“Cnkk! Kenapa nama dia selalu berputar-putar di otakku?!” Ucapku geram.
Di otakku satu nama selalu memenuhi pikiranku, entah karena apa aku selalu memikirkan namanya. Nama dari teman masa kecilku, yang kini sudah tak mau ku anggap teman karena perilakunya yang membuatku benci.
“Ahhh, aku benci! Padahal aku sudah mencoba untuk melupakan dia.” Ucapku yang masih geram.
“Keenan, kenapa aku masih mengingat dia.. “ Lirih ku.
“Huft.. Biarlah, aku tak peduli, yang terpenting, aku sudah berusaha melupakan dia.” Aku terlihat sangat gusar.
Keenan, satu nama itu yang sedari tadi berputar di kepalaku. Mengapa aku memikirkannya? Itu kan yang sedari tadi ditanyakan. Jadi, ia adalah anak dari salah satu teman bundaku semasa di sekolah menengah atas. Aku sudah mengenalnya lama, dan mungkin aku sedikit tertarik dengannya.
“Kenapa masih memikirkan dia sih?? Padahal aku sudah mencoba untuk memikirkan tugas - tugas yang sama menyebalkan seperti dia.” Aku membanting semua buku tugasku di kasur.
“Lebih baik aku makan saja, sedari tadi perutku bunyi.” Ucapku saat mendengar kembali suara perutku yang berbunyi.
Aku melangkah menuju pintu kamarku, samar samar namun terdengar suara orang yang tak jauh di balik pintu. Aku tak memperdulikan itu, aku tetap melangkah membuka kenop pintu. Namun, saat sudah berada di tengah pintu yang terbuka, aku melihat satu hal yang membuatku mengurungkan niat untuk makan. Aku kembali masuk dan menutup pintu dengan kencang.
BRAK!
“Sial! Kenapa dia malah bertamu ke sini? Ahh, pasti setelah ini bunda menyuruhnya untuk memanggil ku dan mengajar aku pergi ke taman.” Ujarku, entah mengapa aku kembali geram.
“Sudah ke sekian kalinya hal seperti ini terjadi. Aku sudah muak!” Aku kini sangat kesal dan sangat malas meski hanya sekedar melihat muka nya itu.
Benar saja, seusai aku mengatakan hal itu, pintu kamarku di ketuk oleh seseorang. Terdengar suara laki-laki di depan pintu ini yang tengah memanggilku.
Tok
Tok
Tok
“Natha!” Panggilnya dari luar, aku sungguh mengenali suara itu.
Dengan enggan, aku membuka pintu kamar, yang langsung memperlihatkan tubuh miliknya dengan balutan kaus putih dan celana berwarna hitam, serta jaket kulit hitam yang hanya ia sampirkan di bahunya.
“Na-” Ucapnya terpotong oleh ucapanku.
“Kenapa? Di suruh ibun manggil aku?” Tanyaku dengan nada yang tak santai.
“Bukan, aku yang minta izin ke ibun buat ajak kamu cari makan.” Ucapnya kelewat santai.
“Cnk, aku udah kenyang, aku mau lanjut ngerjain tuga-” Hal yang paling memalukan terjadi padaku saat berbicara. Perutku kembali berbunyi.
“SIALLL! KENAPA BUNYI DI WAKTU YANG TIDAK TEPAT?” Teriak ku dalam hati.
Aku mendongak perlahan menatap Keenan, wajahnya yang sedang menahan tawa itu ingin sekali aku pukul dengan keras. Menyebalkan sekali menertawakanku saat perutku berbunyi!
“Hei, laper ya?” Tanyanya yang terkesan mengejek ku.
Aku menatapnya garang, tetapi ia malah tertawa terbahak-bahak. Membuatku semakin di buat kesal. Andai aku laki-laki pasti pukulan ku dapat membuatnya bungkam.
“Iya! Kenapa?!” Ucapku sarkas.
“Pft! Tadi katanya kenyang.” Ucap Keenan yang masih saja mengejek ku.
“KEENN!” Teriakkk seraya memukuli badannya.
“Udah ah, ngga sakit, ayo cari makan.” Ujar Keenan, ia mengambil kardigan milikku yang tersampir di gantungan samping pintu.
Aku hanya diam melihat itu, sedangkan dia yang melihatku hanya diam, menghembuskan napas nya.
“Ayo, malah melamun.” Ucap Keenan seraya menarik tanganku.
Aku terkejut saat ia menarik tanganku. Setelah itu aku menghempaskan genggaman tangan nya. Apakah ia tidak sadar dengan penampilan ku yang seperti orang depresi ini? Rambut ku yang tercepol, baju ku yang sudah kusut, serta wajahku yang belepotan terkena cat air saat aku mengerjakan tugas.
“Kalau mau ajak orang keluar, lihat dulu penampilannya! Aku yang jelek kaya gini mau di ajak keluar?!” Sergakku.
“Cuci muka dulu nath, rambutnya gitu aja ngga apa apa, pakai kardigan juga kan bisa nutupin bajunya.” Ucapnya.
“Hm.” Aku hanya menuruti ucapannya.
