“IDIH! Apaan sih? Udah salah, nggak mau disalahin juga. Nggak sadar diri! Huff…” gumamku pelan namun penuh kekesal, kepada kakak laki-lakiku yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara.
Jengkel, Semalam kami bertengkar lagi. Kakak, yang tinggal serumah denganku, punya sifat yang keras kepala. Kadang terasa egois, terutama soal hal-hal kecil seperti makanan, atau sekadar harga diri yang ia junjung tinggi seolah tak bisa diganggu gugat.
Aku lelah mengalah, muak dengan sifatnya seperti menginginkan semua orang tau bahwa aku salah, dan tak pantas berada di sini, kita saling membenci meski terpaksa hidup di bawah atap yang sama.
Setelah perkelahian itu hanya keheningan yang tersisa diantara kita. Aku tak tahu apakah ia peduli, tapi aku tahu… aku sudah cukup mengalah.
“Ya sudah lah,” aku menghela nafas pelan “Kita cuma tumbuh di rumah yang sama. Nanti pun, kita akan menjalani hidup masing-masing.” batinku
Tetapi, di balik semua kekesalan itu, ada sesuatu yang sulit kujelaskan. Setiap kali kulihat punggungnya saat ia berangkat pergi, ada perasaan lain yang muncul semacam rindu, sedih, penasaran atau barangkali rasa sayang
Aku tahu, dia saudaraku. Meski kami sering bertengkar, aku tetap ingin ia bahagia.
Dan meski bibirku enggan berkata, dalam hati terdalamku sudah memaafkannya. Aku hanya berharap, suatu hari nanti ia sadar bahwa perilakunya membuatku tak nyaman, dan aku hanya ingin dia paham