Aku masih ingat hari ketika nenekku tiba-tiba jatuh sakit. Saat itu aku masih SD, dan kabar bahwa nenek dibawa ke rumah sakit membuatku sangat kaget. Aku ikut ibu menjenguknya. Di sana, nenek tampak lemah dengan selang infus di tangannya, tapi ia tetap tersenyum saat melihatku. Tetangga yang membantu menjaga nenek berkata bahwa sakit nenek sempat kambuh meski sudah diberi makan dan obat.
Beberapa hari kemudian, nenek diperbolehkan pulang, namun masih harus berbaring karena tubuhnya sangat lemas. Ibu memilih tidak bekerja demi merawat nenek di rumah. Aku setiap hari duduk di samping nenek dan bercerita agar nenek tidak merasa sendiri.

Hingga suatu siang, sepulang sekolah, aku melihat banyak tetangga berkumpul di depan rumah. Aku masuk dengan bingung, lalu menuju kamar nenek. Di sana, nenek berbaring dengan kaki yang sudah dingin. Aku belum mengerti apa yang terjadi. Tetanggaku menepuk bahuku dan berkata, “Ayo, Nak… doakan nenekmu.”
Aku memegang tangan nenek dan berdoa sambil menangis. Perlahan, napas nenek menjadi semakin pelan hingga akhirnya berhenti. Saat itu, aku sadar bahwa nenek telah pergi selamanya. Tidak ada lagi yang menyiapkan sarapan saat ibu terburu-buru bekerja, tidak ada lagi yang menemaniku pulang sekolah.
Sampai sekarang, aku masih merindukan kasih sayang nenek, masakannya, dan semua momen kecil yang dulu terasa biasa,namun kini sangat berarti.
