Suara peluit satpam dan deru kendaraan bercampur di depan gerbang SMA Harutama. Langit berwarna biru muda, sedikit kabut sisa hujan semalam masih menggantung di antara pohon flamboyan. Daun-daun oranye basah menempel di sepatu siswa yang lewat tergesa.
Di antara kerumunan itu, Nara Pradana melangkah pelan. Rambutnya yang diikat asal tampak lembap, dan tangan kirinya memeluk buku sketsa besar. Ia bukan tipe yang suka menonjol—selalu datang tepat waktu, duduk di bangku tengah, dan lebih banyak mengamati daripada berbicara.
“Pagi, Na!” seru Risa, sahabatnya, sambil berlari kecil menyeberang halaman dengan roti di tangan.
Nara menoleh. “Pagi juga. Telat lagi, ya?”
“Telat? Enggak kok! Lima menit lagi bel.”
Risa mengedip, mengunyah cepat. “Eh, kamu udah denger? Katanya minggu depan ada lomba mural antar-kelas. Kamu harus ikut!”
Nara terkekeh pendek. “Aku nggak yakin. Lomba itu kan rame banget.”
“Justru karena rame, kamu harus ikut. Nggak bisa terus sembunyi di belakang kertas gambar,” goda Risa.
Mereka tertawa kecil sambil berjalan melewati taman kecil di depan aula. Di sanalah mereka berpapasan dengan Liam Darmawan, ketua OSIS kelas sebelas. Posturnya tegap, rambutnya rapi, dan suaranya selalu terdengar tenang.
“Pagi,” sapanya sambil menunduk ringan.
“Pagi, Kak Liam,” jawab Risa cepat, lalu berbisik ke Nara, “Tuh, ketemu idola sekolah.”
Nara hanya tersenyum kecil. “Dia cuma lewat, Ris.”
“Ah, kamu nih. Tapi serius, kalau Liam mau bantu, kita pasti menang muralnya,” gumam Risa sambil melambai ke arah senior itu, yang hanya membalas dengan senyum tipis sebelum berjalan pergi.
***
Bel masuk berbunyi tiga kali. Siswa berlarian ke kelas masing-masing.
Di kelas 10-B, suasana masih riuh. Nara duduk di tempat biasa, membuka buku catatannya. Beberapa menit kemudian, guru sejarah, Bu Ratna, masuk sambil membawa tumpukan peta kuno.
“Oke, anak-anak,” katanya sambil menepuk meja. “Hari ini kita mulai proyek kecil. Kalian akan membuat presentasi kelompok tentang masa pendudukan awal. Lima orang per kelompok, ya.”
Risa langsung menoleh ke Nara. “Kita bareng?”
“Iya, bareng.”
Dari belakang, suara lembut ikut menyela, “Boleh gabung? Aku belum punya kelompok.”
Mereka menoleh. Gadis itu tinggi, kulitnya agak pucat, rambut panjangnya disisir rapi.
Namanya Elira, siswi pindahan yang baru dua minggu masuk.
“Tentu,” jawab Risa ramah. “Makin banyak makin seru.”
Elira duduk di sebelah Nara dan membuka buku catatan bersampul hitam. “Aku bantu bagian penulisan, ya. Aku suka ngeringkas.”
“Cocok banget,” kata Risa. “Nara yang gambar peta, aku cari sumber.”
Guru menulis daftar tugas di papan, lalu meninggalkan mereka berdiskusi.
Mereka mulai menulis dan menggambar, sesekali bercanda kecil tentang betapa susahnya mengingat nama tokoh sejarah.
***
Waktu istirahat tiba. Di kantin, suasana seperti pasar mini—ramai, hangat, bau gorengan dan sosis bakar bercampur jadi satu.
Nara, Risa, dan Elira duduk di pojok dekat jendela.
“Kamu dulu sekolah di mana, Elira?” tanya Risa.
“Di luar kota. Tapi pindah karena orang tua kerja di sini,” jawab Elira sambil tersenyum sopan.
Risa mengangguk. “Adaptasi di sini gampang, kan?”
“Lumayan,” katanya. “Orangnya ramah-ramah.”
Nara memperhatikan dari sisi meja. Elira tampak pendiam, tapi tiap kalimatnya terdengar terukur, seperti tahu kapan harus berhenti bicara.
“Kalau kamu?” tanya Elira balik. “Suka gambar dari dulu?”
“Iya. Dari kecil,” jawab Nara singkat. “Aku suka diam-diam gambar orang di sekitar.”
“Wah, hati-hati,” goda Risa. “Nanti kamu gambar aku lagi ngunyah roti.”
Mereka bertiga tertawa.
Di luar, matahari sudah menembus awan, membuat cahaya jatuh di atas meja mereka.
Sekilas, semuanya terasa sederhana—tawa teman, bunyi sendok, teriakan penjaga kantin memanggil pelanggan.
***
Sore hari, sekolah mulai sepi.
Nara duduk di taman depan sambil menyalin sketsa untuk tugas mural.
Beberapa siswa lewat sambil menyapa; yang lain sudah terburu-buru pulang. Risa menunggu jemputan di gerbang, melambaikan tangan sebelum pergi.
“Jangan lembur gambar terus, Na!” teriaknya dari jauh. “Tidur juga!”
Nara tersenyum, melanjutkan goresannya.
Di halaman kertasnya tergambar potongan sekolah mereka—pohon flamboyan, gedung utama, dan beberapa siswa yang tampak samar.
Angin sore berhembus pelan, menggoyang rambutnya.
Lonceng tanda pulang sudah lama berhenti, tapi ia belum beranjak. Entah kenapa, Nara selalu suka momen sepi seperti ini, saat semua orang sudah pergi dan hanya ada suara burung dari kejauhan.
Ia menutup buku sketsa dan menatap langit yang mulai oranye.
Hari itu berakhir seperti hari sekolah pada umumnya:
tenang, biasa saja, tanpa kejutan.
Dan mungkin, itu yang paling ia sukai—
ketenangan tanpa alasan apa-apa.