini sedang dibentuk,
Diasah pikirannya, dilatih kesabarannya,
Jangan menyia-nyiakan detik yang berlalu,
Dengan keluh kesah yang tak ada habisnya.
Syukuri apa yang ada, jalani apa yang ada,
Menjadi siswa adalah anugerah yang besar,
Belajar dengan ikhlas, berusaha dengan sungguh,
Karena masa depan dibangun dari masa kini yang teguh.
Pahami dirimu, pahami waktumu,
Di sini, di saat ini, di usiamu yang muda,
Sebab bila kau mengerti posisi dan tujuanmu,
Hidupmu akan tenang, dan sukses akan menyapamu.
"Ketika kita memahami keadaan, kita dapat mengenali apa yang dapat kita kendalikan dan apa yang harus kita Terima. Ini memberi kita kebebasan dalam merespon dengan bijaksana terhadap setiap situasi."
---Marcus Aurelius.
" Kita tidak dapat mengubah keadaan di luar kendali kita, tetapi kita dapat mengubah cara kita meresponsnya."
---Epiktetus.