Penulis: Adela Firdatul Husna

Bab 1


Langit sore itu memerah, seolah menyimpan sesuatu yang tidak mereka berani ucapkan. Lira duduk di bangku taman sekolah, memainkan ujung lengan seragamnya. Arga berdiri beberapa langkah di belakang, ragu untuk mendekat.

 

“Kamu nunggu aku?” tanya Arga pelan.

 

Lira mengangguk tanpa menatap. “Iya… cuma pengen ngobrol sebentar.”

 

Arga duduk di sebelahnya, tapi menyisakan jarak kecil. “Kedengarannya serius.”

 

Lira menarik napas panjang. “Ga… kenapa sih perasaan itu harus datang ke orang yang nggak seharusnya?”

 

Arga terdiam. Ia tahu arah pembicaraan ini, tapi tetap berharap Lira tidak menyebutkannya.

 

“Maksudmu?”

 

Lira tersenyum kecil, pahit. “Aku tahu kita nggak bisa sama. Aku dengan keyakinanku, kamu dengan keyakinanmu. Tapi tetap aja… hatiku nggak mau berhenti.”

 

Arga menunduk, memegang jemarinya sendiri yang dingin.

“Kamu kira aku nggak ngerasain hal yang sama?”

 

Lira menatapnya, kaget.

“Kamu… juga?”

 

Arga mengangguk pelan.

“Aku cuma takut kamu menjauh kalau aku jujur.”

 

Keheningan jatuh di antara mereka. Bukan karena tidak tahu harus berkata apa, tapi karena mereka sama-sama tahu kata apa pun tidak bisa mengubah keadaan.

 

“Kita mau gimana?” tanya Lira lirih.

 

Arga menatap langit yang berwarna jingga.

“Aku nggak mau maksa apa pun. Tapi kalau kamu izinkan… biarin aku tetap ada di dekat kamu. Meski kita nggak punya nama buat hubungan ini.”

 

Lira menahan air mata.

“Cuma itu yang bisa kita lakuin, ya?”

 

Arga mengangguk lagi.

“Untuk sekarang… iya.”

 

Lira menatap langit yang sama. Dua warna berbeda yang akhirnya bertemu di cakrawala.

 

“Antara langitmu dan langitku,” gumamnya, “ternyata ada tempat kecil buat kita.”

 

Arga tersenyum tipis.

“Selama kamu di situ… aku juga.”

 

Dan di bawah langit yang berbeda, mereka menyimpan harapan yang sama—harapan yang hanya berani hidup dalam diam.