“ckkk! aku ini punya hubungan sama adiknya atau abangnya sih?”
Angkasa, cinta pertama ku yang selalu aku jadikan rumah untuk berpulang, tetapi tidak selalu membuatku nyaman. Bukan karnanya, tetapi karna abang nya.
Aku tidak tau mengapa, Abang dari angkasa selalu ingin ikut serta dalam hubunganku dan angkasa. Aku sangat sangat tidak nyaman dengan yang namanya hubungan di setir keluarga.
Angkasa sebenarnya sudah mengusahakan untuk membuat Abang nya jauh dari hubungan kita berdua, tetapi semua tidak ada hasil, dia yang se akan akan ingin hubunganku ini selesai akan terus kembali membuat masalah.
“SEBENERNYA KAMU ITU SIAP NGEJALIN HUBUNGAN GA SI SA?” teriak ku di hadapan angkasa di taman yang sepi, hanya di temani oleh rintikan hujan yang semakin lama membasahi kedua nya.
Angkasa yang merenung dan juga bingung untuk menjawab nya, sontak menarik tubuh kekasihnya itu yang tidak hanya di basahi oleh air hujan, tetapi juga dengan air mata yang juga membasahi tubuh nya.
Angkasa memeluk tubuh yang bergetar terisak-isak karna nya, hati nya sakit saat melihat orang yang ia cintai, menangis karna ulah nya.
“maaf..” ucap angkasa dengan nada lemas, serta air mata nya yang jatuh, tidak bisa ia tahan lagi.
Aku yang tidak bisa membohongi diriku sendiri ketika mendapati angkasa yang memelukku, aku merasa nyaman, bohong jika aku risih dengan hal tersebut.
“Aku tau kok sa, abang kamu itu lebih pantas menjadi prioritas kamu daripada aku, tapi setidaknya jangan karna omongan yang dia buat, kamu jadi langsung ga percaya sama aku tanpa dengerin penjelasan aku dulu” ucap ku di sela sela isakan tangis.
“maaf rin.. kamu boleh pukul aku, tapi tolong jangan nangis lagi, aku gakuat liat nya” ujar angkasa yang tidak berani menatap mataku.
“sa, aku mau kita selesai.” setelah mengucapkan kalimat tersebut, tubuhku kembali bergetar, aku tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan, aku merasa diriku hilang kendali.
Hati ku sakit melihat angkasa yang sudah pasrah dengan keputusan yang aku buat, saat aku hendak pergi, angkasa menahan tangan ku.
“Rin, aku pastikan kamu yang terakhir, kalo bukan kamu, aku ga bakal sama siapapun” ujar angkasa dengan menatap mataku dengan tatapan dalam penuh arti.
Ucapan tersebut terlalu sakit untuk terlintas di telingaku, aku berlari di tengah hujan dengan menangis, tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Orang yang aku anggap rumah sekarang sudah tidak ada, tidak ada lagi yang bisa mendengarkan cerita keseharian ku.
“aku harap, aku mengambil langkah yang benar” ucapku di tengah hujan.
*keesokan harinya di sekolah
Seperti tidak biasanya, aku dan angkasa bertemu di koridor sekolah, kita sama sama tidak ingin menatap satu sama lain sedikitpun, seperti orang yang di pernah kenal sebelumnya.
“berbahagia lah, Angkasa Arcelino” ucap batinku.
Semenjak kejadian hari itu, aku dan Angkasa sudah tidak pernah berkomunikasi kembali, bahkan hanya sekedar tegur sapa pun tidak pernah.
*3 tahun berlalu
Aku sudah beranjak ke kelas 11, dan selama 3 tahun ini aku benar benar tidak menjalin hubungan dengan siapapun, entah mengapa hatiku tidak bisa terbuka kembali untuk orang baru, dan masih menyimpan orang yang sama.
Benar, dia adalah Angkasa Arcelino. Walaupun aku tidak pernah bertemu nya lagi setelah kelulusan, tapi hatiku bahkan enggan untuk melupakan seseorang yang pernah bersinggah di dalam nya selama hampir 4 tahun.
*skip saat pulang sekolah
Saat aku pulang sekolah dan mampir ke supermarket untuk membeli beberapa makanan, tetapi entah mengapa dunia sedang berpihak kepada ku atau justru kebalikannya.
Aku bertemu seseorang yang sangat tidak asing bagiku, dia cinta pertamaku, aku terkejut saat melihatnya, tidak di sangka dunia ternyata masih memberi ruang untuk kita berdua di pertemukan kembali.
Tetapi sama saja, aku dan Angkasa ingin fokus ke diri kita sendiri, tanpa melibatkan seorang kekasih di hidup nya.
Angkasa sempat menatapku begitu dalam, raut wajahnya sama seperti saat di taman 3 tahun lalu, tangan ku bergetar, aku hampir saja menangis di supermarket.
Aku sudah berusaha memalingkan pandangan agar tidak menatap wajah nya, aku tidak mau kembali melihat wajahnya, terlalu sakit jika di ingat, aku hanya berharap dia selalu bahagia serta menemukan pasangan hidupnya dan aku juga berharap, aku segera melupakannya.
Wanita mana yang tidak lemah jika bertemu dengan cinta lama nya, dan mereka berakhir dengan alasan yang sebenarnya tidak di sebabkan oleh keduanya?
Aku yang tidak mau terlalu lama dekat dengan nya, memutuskan untuk segera keluar dari supermarket itu, sampai aku lupa tujuan utamaku adalah membeli makanan.
*sesampainya di rumah
“aku harus lupain angkasa, masa kita udah berakhir Karin, kamu jangan sampai masuk ke kehidupan dia lagi!” tegas ku kepada diriku sendiri.
Setelah hari itu berlalu, aku sudah benar-benar memutuskan untuk pergi jauh dari kehidupan Angkasa, aku tidak mau lagi berurusan dengan nya, bahkan saat melihatnya, aku pasti langsung pergi dari tempat itu.
Aku juga berusaha untuk membuka hati untuk seseorang yang memang pantas untuk masuk, aku akan mulai semua dari awal, mencari cinta yang layak untuk aku perjuangkan.