“Dapaaa, kenapa bolanya dibiarkan lewat lagi?!!” teriakku dengan nada jengkel.
Tujuh kali berturut-turut bola voly lawan masuk karena Dafa nggak sigap menahan. Aku sampai tepuk jidat sendiri melihatnya cuma bengong.
Aku maju mendekat dengan wajah kesal.
“Kamu tuh lihat bolanya! Kalau main kayak gini terus, kita bisa kalah telak!”
Dafa hanya nyengir , lalu berkata pelan,
“Maaf, aku kurang cepat tanggap. Aku kira bolanya out.” ucap dafa
Ucapan itu malah bikin aku makin kesal. Aku menghela napas panjang, mencoba menahan emosi yang hampir meledak.
“Out apaan? Jelas-jelas masuk lapangan! Ayo fokus, Dap. Jangan bikin tim kita jadi ejekan.” ucap ku
Nada suaraku masih tinggi, tapi sebenarnya aku cuma nggak mau tim jadi berantakan.
Dafa menunduk, lalu mengangguk dengan wajah serius. Permainan pun dilanjutkan. Meski masih kesal, aku berharap kali ini dia bisa lebih sigap. Bagaimanapun juga, kalau satu orang lengah, seluruh tim yang kena akibatnya.
Permainan pun selesai, Dafa mengambil botol minum yang ia bawa, lalu memberikan kepadaku dan pemain lainnya.
Dafa menghampiriku…..
dan mengajakku salaman
“Maaf yaa, aku yang membuat tim kita kalah telak, soalnya aku gak bisa main voly” ucap dafa
“Santai aja dap, kamu harus berlatih lagi dan mempelajari lebih dalam mengenai olahraga voly” sahut aku
“Iya ‘ul, aku akan terus berlatih” ucap dafa
Suara adzan magrib berkumandang dari mushola..dan mereka bergegas pulang
“Ayo rek, aku pulang dulu yaa” ucap aku
“Iya ‘ul, hati hati di jalan” sahut Dafa
Mereka pun bubar, dan pulang ke rumah nya masing masi
ng…
Pertemanan mereka pun kembali baik