Penulis: Risma Aprilia Dwi Riswanda

Tawa Di Jalan sore


Sore itu, sekitar pukul lima, langit Desa Suka Maju berwarna jingga keemasan. Jalan raya yang membelah sawah mulai ramai oleh kendaraan yang pulang kerja. Rani duduk di belakang motor sambil memeluk tas kecilnya. Ia adalah tokoh utama dalam cerita ini—gadis remaja yang ceria, hangat, dan sangat menyayangi keluarganya. Di depan, kakaknya, Dita, mengendarai motor dengan hati-hati. Dita dikenal tenang dan bertanggung jawab, sementara Ibu duduk paling belakang membawa dua kantong belanjaan dari pasar.

“Rani, pegangannya yang kuat, ya. Jalannya agak ramai,” kata Dita sambil menurunkan kecepatan.

“Iya, Kak. Santai aja, kita nggak buru-buru,” jawab Rani sambil tertawa kecil.

Angin sore berembus lembut. Rani menoleh ke samping dan melihat sawah yang mulai menguning. Hatinya terasa senang. Ia suka momen seperti ini—pulang bersama keluarga setelah hari yang melelahkan.

“Ibu capek nggak?” tanya Rani.

Ibu tersenyum. “Capek sedikit, tapi senang. Apalagi pulangnya bareng kalian.”

Motor sempat berhenti karena lampu merah. Rani melihat Dita mengecek spion dengan teliti. “Kak, tadi di pasar ramai banget ya?” tanyanya lagi.

“Ramai, tapi seru. Banyak jajanan,” jawab Dita. “Besok kita bikin pisang goreng dari pisang yang Ibu beli.”

“Ih, asyik!” seru Rani.

Lampu hijau menyala, motor kembali melaju. Di tengah perjalanan, Rani tertawa saat angin membuat rambutnya berantakan. “Kak, rambutku kayak singa,” katanya bercanda.

Dita ikut tertawa. “Makanya pakai jaket yang rapi.”

Tak terasa, mereka sampai di rumah menjelang magrib. Setelah memarkir motor, Rani segera membantu Ibu membawa belanjaan ke dapur. Dita menyiapkan air minum.

“Terima kasih, ya,” kata Ibu lembut. “Keluarga kita memang sederhana, tapi Ibu bahagia.”

Rani tersenyum dan memeluk Ibu. “Aku juga, Bu. Pulang bareng kayak gini rasanya hangat.”

Malam itu mereka makan bersama sambil bercerita tentang hari masing-masing. Tawa kecil memenuhi dapur. Bagi Rani, momen sederhana di jalan sore dan meja makan itu adalah kesenangan yang tak akan ia lupakan.

Kesenangan dalam keluarga tidak selalu datang dari hal besar, tetapi dari kebersamaan, perhatian, dan kehangatan yang tercipta saat saling menemani dalam kehidupan sehari-hari.