Pagi ini di stasiun kota, lina duduk di bangku peron sambil memegang beberapa bungkus roti. ia menghampiri seorang tunawisma tua.
“Pak, ini rotinya. Bapak belum makan kan?” tanyanya lembut.
pak Jaya tersenyum lemah “Terima kasih nak. semoga rezekimu lancar”
dari kejauhan, reno memperhatikan dengan wajah tidak suka
“Hei, jangan biasakan mereka di sini! Ini stasiun bukan tempat tinggal!” bentaknya.
lina menoleh. “Mas, mereka juga manusia. saya cuma berbagi makan.”
reno mendengus “Kalau tempat ini kotor, siapa yang disalahkan? Saya!”
Tiba-tiba pak Jaya limbung dan jatuh terduduk. “Pak! Bapak kenapa?” seru Lina sambil berlutut.
reno mendekat dengan kesal. “Ah, pura-pura lagi supaya dikasih uang!” katanya sambil menarik lengan Pak Jaya
lina menahan tangan Reno “Mas lihat dulu! nafasnya sesak!”
reno membalas “Saya sibuk Mbak, penumpang bisa komplain!”
beberapa orang mulai memperhatikan. “Tolong, ada yang bisa panggil petugas?” teriak Lina.
reno masih bersungut, “kalau atasan saya lihat ini, saya bisa kena marah.”
Suasana menjadi tegang, suara kereta dan langkah kaki bercampur dengan bisik-bisik penumpang.
Pak Surya, kepala keamanan datang dan bertanya “Ada apa ini?”
Lina menjawab cepat “Pak, beliau pingsan, Tolong panggil medis”
pak surya menoleh ke reno, “reno, lepaskan. Kita bantu dulu.”
reno terdiam lalu membantu mengangkat pak jaya. Saat petugas medis datang, pak jaya dibawa ke klinik stasiun.
reno menghela napas dan berkata pelan pada lina, “Maaf… saya kira dia cuma cari-cari alasan”
lina tersenyum tipis “Tidak apa-apa mas, yang penting kita menolong”
pak surya menutup kejadian itu dengan tenang “Ingat, kerja kita bukan cuma soal aturan, tapi juga soal hati.”