Kita berenam, tak sengaja disatukan,
Di kelas yang dulu asing dan diam,
Dulu kita bertemu di bangku awal,
Masih canggung, tertawa pun malu-malu.
Tapi waktu mengikat seperti tali,
Tawa mulai tumbuh pelan-pelan,
Hari-hari menjadi lebih terang,
Kini berenam, kita tak bisa dipisah waktu.
Ada tawa yang pernah pecah di kantin,
Rahasia kecil yang hanya kita tahu,
Langkah-langkah di lorong sekolah ini,
Menjadi saksi betapa eratnya tali itu.
Kita bukan sempurna, kadang berbeda,
Ada marah, kecewa, dan diam membeku,
Tapi selalu ada yang mengalah,
Saling merangkul meski tak selalu setuju.
Kini kita di kelas sembilan,
Langkah makin cepat, waktu makin singkat.
Sebentar lagi, kelulusan menanti,
Dengan ujian, mimpi, dan sedikit ketakutan pergi.
Kelulusan masih beberapa halaman lagi,
Tapi bayangannya sudah menyapa hati.
Akankah kita tetap berenam, seperti dulu?
Ataukah jalan memisahkan arah itu?
Ada canda yang ingin kita ulang,
Ada janji yang belum sempat dipegang.
Tapi waktu tidak bisa ditahan,
Ia akan terus berjalan, tanpa ampun.
Meski nanti kita tak lagi sekelas,
Tak duduk bersama di jam istirahat,
Persahabatan ini tak akan retas—
Ia tinggal di hati, erat, tak lekas tamat.
Untuk kita berenam,
Semoga langkahmu tetap berani,
Dan saat kita mengenang hari ini,
Ada senyum, bukan tangis yang menyertai.
Untuk kita berenam,
Semoga langkahmu selalu ringan,
Dan di mana pun nanti berpijak,
Kenangan ini tak akan hilang.