Penulis: Malika Arsy Raihanun

Cinta Di Masa Putih Biru


 

Pagi itu, Senin pukul 06.45, halaman SMP Nusantara dipenuhi siswa baru berseragam putih biru. Alya, siswi kelas 7H, berdiri gugup di depan kelas. Ini adalah hari pertamanya masuk SMP. Ia dikenal sebagai anak yang pendiam, sopan, dan rajin belajar.

Di bangku dekat jendela, Alya berkenalan dengan Raka, siswa pindahan yang ramah dan selalu tersenyum. Raka sering membantu Alya memahami pelajaran dan menemaninya saat jam istirahat. Kebersamaan yang sederhana itu perlahan menumbuhkan rasa nyaman di hati Alya.

Namun, kehadiran Dion, teman sekelas mereka, membuat suasana berubah. Dion bersifat sombong dan suka mengejek Raka karena dekat dengan Alya. Ia sering menyebarkan gosip dan membuat Alya ragu pada perasaannya sendiri. Sikap Dion membuat Alya sedih, tetapi Raka memilih tetap tenang dan tidak membalas perlakuan buruk tersebut.

Hari demi hari berlalu. Suatu sore di perpustakaan sekolah, Raka berkata bahwa ia senang berteman dengan Alya dan berharap mereka bisa saling menyemangati dalam belajar. Alya pun menyadari bahwa perasaan di masa putih biru bukanlah tentang pacaran, melainkan tentang dukungan dan semangat untuk menjadi lebih baik.

Menjelang akhir semester, Dion menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Alya belajar bahwa bersikap jujur dan sabar jauh lebih penting daripada mengikuti emosi. Masa putih biru itu pun menjadi kenangan indah yang penuh pelajaran.

 

Amanat / Pesan Moral

Cinta di masa putih biru sebaiknya dijalani dengan sikap saling menghargai, tidak berlebihan, dan tetap mengutamakan pendidikan. Rasa suka yang tulus akan membawa kebaikan jika disertai sikap dewasa dan tanggung jawab.