Livia Laurent sedang menyetrika seragam cowok saat hidupnya resmi berubah arah. Kemeja putih itu terlalu besar, lengannya jatuh sampai pergelangan tangan. Celana hitamnya membuatnya terlihat seperti anak SMP yang salah ambil ukuran. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya sudah dipotong pendek. Dadanya dibalut ketat. Wajahnya polos tanpa makeup. Kalau tidak diperhatikan lama-lama, dia benar-benar terlihat seperti remaja laki-laki kurus.
Masalahnya, dia bukan.
Dan hari ini dia akan masuk Akademi Saint Verdan—sekolah elit khusus cowok yang biaya tahunannya cukup untuk membeli apartemen kecil. Semua ini terjadi karena kakaknya, Lucien, menghilang dua hari sebelum keberangkatan. Di meja makan, ibunya bicara dengan suara tegang. “Livia… kita tidak bisa kehilangan kesempatan ini. Saint Verdan tidak menerima penolakan.” Ayahnya hanya diam. Tatapannya berat.
Lucien adalah kebanggaan keluarga. Anak jenius. Atlet. Sempurna. Dan sekarang… kabur.
Livia menghela napas panjang. “Baik,” katanya akhirnya. “Aku yang pergi.” Sunyi memenuhi ruangan. Sendok jatuh dari tangan ibunya. “Kamu yakin?” tanya sang ibu pelan. “Lucien dan aku kembar,” jawab Livia. “Kita bisa pura-pura sakit tenggorokan. Aku tidak banyak bicara. Tidak ada yang akan sadar.”
Keputusan paling bodoh dalam hidupnya. Dan dia tetap melakukannya.
Perjalanan dengan kereta menuju Saint Verdan terasa seperti menuju hukuman mati. Asrama sekolah berdiri megah di atas bukit batu. Bangunannya seperti kastil tua dengan jendela tinggi dan dinding abu-abu. Semua murid yang turun membawa koper mahal dan aura keluarga kaya. Livia menunduk. Jangan bicara. Jangan menarik perhatian. Bertahan hidup.
Seorang cowok tinggi berambut pirang menyenggol bahunya. “Anak baru?” katanya santai. Livia mengangguk. “Nama?” Dia menelan ludah. “Lucien, Lucien Laurent.” Nama kakaknya terasa asing di lidahnya. Cowok itu menyeringai. “Gue Noah. Selamat datang di neraka sosial.” Hebat! Bahkan sambutannya menyeramkan.
Livia berjalan bersama Noah menuju kamar asrama yang sudah ditentukan oleh pihak sekolah saat pengumuman murid baru. Asrama kamar 3B diisi empat orang, setelah masuk ke kamar Noah langsung melempar tasnya ke kasur. “Itu Matteo,” katanya menunjuk cowok di pojok yang sedang membaca buku setelah membuka pintu kamar. “Itu Adrien. Seriusan deh, dia tuh kayak robot gegara belajar mulu kerjaannya. Jangan ajak dia bicara sebelum jam sepuluh pagi ya.” Adrien bahkan tidak menoleh.
Matteo menutup bukunya perlahan dan menatap Livia. Tatapan itu tajam. Mengukur, seolah dia langsung tahu. “Kamu aneh,” katanya datar. Jantung Livia berhenti. Noah tertawa. “Dia bilang itu ke semua orang.” Matteo tetap menatapnya beberapa detik terlalu lama, lalu kembali membaca. Livia baru sadar dia menahan napas. Hari pertama belum mulai, dan dia sudah hampir ketahuan.
Malamnya, Livia berbaring kaku di kasur. Suara cowok-cowok bercanda di lorong. Bau parfum maskulin di kamarnya. Dunia yang bukan miliknya. Lalu ponselnya bergetar saat Livia melamun. Dan itu dari... Lucien. Tentu saja.

Livia mengubur wajah ke bantal. Kalau dia selamat setahun ini, itu akan jadi mukjizat.
Di seberang kamar, Matteo membuka mata. Dia menatap langit-langit. Lalu pelan berkata, “Lucien… ya?” Seolah mengingat sesuatu. Seolah mencurigai sesuatu.
Dan Livia tidak tahu — permainan ini baru saja dimulai.