Penulis: Zafira Almaira Rahma Alamsyah

Cerpen–Sesal


 "Hai Dion, gimana jadi nanti sore kita nonton?" tanyanya dengan penuh semangat. 

 

"Maaf Kirana, tadi  aku lupa kasih tau kamu kalau ternyata aku ada undangan ultah temen SMA ku. Besok deh aku janji ganti waktu nonton nya, terserah kamu mau nonton dimana," ucapku penuh penyesalan karena sudah mengecewakan nya lagi.

 

"It's ok, tapi kayaknya besok aku yang ga bisa, kapan-kapan aja deh kalau kita sama-sama ada waktu luang. Bye... aku duluan ya..." Kemudian ia pergi tanpa menoleh ke arahku lagi.

 

Entah sudah berapa kali aku mengecewakan nya, menolak ajakan nya atau bahkan lupa menpati janji yang sudah kubuat sendiri. Padahal hari ini sebenarnya aku tidak ada undangan kemana-mana, itu semua hanya alasanku saja. Ada sedikit rasa sakit sebenarnya melihat ia sedih, tapi Aku tak mau hubungan persahabatanku dengan nya rusak jika kami terlalu dekat. Aku tau ia memiliki perasaan padaku, dan sebenarnya akupun juga memiliki perasaan yang sama, tapi kenapa rasa takutku lebih besar jika nama hubungan ini berubah dan akhirnya nanti kami berpisah hanya karena kata putus. Aku memang pengecut untuk mengakui semuanya.

Senin pagi aku bertemu dengan nya di kampus. Kebetulan kami memang kuliah di kampus yang sama, tapi kami mengambil jurusan yang berbeda. Kirana memilih jurusan Akuntansi, sedangkan aku mengambil jurusan Sosial Politik. Sekarang kami sedang berada di semester lima. Kami berkenalan pada saat acara Masa Orientasi Perkenalan Mahasiswa Baru. Dalam acara itu kami dibentuk menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari berbagai jurusan. Sejak saat itu kami berkenalan dan mulai akrab.

 

"Hai, kuliah pagi juga? Ada berapa mata kuliah hari ini?" tanyanya dengan senyum manis khasnya.

 

"Ada dua mata kuliah hari ini Ki. Kamu sendiri ada berapa mata kuliah hari ini?" tanyaku balik.

 

"Aku juga ada dua matkul hari ini." Udah sarapan belum kamu? Habis kuliah nanti aku mau makan di kantin, makan bareng yuk. Nanti kita ketemuan langsung di kantin aja. Aku juga ada yang mau kuceritain ke kamu," katanya.

 

"Oke, kita ketemu di kantin sekitar jam sebelas yah,"  jawabku.

Kuliahku sudah selesai, aku langsung menuju kantin untuk menemui Kirana sekaligus untuk makan karena memang dari tadi pagi aku belum sarapan. Sesampainya di kantin aku melihat sekeliling, namun tak nampak adanya Kirana dimanapun. Aku memutuskan memesan nasi campur lalu duduk di salah satu meja di bagian pojok dekat jendela. Kuambil handphone ku lalu kukirim WA kepada Kirana, bertanya Dia sedang ada dimana.

"Hai Ki, kamu lagi dimana? Ini aku sudah di kantin. Aku duduk di pojok dekat jendela nungguin kamu."

Tak berselang lama pesanku berubah centang biru. Lalu ada panggilan masuk darinya.

 

"Halo Dion, kamu sudah di kantin? Sorry sorry aku agak telat, ini tadi Aku barusan ketemu Kak Mahendra Ketua Himpunan ku sebentar. Habis ini aku kesana ya, tunggu aku," ucapnya cepat tanpa menunggu jawabanku dulu.

 

Sambil menunggu Kirana datang, aku memakan nasi campur yang sudah kupesan tadi. Dari kejauhan terlihat Kirana melambaikan tangannya. Dia pun segera berjalan dengan cepat menghampiriku.

 

"Dion... Maaf ya, sudah lama nunggunya?" tanyanya.

