Penulis: AISYAH SANIA RAMADHANI

Dukuh Martaningsih


Cahaya bulan menyinari sebuah benda kemudian memantul dan tidak sengaja tertangkap oleh ekor mataku. Benda itu tertutupi oleh daun-daun menjalar pada dinding gua. Benda itu seolah menari-nari memanggil diriku, dan entah mengapa kakiku spontan melangkah ke arahnya. Kusibak daun menjalar, ku tiup debu yang menempel hingga terlihat jelas benda yang sedari tadi menarik perhatianku. 

 

     Buku dengan sampul kuno yang mengkilat. Tertulis "Dukuh Martaningsih" Sebagai judul dengan gaya tegak bersambung khas kerajaan. Mungkin. Kini fokus ku teralihkan ke bagian bawah buku, cekungan kecil seukuran jari jempol dengan ukiran batik khas kerajaan Jawa melingkari cekungannya. Kucoba membuka pengait buku untuk melihat isi di dalamnya namun, buku itu terkunci rapat. Aku membolak-balik buku di genggamanku dengan heran, tak sengaja jempol kiri milikku menyentuh cekungan itu. 

 

BLAMP!! 

 

     Buku itu mengapung di udara dengan cahaya yang menyilaukan mata, sungguh terang. Hingga kemudian kepalaku terasa berputar dan dunia menjadi putih terang. 

 

                                ☆☆☆

 

     Pertengkaran hebat terjadi di Kerajaan Sinduredja. Ratu Wardani melarang putra satu-satunya untuk pergi menikahi Ningsih, anak dari dayang kerajaan. Pangeran bersikeras ingin menikahi Ningsih walau tanpa restu orangtuanya sekalipun. Pangeran Amartadja tetap pada pendiriannya dan pergi dari Kerajaan Sinduredja untuk memulai hidup baru bersama Ningsih. 

 

     Hari demi hari berganti. Amartadja dan Ningsih akan memiliki seorang anak. Amartadja kini bukanlah dianggap pangeran di desa tempatnya tinggal, melainkan hanya seorang petani biasa. Kehidupan Amartadja berubah drastis, namun ia bahagia karena adanya Ningsih dan calon anaknya yang akan segera lahir. 

 

     Berbeda dengan situasi di Kerajaan Sinduredja, Ratu Wardani masih belum rela putra satu-satunya menikah dengan gadis miskin. Ia memikirkan berbagai cara agar putranya kembali. Rencana buruk terbesit di kepala Ratu Wardani, ia memerintah prajuritnya mengirim makanan berisi racun untuk Ningsih. Ratu Wardani berpesan kepada prajuritnya untuk memastikan Ningsih berasa di rumah sendirian dan tidak ada pangeran. Prajurit yang tidak berani menolak permintaan ratu langsung menjalankan tugasnya. 

 

     Amartadja kembali dari ladang dengan peluh menetes dari dahi dan perut yang keroncongan. Amartadja melihat rantang di depan pintu rumahnya, dirinya bingung melihat rantang yang berisi lauk pauk yang lezat. Tanpa berpikir panjang Amartadja menyantap makanan tersebut dengan lahap. Perutnya seperti terbakar dan kepalanya terasa berat. Suara paraunya memanggil-manggil Ningsih. Ningsih yang mendengar panggilan suaminya dengan tergopoh-gopoh berlari keluar rumah, Ningsih memekik dan menangis histeris melihat suaminya tergeletak dengan wajah pucat dan mulut berbusa. Amartadja meninggal. 

 

     Beberapa minggu setelah kematian suaminya, Ningsih menulis surat kepada Ratu Wardani di Kerajaan Sinduredja. Ningsih mengabarkan bahwa putranya Amartadja mati karena ulah ratu sendiri. Ningsih begitu yakin bahwa makanan beracun itu pasti dikirim dari Kerajaan Sinduredja. 

 

     Ningsih tidak berlarut-larut dalam kesedihan, karena satu minggu selepas keeprgian suaminya bayinya lahir dan memerlukan ibu yang sehat untuk mengurusnya. Bayi itu terlahir normal tak kurang satu apapun. Kulitnya masih merah, tangan mungilnya meraba-raba udara, dan sesekali ia menangis meminta Asi. 

 

     Ningsih bangkit dalam keterpurukan. Ia mulai bekerja dengan keterampilan yang dimilikinya seperti membuat batik, bertani, dan berkebun. Ningsih melakukan hal bermanfaat guna melupakan kepergian suaminya. 

 

     Di Kerajaan Sinduredja Ratu Wardani terpukul membaca surat Ningsih. Ratu Wardani masih tidak bisa percaya berita itu. Ia terduduk lemas dan menangis. Sedetik kemudian dia tertawa terbahak-bahak, lalu menangis lagi. Akal sehatnya mulai hilang. Pengawal kerajaan berusaha menenangkannya namun gagal. 

 

     Bertahun-tahun kemudian, putra dari Ningsih dan almarhum suaminya Amartadja, duduk di singgasana Kerajaan Sinduredja. Setelah kematian Ratu Wardani hak penerus jatuh ke putra dari Amartadja, pangeran satu-satunya Kerajaan Sinduredja yang telah tiada. 

 

     Kerajaan Sinduredja berkembang pesat. Desa-desa disekitarnya semakin makmur terutama desa kelahirannya yang kini berubah nama menjadi "Dukuh Martaningsih" Sebagai bentuk terimakasih atas kedua orangtuanya. 

 

     Ningsih juga tetap tinggal di Dukuh Martaningsih. Ia mengembangkan hobinya dengan membuka tempat belajar bagi anak-anak di Dukuh Martaningsih. Batik-batik buatannya semakin indah dan terjual sampai ke Kerajaan-kerajaan lain. Namun, ada satu hobi spesial untuk mengenang suaminya, yaitu menulis. Ia menulis apapun tentang suaminya. Bagaimana rajinnya ia soal bekerja, dan seberapa besar cintanya. Semua hal ia curahkan dalam buku hariannya yang berjudul "Dukuh Martaningsih". Hingga beratus-ratus tahun kemudian buku itu ditemukan kembali. Oleh seseorang dengan jiwa yang sama, namun raga yang berbeda. Amartadja.

                               Tamat.