Pagi itu, udara masih terasa segar. Embun di dedaunan belum sepenuhnya mengering, dan sinar matahari baru saja muncul dari ufuk timur. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok bersahut-sahutan, menandakan hari baru telah dimulai. Aku membawa sebuah layang-layang berbentuk burung garuda berwarna kuning cerah menuju lapangan dekat rumah.
Lapangan itu luas dan dikelilingi pepohonan. Angin pagi berhembus lembut, membuat suasana semakin nyaman. Aku mulai berlari kecil sambil menarik benang layang-layangku. Awalnya, layang-layang itu sempat oleng ke kiri dan kanan, namun perlahan ia mulai terangkat tinggi ke langit biru. Aku tersenyum senang melihat layang-layangku melayang bebas, seakan-akan sedang menari mengikuti arah angin.
Tak lama kemudian, beberapa temanku datang membawa layang-layang mereka. Ada yang berbentuk naga, kupu-kupu, bahkan ada yang sederhana hanya berbentuk belah ketupat. Kami saling beradu, siapa yang bisa menerbangkan layang-layang paling tinggi. Suara tawa kami bercampur dengan semilir angin membuat suasana pagi itu terasa hidup dan penuh keceriaan.
Ketika benang semakin panjang, aku menatap langit dengan perasaan bangga. Layang-layangku terlihat kecil di atas sana, namun tetap gagah melawan angin. Sesekali aku harus menarik benang dengan hati-hati agar tidak putus.
Pagi itu benar-benar menjadi momen yang indah. Bermain layang-layang tidak hanya membuat tubuhku bergerak dan bersemangat, tapi juga menghadirkan kebahagiaan bersama teman-teman. Aku merasa pagi yang sederhana bisa berubah menjadi kenangan yang berharga hanya dengan selembar layang-layang yang menari di angkasa.