 

"Ngga Ki, ini juga baru mulai makan. Udah gih buruan pesen juga, kamu pasti belum sarapan juga kan dari tadi?" Aku melihatnya tersenyum nyengir ke arahku.

 

"Iya, Aku pesan dulu ya. Aku pengen banget makan Soto Daging ini. Tunggu ya," jawabnya ceria.

 

Tak berselang lama Dia kembali dengan membawa semangkuk soto daging dan segelas es jeruk kesukaanya. Dia pun lalu duduk di kursi depanku. Kami makan dengan posisi berhadap-hadapan.

 

"Mau cerita apa Ki? Tadi katanya mau cerita?" tanyaku padanya.

 

"Oh iya, ini aku mau cerita kalau Kak Mahendra kemarin nembak aku," jawabnya.

 

Aku hampir tersedak mendengar cerita Kirana, tapi aku langsung berusaha menutupi itu semua.

"Trus Kamu jawab apa saat Kak Mahendra nembak kamu?" tanyaku penasaran.

 

"Belum kujawab Dion, aku minta waktu buat mikir dulu. Ini tadi aku ketemu dia lagi tapi ya gitu kubilang tunggu dulu," katanya sambil mengaduk-aduk soto daging di depannya.

 

"Kenapa ngga kamu terima aja Ki? Kak Mahendra kan baik, ganteng, pinter, ketua himpunan juga. Kurang apa lagi coba?" tanyaku padanya.

 

"Ngga tau, aku saat ini ngga ada perasaan sama dia. Kamu kan tau hatiku ada di kamu. Tapi Kamu nya ngga mau sama aku, Kamu cuma nganggep aku temen aja, ngga lebih," jawabnya dengan sorot mata sedih.

 

"Aku ngga mau hubungan kita rusak nantinya Ki, kalau misal kita pacaran dan kita ada masalah lalu kita putus, kita pasti akan asing nanti, seperti orang yang tidak pernah saling kenal. Itu yang aku ngga mau."

 

"Ah itu kan hanya fikiranmu saja, orang kita juga belum pernah mencoba, kenapa kamu sudah menyimpulkan seperti itu?" Kirana menimpali apa yang sudah kuucapkan.

 

"Aku juga masih mau fokus dengan kuliahku, aku ingin bisa selesai tepat waktu, biar orang tuaku tidak kecewa. Akan lebih nyaman kalau Kita seperti ini saja. Kita bisa menjadi diri kita sendiri, kita bisa saling cerita, kita bisa saling bantu dan tentunya ngga akan timbul masalah yang biasa ada di hubungan orang yang lagi pacaran."

"Iya iya aku ngerti, udahlah ga usah dibahas lagi. Aku juga ngga bisa maksa kamu, just let it flow aja. Btw habis ini mau ngapain? Klo aku ada janji mau ke perpustakaan sama temen-temen ku," ucap Kirana kemudian.

 

"Aku habis ini mau langsung balik ke kos Ki, ada tugas yang harus aku kerjain, soalnya besok harus dikumpulkan," jawabku sambil menghabiskan suapan terakhirku.

 

"Oke oke, ini aku juga sudah selesai makannya, Aku cabut dulu ke perpustakaan ya, ga enak sudah ditunggu teman-teman. Bye Dion, sampai jumpa besok, "ucapnya sambil melambaikan tangan padaku.

 

"Bye..."

 

 

 

Jujur sebenarnya aku merasa sedih dan takut kalau Kirana sampai jadian dengan Kak Mahendra, tapi mau bagaimana lagi, aku sendiri juga tidak ada keinginan untuk mengubah status hubungan Kami menjadi pacar.

Dua minggu ini aku benar-benar disibukkan dengan tugas kuliah dan jadwal Ujian Akhir Semester, Kirana pun juga demikian. Hampir dua minggu ini kami tidak pernah bertemu, hanya saling sapa sekedarnya di Whatsapp saja. Rasa kangen ingin berjumpa dan ngobrol seperti biasanya menelusup dalam rongga dada. Rasanya berjauhan dengannya benar-benar membuatku gelisah dan selalu memikirkannya. Kurasa aku memang menginginkan dia tidak hanya sebagai teman tetapi lebih dari itu, aku menginginkannya menjadi pasangan. Kurasa aku harus mengajaknya bertemu besok. Malam ini aku akan menelponya.

