Penulis: adinda kyla aurelia sabita

bab 1


Pagi itu, minggu pukul 06.00 udara di sekitar gor serbaguna kota jaya masih terasa sejuk, para peserta kejuaraan karate tingkat pelajar mulai berdatangan. Di salah satu sudut gor xera siswi kelas IX SMP sedang merapikan sabuk cokelatnya sambil menarik napas dalam-dalam.

‎Xera adalah tokoh utama dalam cerita ini. Ia memiliki watak disiplin, tekun, pantang menyerah, dan rendah hati. Sejak kelas VII, xera rutin berlatih karate di dojo setiap sore. Meski sering pulang menjelang magrib dan tubuhnya lelah ia tidak pernah mengeluh.

‎“Xer, kamu siap?” tanya bima, sahabatnya yang setia menemani sejak latihan hingga hari pertandingan.

‎xera tersenyum tipis

‎“Deg-degan sih, tapi aku siap.”

‎bima mengangguk yakin

‎“Kamu sudah latihan keras, tinggal percaya diri.”

‎Tak lama kemudian, pelatih xera mendekat.

‎“Ingat, xera,” ujar pelatih, “jangan terpancing emosi. Fokus, atur napas, dan mainkan strategi.”

‎“Iya, Sensei,” jawab xera sopan.

‎Di sisi lain gor terlihat Fatma, atlet karate dari sekolah lain. Fatma adalah tokoh antagonis dalam cerita ini. Ia dikenal memiliki kemampuan bagus, tetapi wataknya sombong, percaya diri berlebihan, dan suka meremehkan lawan.

‎“Dia lawan kita nanti? yang pakai sabuk cokelat?” bisik Fatma pada temannya.

‎“Iya” jawab temanya.

‎“Hah, tubuhnya kecil begitu. Mudah dikalahkan,” kata Fatma sambil tersenyum mengejek.

‎Xera mendengar ucapan itu tetapi ia memilih diam dan tetap melakukan pemanasan. Ia hanya menunduk dan kembali melakukan pemanasan.

‎Pertandingan dimulai pukul 09.00, xera berhasil melewati babak penyisihan dengan cukup baik meski sempat ragu di awal, ia mampu mengendalikan diri dan mengikuti arahan pelatih.

‎“Ayo, Xer! Kamu bisa!” teriak Bima dari tribun.

‎Menjelang pukul 11.30, xera masuk ke babak final. Lawan terakhirnya adalah Fatma Suasana gor semakin tegang. Penonton mulai memadati tribun. 

‎Sebelum pertandingan dimulai, Fatma mendekati xera.

‎“Semoga kamu kuat sampai akhir,” katanya dengan nada meremehkan.

‎xera menatapnya singkat lalu menjawab,

‎“Aku ke sini buat bertanding, bukan buat pamer.”

‎Peluit berbunyi, Pertandingan berlangsung sengit. Fatma menyerang dengan cepat dan agresif sementara xera tetap tenang dan bermain dengan perhitungan. Beberapa kali Xera hampir kehilangan poin, tetapi ia mampu bertahan.

‎“Fokus, xera… jangan panik,” bisiknya dalam hati.

‎Di detik-detik terakhir, xera melihat celah dan melancarkan serangan yang bersih serta tepat sasaran, Peluit panjang berbunyi menandakan pertandingan berakhir.

‎Wasit mengangkat tangan xera sebagai pemenang.

‎Bima langsung berlari menghampiri xera.

‎“Keren banget, xer! Kamu menang!” katanya antusias.

‎Fatma terdiam sesaat, lalu menghampiri xera.

‎“Aku kalah,” ucapnya pelan. “Maaf, aku terlalu percaya diri.”

‎Xera menjabat tangan fatma.

‎“Terima kasih, Pertandingan tadi seru." jawabnya tulus.

‎Sore hari, pukul 15.30 xera berdiri di podium dengan medali emas di lehernya. Ia tersenyum bangga, bukan karena mengalahkan lawan tetapi karena berhasil mengalahkan rasa gugup dan tetap percaya pada proses latihannya.