Penulis: KANIA RAIHAN

Rahasia Jam Tua di Loteng


Bab 1 – Loteng yang Terlupakan

Hujan turun perlahan membasahi atap rumah tua itu. Bunyi rintiknya menciptakan irama sunyi yang terasa menenangkan sekaligus sedikit menyeramkan.

Lila berdiri di depan tangga kayu menuju loteng. Sudah lama ia penasaran dengan tempat itu. Sejak kecil, neneknya selalu melarangnya naik ke sana.

“Di atas cuma barang lama, nggak ada apa-apa,” kata nenek dulu.

Tapi justru karena itu, rasa ingin tahu Lila semakin besar.

Hari ini, saat nenek tertidur siang, Lila akhirnya memberanikan diri.

Kriiieet…

Tangga kayu berderit saat ia melangkah naik. Debu beterbangan, membuatnya sedikit batuk. Udara di loteng terasa dingin dan lembap, dengan aroma kayu tua yang kuat.

Ia menyalakan senter dari ponselnya.

Rahasia Jam Tua di Loteng

Di sekelilingnya terdapat banyak barang: koper usang, kursi patah, tumpukan buku kuno, dan lukisan-lukisan yang warnanya mulai pudar.

Namun sesuatu menarik perhatiannya.

Sebuah peti kayu di sudut ruangan.

Peti itu berbeda. Tidak berdebu seperti yang lain, seolah… sering disentuh.

Lila mendekat.

Tangannya ragu-ragu saat menyentuh permukaan peti itu. Ukiran di atasnya terlihat rumit—seperti pola jam dan garis-garis melingkar.

“Aneh…”

Rahasia Jam Tua di Loteng

Ia membuka peti itu perlahan.

Cahaya keemasan langsung menyembur keluar.

Di dalamnya sebuah jam tua.

Jam itu indah. Sangat indah.

Berwarna emas dengan ukiran klasik, jarumnya bergerak halus, dan anehnya… masih berdetak.

Padahal jelas itu jam kuno.

Detak… detak… detak…

Lila menelan ludah.

Saat ia menyentuh jam itu.

Cahaya semakin terang.

Udara di sekelilingnya bergetar.

Dan dunia… mulai berputar.

Bab 2 – Tahun yang Bukan Miliknya

Tubuh Lila terasa ringan, lalu tiba-tiba—

BRUK!

Ia jatuh di tanah.

Bukan di loteng.

Ia langsung bangkit, panik.

Di sekelilingnya… bukan rumah neneknya.

Bangunan-bangunan tinggi dengan gaya kuno berdiri di kanan-kiri jalan. Lampu jalan berbentuk klasik, orang-orang berjalan dengan pakaian jadul—gaun panjang, topi fedora, jas tua.

“Ini… apa?” bisiknya.

Suasana terasa hidup, tapi berbeda.

Seorang pria menatapnya aneh. Seorang wanita berbisik ke temannya sambil menunjuk ke arah Lila.

Lila sadar.

Pakainnya berbeda dari mereka.

“Aku… di mana?” gumamnya.

“Hey!”

Sebuah suara membuatnya menoleh.

Seorang anak laki-laki berdiri di sana. Rambutnya sedikit acak, pakaiannya sederhana.

“Kamu tersesat?” tanyanya.

Lila mengangguk pelan. “Iya…”

Anak itu mengamatinya. “Kamu bukan dari sini, ya?”

Lila terdiam.

“Aku Arga,” katanya sambil tersenyum kecil. “Dan kamu… kelihatan seperti baru jatuh dari langit.”

Lila hampir tertawa, tapi rasa bingungnya lebih besar.

“Sekarang… ini tahun berapa?”

Arga mengernyit.

“Kamu serius?”

“Iya.”

“1925.”

Dunia Lila seperti berhenti.

1925?

Tangannya gemetar saat melihat jam tua itu masih ada di genggamannya.

Sekarang ia tahu.Ini bukan mimpi.

Bab 3 – Jejak Masa Lalu

Hari mulai gelap saat Arga membawa Lila ke tempat tinggalnya—sebuah rumah kecil di pinggir kota.

Di sepanjang jalan, Lila tidak berhenti menatap sekitar.

Kereta kuda. Toko roti kuno. Musik dari gramofon.

Semua terasa seperti film… tapi nyata.

“Kamu yakin nggak ingat apa-apa?” tanya Arga.

Lila menggeleng.

“Yang aku tahu… aku dari masa depan.”

Arga tertawa kecil.

“Kedengarannya gila.”

“Iya… aku juga ngerasa begitu.”

Malam itu, Arga menunjukkan sesuatu.

Sebuah buku tua.

Di dalamnya terdapat gambar jam yang sama persis dengan milik Lila.

“Legenda Jam Waktu,” kata Arga.

“Katanya, jam ini bisa membawa seseorang ke masa lalu atau masa depan.”

Lila menatap gambar itu lama.

“Kalau begitu… aku harus bisa kembali.”

Arga mengangguk.

“Tapi ada satu masalah.”

“Apa?”

“Orang yang terlalu lama di waktu yang bukan miliknya… bisa hilang.”

Lila membeku.

“Hilang?”

“Seperti… tidak pernah ada.”

Bab 4 – Kebenaran yang Terungkap

Keesokan harinya, mereka pergi ke rumah tua yang disebut dalam buku itu.

Rumah itu kosong.

Berdebu. Sunyi.

Namun di dalamnya… Lila menemukan sesuatu.

Sebuah foto.

Ia mengambilnya perlahan.

Dalam foto itu ada sebuah keluarga.

Dan seorang anak kecil.

Wajahnya…

Sama persis dengannya.

“Ini… mustahil…”

Arga menatap foto itu.

“Mungkin… kamu memang bagian dari masa ini.”

Lila menggeleng cepat.

“Enggak. Aku punya kehidupan di masa depan.”

“Tapi masa lalu juga bagian dari dirimu.”

Kata-kata itu membuat Lila terdiam.

Tiba-tiba—

Jam di tangannya bergetar.

Retakan kecil muncul di permukaannya.

Cahayanya tidak stabil.

“Kita kehabisan waktu,” kata Arga.

Bab 5 – Waktu yang Dipilih

Langit mulai gelap.

Angin berhembus kencang.

Lila berdiri di tengah jalan kota itu.

Jam di tangannya semakin retretakl

Ia menatap Arga.

“Aku harus pergi.”

Arga tersenyum, meski matanya sedih.

“Aku tahu.”

“Terima kasih…”

“Kalau ada kesempatan… kembali lagi.”

Lila mengangguk.

Dengan tangan gemetar, ia memutar jarum jam.

Cahaya menyilaukan muncul.

Dunia kembali berputar.

Dan

Ia kembali ke loteng.

Sunyi. Sepi.

Seolah semuanya hanya mimpi.

Namun jam di tangannya kini… mati.

Tidak berdetak lagi.

Lila turun perlahan.

Neneknya sudah menunggu di ruang tamu.

“Kamu akhirnya menemukannya,” kata nenek pelan.

Lila terdiam.

“Nenek… tahu?”

Nenek tersenyum.

“Karena dulu… nenek juga pernah menggunakannya.”

Air mata Lila jatuh.

Ia memeluk neneknya erat.

Saat itu ia sadar—

Waktu bukan untuk diulang.

Tapi untuk dihargai.