TUGU PELURU
Sebuah tugu berbentuk peluru yang dahulu tepat berada di perempatan jalan
raya Semambung Wonoayu Sidoarjo, akan tetapi saat ini posisinya telah
dipindahkan tepat dipinggir jalan disebelah Pasar Wonoayu. Siang itu, 22
Desember 1945, udara di kawasan Wonoayu terasa mencekam. Raungan mesin
kendaraan militer terdengar membelah kesunyian dari arah Sidoarjo. Dua kompi
pasukan Batalyon 1 Madras bagian dari Divisi Infanteri India ke-5 Inggris yang
terkenal dengan julukan Ball of Fire tengah bergerak cepat menuju Krian.
Misi utama mereka sebenarnya satu: menyisir wilayah tersebut untuk mencari
keberadaan seorang pilot pesawat Thunderbolt Sekutu bernama Davidson yang
dilaporkan tertembak jatuh di sekitar Jetis. Tanpa mereka sadari, gerakan
gerombolan tentara yang kerap dijuluki warga lokal sebagai pasukan "Gorga" itu
telah dipantau ketat oleh para pejuang Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Ketika iring-iringan Sekutu melintas di perempatan Semambung, Wonoayu,
letusan senjata mendadak memecah udara. Regu TKR melancarkan serangan
penyergapan yang sengit dari berbagai sudut. Pertempuran tak seimbang pun
pecah di tengah terik matahari.
Di bawah komando Kapten Herkamto, para pejuang bertaruh nyawa untuk
menghalau laju tentara Sekutu. Letnan Satu Soemardanoe, Letnan Dua M. Said
Ibneo, dan Prajurit Satu M. Ikwan berjuang tanpa gentar. Kendati berhasil
memberikan perlawanan keras hingga menahan laju Sekutu hingga malam hari,
takdir berkata lain. Keempat putra terbaik bangsa tersebut gugur di medan laga,
menyiramkan darah perjuangan di tanah Wonoayu.
Pasukan Sekutu yang berhasil meloloskan diri akhirnya melanjutkan perjalanan
ke perempatan Krian untuk berkonsolidasi, sebelum bergerak melakukan
pembersihan di Watutulis dan mencari sang pilot yang sebenarnya jatuh jauh di
Pringgodani, Balongbendo.
Pertempuran heroik yang puncaknya dikenang pada 24 Desember 1945 itu kini
terpatri abadi. Sebagai penghormatan atas pengorbanan mereka, sebuah
monumen berbentuk peluru didirikan tepat di persimpangan tempat mereka
bertempur. Walau kini posisinya telah digeser sedikit ke pinggir jalan di samping pasar wonoayu, prasasti dan tugu peluru tetap berdiri kokoh sampai saat ini
yang menolak tunduk pada kekuatan asing.Tugu Peluru di Wonoayu, Sidoarjo,
merupakan monumen penghormatan atas gugurnya 4 pejuang TKR (Kapten
Herkamto, Lettu Soemardanoe, Letda M. Said Ibneo, dan Pratu M. Ikwan) dalam
penyergapan terhadap pasukan Sekutu pada akhir Desember 1945.