 

"Halo Ki, lagi ngapain? Lagi sibuk ngga?"

 

"Hai Dion, lama banget ga telpon, kita juga udah lama ngga ketemu. Ehm, lagi di kos aja nih sambil baca novel. Btw ada apa?"

 

"Ayok kita makan siang bareng habis pulang kuliah besok, makan mi ayam favoritmu deket kampus," ajakku padanya.

 

"Oke, eh besok aku mau bilang and cerita sesuatu ke Kamu," ucapnya.

 

"Oke, sampai ketemu besok yah Ki, Bye... "

 Hari ini aku akan menemui Kirana. Aku mematut diriku di depan kaca, kupastikan bahwa hari ini aku tampil baik dan rapi di depan Kirana. Kukenakan baju terbaikku, aku ingin terlihat sempurna saat aku akan mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya nanti di depannya.

Kami janjian di dekat tempat parkir kampus, setelah kuliah selesai kami bertemu di sana dan pergi bersama ke tempat makan favoritnya.

 

"Hai Dion," teriaknya sambil berjalan cepat menghampiriku. 

 

"Hai Ki, yuk buruan kita ke sana, takut kehabisan nanti." Kuajak Kirana untuk segera berangkat.

 

Sesampainya  di rumah makan, kami lalu memesan dua mangkuk mi dan dua es jeruk. Kami lalu duduk di pojok dekat jendela, sehingga angin dari luar masih bisa terasa sejuknya. Sudut ini memang favorit kami saat kami makan di sini.

Pesanan kami sudah datang, kami mulai menyantap mie ayam yang sudah kami pesan.

 

"Ki, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucapku padanya. 

 

"Eh, mau ngomong apa? Tapi aku mau cerita dulu nih. Gapapa ya aku cerita dulu?" tanyanya padaku.

 

"Ok, cerita aja Ki," jawabku padanya.

 

"Ehmmm... Dion, akhirnya aku menerima Kak Mahendra kemarin. Selama dua minggu ini dia begitu gigih untuk mendapatkan hatiku. Jadi akhirnya aku terima saja. Aku akan mencoba menjalaninya, sepertinya dia pria yang tulus dan baik. Dan semoga dengan ini juga aku bisa pelan-pelan melupakanmu."

 

Perkataan Kirana seolah seperti sembilu yang menghujam jantungku, aku terdiam tak bisa berkata-berkata. Bukan salahnya jika pada akhirnya dia menerima cinta Kak Mahendra, tapi salahku yang selama ini terlalu lama menyia-nyiakannya dan membuatnya menunggu.

 

"Dion, hei kenapa kamu diam saja? Aku ingin kamu tahu yang pertama kali berita ini karena kamu teman baikku. Apa kamu senang mendengarnya? Oiya, kamu tadi mau bilang apa? Kok jadi aku sendiri yang asyik cerita."

 

"Ehm... ngga ada apa-apa Ki, kok aku jadi lupa mau bilang apa karena asyik mendengar ceritamu. Semoga kamu bahagia ya sama Kak Mahendra," ucapku padanya.

 

"Iya, makasih ya Dion."

 

"Sama-sama Ki, udah buruan dihabisin. Habis ini aku harus balik kampus untuk menemui Pak Andi dosenku."

 

"Ok ok, ini sudah mau habis. Ayok balik. Aku juga habis ini mau ketemu Kak Mahendra di kampus."

 

Aku mengantar Kirana ke jurusannya sedang aku langsung kembali, bukan ke jurusanku tapi langsung kembali ke kos. Menemui dosen hanya kujadikan sebagai alasan saja.

 

Di kos aku hanya bisa terdiam, merutuki kebodohanku selama ini, kenapa aku sudah menyia-nyiakan gadis sebaik dan setulus Kirana. Hanya penyesalan yang tersisa, karena aku sudah kehilangannya.