Penulis: Fanessyah Arista Viona

Lampu Yang Selalu Menyala


Lampu ruang makan menyala redup, memantulkan bayangan di dinding rumah sederhana keluarga Pak Damar. Hujan rintik turun sejak sore, membuat udara terasa dingin. Dari dapur, aroma sayur bening dan tempe goreng buatan Bu Sari perlahan memenuhi rumah. Meski sederhana, masakan itu selalu terasa istimewa karena dibuat dengan penuh cinta.

Pak Damar melangkah masuk sambil meletakkan tas kerjanya di kursi. Wajahnya tampak lelah setelah seharian bekerja, tetapi rasa lelah itu sedikit hilang ketika mendengar suara anak-anaknya. Raka, anak sulungnya, sedang mengerjakan tugas sekolah di meja makan dengan wajah serius. Sementara itu, adiknya, Lina, duduk di lantai sambil bermain boneka dan sesekali bersenandung pelan.

“Sudah lapar, Yah?” tanya Bu Sari sambil tersenyum.

“Iya, tapi lebih kangen makan bareng,” jawab Pak Damar ringan.

Mereka pun berkumpul di meja makan. Raka mulai bercerita tentang tugas sekolah yang sulit, terutama pelajaran matematika yang membuatnya hampir menyerah. Pak Damar mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu memberi nasihat agar Raka tidak mudah putus asa. Bu Sari menambahkan semangat dengan menyentuh bahu anaknya, membuat Raka merasa lebih tenang.

Lina ikut berbicara dengan ceria, menceritakan pengalamannya di sekolah saat ia berani maju ke depan kelas untuk bernyanyi. Semua tertawa mendengar caranya bercerita yang polos. Suasana makan malam menjadi hangat, dipenuhi tawa dan rasa syukur.

Setelah makan, listrik sempat padam sejenak. Lampu ruang makan mati, membuat Lina sedikit takut. Pak Damar segera menyalakan lilin dan menenangkannya. Dalam cahaya lilin yang lembut, mereka duduk berdekatan. Bu Sari mengajak anak-anak berdoa bersama, mengucap syukur atas hari yang telah dilalui.

Tak lama kemudian, lampu menyala kembali. Namun kehangatan di ruang makan itu tidak pernah padam. Dari kebersamaan sederhana, mereka belajar bahwa keluarga adalah tempat untuk berbagi cerita, menguatkan hati, dan menemukan kebahagiaan yang paling tulus.