Akhirnya aku dan dia pergi keluar untuk mencari makan serta aku yang mencari bahan-bahan untuk tugas. Dan ada satu hal yang sangat ingin ku bicarakan, saat sedang makan, aku bertanya padanya.
“Keen.” Panggil ku.
“Hm?” Keenan hanya berdehem untuk membalas panggilan dariku.
“Kamu ada hubungan apa sama Naiyza?” Tanya ku padanya.
“Hah? Naiyza ya, kita deket sih, tapi ngga ada hubungan.” Mendengar itu, entah mengapa aku merasa tidak terima.
“Tapi ya, dia doang yang deketin aku, aku cuman anggap dia teman kok, Nath. Lagian aku juga engga mungkin suka dia, aku masih bisa jaga hati buat orang yang aku suka.” Ucapnya lagi.
Mendengar itu, semakin tidak terima lagi diriku. Ahh, sungguh gundah perasaanku kini. Aku tidak ingin dia bersama orang lain, tetapi ia menyukai orang lain. Aku harus apa? Aku tak bisa menentang mengenai orang yang sangat ia sukai.
"Nath! Kenapa diam?" Panggil Keenan pada ku.
Ah, rupanya dia menyadari ke-terdiamanku. Aku harus dengan cepat mengelak, dan aku harus menggunakan kata yang cocok, agar ia tak curiga.
"Aku lagi menikmati makananku, jadi aku diam untuk merasakan bumbu bumbu yang digunakan untuk masakan ini. " Elakku dengan cepat. Tak lupa aku menatap matanya. Agar ia percaya dengan ucapanku baru saja.
Keenan menatap penuh selidik, namun dengan cepat aku berkata lagi.
"Kenapa sih? Curiga banget ke aku?" Begitulah kata-kata yang tiba-tiba terucap dari bibirku.
"Ah, enggak. Cuman tumben aja gitu kamu diam. Biasanya juga cerewet." Mendengar itu, aku melotot. Kesal dengan apa yang di ucapkan.
Meski yang diucapkan olehnya benar, tapi kenapa aku tiba-tiba tak terima dengan apa yang diucapkan Keenan padahal itu adalah fakta. Entah, aku sendiri juga tak tahu.
"Akh, iya maaf, jangan dicubit, sakit." Ringisnya pada saat aku mencubit pinggangnya.
"Makanya! Kalau ngomong jangan asal." Gertak ku dengan nada berbisik.
Dia hanya tersenyum. Kenapa dia malah tersenyum? Padahal aku sedang marah padanya. Tak peduli, aku tak peduli dengan nya. Yang terpenting aku harus menghabiskan makanan milikku yang masih banyak.
Bahkan punya Keenan hampir habis, namun punya ku malah keterbalikannya. Aku pun berusaha memakan makanan milikku dengan cepat. Hingga-
Uhukk
Uhukk
Aku tersedak kuah makanan ku. Aku menepuk bicep Keenan. Meminta air minum, agar rasa sakit di tenggorokan ku cepat mereda.
Keenan yang peka langsung saja mengambilkan aku minum. Ia menepuk pelan tengkuk leherku seusai aku minum.
"Jangan buru-buru. Nggak akan aku tinggal. Nikmatin aja makannya." Ucapnya pelan.
"Biar kamu nggak nunggu lama, Keen. Uhuk." Aku terbatuk lagi. Rasa sakit di tenggorokan ku masih terasa.
"Kan. Mau udahan aja makannya? Dibungkus aja ya? Nanti di makan di rumah lagi." Aku menatap manik nya. Dapat aku tebak dari sirat nya. Ia tengah khawatir pada ku.
Ia tiba-tiba berseru kecil.
"E-eh, kenapa nangis?!" Serunya.
Rupanya mataku yang sudah berkaca-kaca sedari tersedak tadi. Semakin berkaca-kaca saat melihat manik khawatirnya. Hingga membuat aku tak dapat menahan bendungan air mata ku.
"Keen.." Lirih ku.
"Kenapa? Kenapa Natha?" Sahutnya cepat.
"Jangan punya pacar dulu ya? Aku masih mau habisin waktu ku sama kamu." Ucapku dengan nada yang masih lirih.
"Hei? Buat apa aku pacaran? Orang yang aku suka aja, gamau pacaran. Lagian aku juga ngga mau pacaran." Ujarnya, berusaha menenangkanku.
Jujur saja aku menyesal. Seharusnya aku bangga memiliki teman seperti Keenan. Aku salah telah membencinya. Huh. Apakah aku harus memaafkan dia? Apakah aku harus sama seperti Tuhan yang maha pemaaf? Tapi perilakunya membuat ku benci tadi. Namun, sepertinya aku memang harus memaafkan dia. Bukan tanpa alasan. Hanya ingin menjalin hubungan yang baik saja dengan nya. Tidak tahu keesokannya. Manusia bisa merubah keputusannya. Jadi, aku tak tahu harus memilih keputusan yang mana. Lihat saja besok. Kalau dia masih ingin berteman dengan ku ya sudah. Dan jika dia menjauh juga ya sudah. Aku masih memiliki banyak teman di luar sana.